Tradisi Gulat Okol, Anak-anak hingga Perempuan Ikut Bertanding di Atas Ring

Reporter : Muhammad Khoirur Rosyid - klikjatim.com

peserta gulat okol perempuan saat bertanding di atas ring. (Miftahul Faiz/klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Gresik—Olahraga trasdisional gulat okol masih dilestarikan warga Desa Pengalangan, Kecamatan Menganti, Gresik. Olahraga yang mengndalkan kekuatan otot dan tubuh ini ramai setiap tahunnya menjadi tontonan warga.

Minggu (29/9/2019) pemerintah desa setempat menggelar pertandingan gulat okol itu. Semua usia diperbolehkan mengikuti pertandingan yang telah disiapkan ring untuk bertanding.

Warga cukup antusias bertanding di ring. Ada gulat anak-anak, ada juga perempuan lawan perempuan. Peserta tampak semangat saling beradu kekuatan di atas ring. Sementara penonton yang berjubel di sekitar ring terus berteriak memberikan dukungan.

BACA JUGA :  Segera Berlakukan Tilang Online, Pemkab Tulungagung Anggarkan Rp 1,2 Milliar untuk Pengadaan Satu Titik ETLE

Shelly (17), meski bukan warga asli desa setempat, nekat mengikuti pertandingan yang digelar setiap tahun itu. Setelah mengenakan selendang yang wajibkan panitian untuk dipakai, perempuan asal Sawo Bringin, Surabaya itu naik ke atas untuk bergulat. Sayangnya, Shelly hanya bermain imbang dengan lawannya.

“Sangat menghibur, meski hasilnya imbang,” katanya.

Eny (40) warga Sememi, Benowo, Surabaya, juga ikut tampil bergulat. Eny termasuk salahsatu peserta yang beruntung bisa memanangkan pertandingan gulat itu.

“Alhamdulillah menang dapat Uang 150,” kata Eny dengan sumringah.

Wongso Negoro, selaku panitia pelaksana menjelaskan, pertandingan gulat okol ini bukan untuk permusuhan. Selain sebagai olahraga, kata Wongso, gulat okol ini juga untuk melestarikan budaya lelehur di Desa Pengalangan.

“Gulat okol bukan untuk mencari musuh. Ini olahraga, kesenian sekalian melestarikan budaya leluhur,” kata Wongso yang juga anggota DPRD Gresik.

BACA JUGA :  Polisi Nganjuk Bantu Percepat Pembagian Bansos PPKM Darurat

Menurut Wongso, setiap tahun gulat okol ini digelar oleh pemerintah desa dan tokoh masyarakat. Panitian memberikan aturan dan persyaratan sebelum peserta bertanding. Yang menang juga akan diberikan imbalan hadiah.

“Semua masyarakat bebas mengikuti, anak-anak akan dilawankan dengan anak-anak juga. Perempuan dengan perempuan, laki-laki juga melawan laki-laki,” jelas Wongso.

Tradisi gulat okol ini juga membuat Wakil Ketua DPRD Gresik, Nur Hamim penasaran ikut menyaksikan. Menurut Nur Hamim, budaya masyarakat seperti gulat okol ini perlu terus dilestarikan.

“Acaranya sangat menarik dan ramai. Perlu terus didukung pemerintah untuk dilestarikan,” kata politisi Partai Golkar itu. (iz/mkr)