Terkendala PPKM, Pembebasan Lahan TPST di Pulau Bawean Masih Tahap Sosialisasi

Reporter : Miftahul Faiz - klikjatim.com

KLIKJATIM.Com | Gresik — Tindak lanjut pembebasan lahan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di Pulau Bawean sudah tahapan sosialisasi dan prosentase publik masyarakat Pulau Bawean. Jika warga sekitar dan publik menerima, maka akan dilanjutkanke tahap pembelian lahan.

BACA JUGA :  Pertamina Beber Empat Tantangan Kelola Pertashop di Hadapan Komisi VII DPR RI

Kepala Dinas Pertanahan Kabupaten Gresik Sutaji Rudy mengatakan, pihaknya akan melakukan sosialisasi kepada Kepala Desa setempat yang akan dibuat pembebasan lahan di Pulau Bawean.

”Diupayakan tahun ini lahan sudah terbeli, sekarang administrasi perencanaan sudah selesai, selanjutnya pihak kepala desa yang akan koordinasi kepada warga yang tanahnya akan dibeli dibuat waris, karena ada pemilik sertifikat tanah yang sudah almarhum. Setelah itu kita koordinasi dengan Kepala Desa setempat beserta warga sekitar, boleh tidak dibangun TPST, kalau boleh kita lanjut, kalau tidak kita pindah, karena harus ada persetujuan masyarakat dulu dengan mencantumkan surat pernyataan dari warga,” paparnya.

Rencana akhir bulan akan ke Bawean tapi dalam kondisi PPKM masih terkendala. Dalam rencana, menurutnya ada dua pembebasan lahan di Pulau Bawean di Desa Daun dan Desa Diponggo.

”Kita utamakan di Desa Daun, selain di Desa Diponggo juga ada pembasan lahan di Desa Klompang Gubuk,” ujarnya, Jumat (30/7/2021).

Sedangkan luas tanah yang akan dibebaskan di Desa Daun seluas 1 hektar lebih, di Desa Diponggo seluas 4.000 meter lebih.

Anggota DPRD dapil Bawean Bustami Hazim mengatakan, pihaknya juga akan melakukan evaluasi triwulan pembebasan lahan di Bawean .

”Bulan Agustus ini akan dilakukan rapat evaluasi triwulan,” imbuhnya.

Salah satu tokoh pemuda Bawean Mohet mempertanyakan tentang perkembangan Tpst di Pulau Bawean. Karena selama ini belum ada tindak lanjut dari Dinas terkait untuk pembebasan lahan.

”Ini terbuka atau tertutup, kalau terbuka pasti akan banyak warga menolak. Karena kebanyakan di Bawean sampah kimia yang membahayakan,” tegasnya. (bro)