Terjun dari Jembatan Setinggi 10 Meter, Pelajar di Mojokerto Tak Sedikit Pun Luka

Reporter : Tsabit Mantovani - klikjatim.com

KLIKJATIM.Com | Mojokerto—Seorang pelajar perempuan di Kota Mojokerto mencoba bunuh diri dengan lompat dari Jembatan Rejoto setinggi 10 meter, Minggu (25/10/2020). Meksi begitu, pelajar perempuan tersebut selamat dan tanpa luka sedikitpun.

BACA JUGA :  Ada Dugaan Kuat Pembunuhan Sebab Meninggalnya Takmir Masjid di Gresik

Pelajar perempuan ini inisial DF (18), siswa kelas XII SMA swasta di Mojokerto. Selama ini dia tinggal bersama pakdenya di wilayah Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Ayah kandungnya telah tiada. Sementara ibunya telah lama merantau ke Medan, Sumatera telah menikah dan berkeluarga.

DF jalan-jalan seorang diri setelah belajar di rumah sekitar pukul 18.20 WIB. Dia mengendarai sepeda motor Honda BeAT warna merah putih nopol S 4175 TI. Setelah berkeliling tanpa tujuan, dia berhenti di atas Jembatan Rejoto.

Sekitar pukul 18.45 WIB dia sampai di Jembatan Rejoto. DF sempat teleponan dengan seseorang, namun belum dikatahui siapa. Setelah itu, dimasukkan ke jok sepeda motor. Sekitar pukul 19.00 WIB Minggu (25/10/2020), dia naik pembatas jembatan dan terjun ke sungai.

“Melihat ada yang jatuh ke sungai seorang penjual pentol di sekitar Jembatan Rejoto Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon, berteriak meminta pertolongan. Para pengguna jalan kemudia berdatangan membantu,” kata Kapolsek Prajurit Kulon, Kompol M Sulkan, Senin (26/10/2020).

Beruntung pelajar SMA swasta di Kota Mojokerto itu jatuh ke tanaman kangkung di bawah Jembatan Rejoto. Sehingga dia tidak tenggelam maupun hanyut di Sungai Ngotok.

“Saat dievakuasi warga dan para relawan, korban sempat pingsan. Dia dibawa ke RSUD Dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto,” terangnya.

Pelajar ini kembali pulih setelah dirawat di rumah sakit. Dia diizinkan pulang karena tidak terluka meski terjun dari ketinggian sekitar 10 meter.

“Tadi dicek tidak ada luka sama sekali. Sekarang sudah pulang,” ujar Sulkan.

Sulkan mengatakan hingga kini pelajar SMA itu belum bisa dimintai keterangan. Namun, pihaknya menggali informasi dari keluarganya jika remaja itu diangkat sebagai anak oleh pakdenya sejak berusia 6 tahun.

“Kalau keterangan keluarganya, anak itu ngambekan. Dinasihati sedikit oleh bapak angkatnya, ngambek,” katanya.

Terakhir kali dinasihati bapak angkatnya saat ingin tinggal bersama ibunya di Medan. Pelajar kelas XII SMA swasta di Kota Mojokerto itu dilarang hidup bersama ibunya karena sejumlah pertimbangan.

“Ceritanya dia ingin pulang ke ibunya di Medan, tapi ibunya sudah kawin lagi mempunyai banyak anak, faktor ekonomi juga,” terang Sulkan. (hen)