Umat Hindu Tengger Doakan Pagebluk Segera Berakhir * Perayaan Yadnya Kasada di Gunung Bromo

Reporter : Didik Nurhadi - klikjatim.com

Salahsatu prosesi perayaan Yadnya Kasada di Gunung Bromo yang tahun ini hanya dilakukan khusus suku Tengger. (dok/liputan6)

KLIKJATIM.Com | Probolinggo – Ratusan umat Hindu suku Tengger di lereng Gunung Bromo mendoakan pagebluk (bencana) penyakit Covid-19 segera berakhir. Mereka terus mendoakan kebaikan dalam perayaan upacara Yadnya Kasada pada Senin hingga Selasa (7/7/2020) dini hari.

BACA JUGA :  Dua Bulan, 49 Jaringan Listrik Padam Akibat Layang-layang

Kendati tidak dihadiri ribuan wisatawan yang biasa mengikuti upacara, namun tampak jelas kekhidmatan perayaan Yadnya Kasada tahun ini lebih sakral. Sebab, mereka yang boleh turun di kaldera lautan pasir, pura dan lereng gunung hanya suku Tengger yang mengikuti perayaan. Sementara wisatawan, termasuk pejabat dinas instansi, media dan wisatawan dilarang ikut naik ke kawah.

Upacara Yadnya Kasada di Pura Luhur Poten Lautan Pasir Bromo, berlangsung lebih sederhana dan tertutup. Tidak ada hiruk pikuk suara knalpot, atau ingar bingar musik. Ritual keagamaan di Pura Luhur Poten pun berlangsung tertutup. Hanya warga Suku tengger dari empat Kabupaten sekitar lereng Bromo yang boleh masuk.

Sayup suara mantra dan gamelan dari dalam pura, menjadi terasa lebih sakral. Suasana semacam ini, terbilang pertama kali terjadi, setidaknya sejak puluhan tahun silam. Ketika Kawasan Gunung Bromo belum menjadi jujukan wisata.

BACA JUGA :  Air Asia Layani 3 Penerbangan Rapatriasi ke Filipina

“Ada baiknya pandemi corona ini. Walaupun tadi di Pura kami diperiksa secara ketat. Mulai dari suhu, masker, dan cuci tangan. Tapi membuat Yadnya Kasada semakin khidmat dan terasa sakralnya,” kata salah satu warga Tengger Kabupaten Pasuruan, Jariyadi.

Sebenranya animo warga Tengger pada perayaan Yadnya Kasada kali ini juga tinggi. Terbukti dari gelombang kedatangan warga yang tak putus, sejak Selasa dini hari. Mereka berduyun-duyun mengikuti ritual melarung sesaji ke Kawah Gunung Bromo atau warga sekitar menyebutnya sebagai Tandur Tuwuh untuk nenek moyang.

Ketua Paruman Dukun Tengger, Sutomo menyebut, jauh sebelum ditetapkan sebagai destinasi wisata internasional, warga Tengger sejatinya sudah biasa dengan perayaan Yadnya Kasada tanpa wisatawan. “Ini mengingatkan kembali pada masa dahulu. Justru lebih khidmat dan khusyuk memang,” seakan menegaskan perasaan warga.

Sebagaimana harapan sebelumnya, dengan perayaan Yadnya Kasada tahun ini, segala macam hal buruk segera hilang. Salah satunya adalah pandemi corona, atau disebut sebagai ‘pagebluk’ oleh warga Suku Tengger. “Dalam perayaan ini kami juga berdoa, agar semua hal buruk yang tidak nampak itu segera hilang. Bagaimana caranya, yakni mengadu pada yang tidak nampak pula, Sang Hyang Widi,” pungkas Sutomo. (hen)