Tarif Tertinggi Rapid Tes Ditetapkan Rp 150 Ribu, Klinik Parahita Gresik Tak Nurut

Reporter : Miftahul Faiz - klikjatim.com

Para peserta rapid tes di Klinik Parahita Jalan Panglima Sudirman, Gresik. (Miftahul Faiz/klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Gresik – Pemerintah pusat melalui Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menetapkan, batas biaya tarif tertinggi rapid tes antibody adalah Rp 150 ribu. Keputusan itu tertuang dalam Surat Edara (SE) Nomor HK.02.02/I/2875/2020 tentang Batasan Tarif Tertinggi Rapid Test Antibodi dan mulai diberlakukan per 6 Juli 2020.

Namun dari penelusuran klikjatim.com pada Jumat (10/7/2020), ternyata masih ada klinik yang mengabaikan edaran tentang batasan tarif rapid tes antibodi tersebut di Kabupaten Gresik. Tepatnya di Klinik Parahita.

Evan, salah satu pelajar mengaku terpaksa merogoh kocek Rp 199 ribu untuk melakukan rapid tes di Klinik Parahita, yang beralamat di Jalan Panglima Sudirman Gresik. “Iya Rp 199 ribu, ini masih nunggu hasil,” ujar santri yang hendak kembali ke pondok pesantren (Ponpes) itu, Jumat.

Informasi yang dihimpun, ternyata biaya rapid tes yang banderol Rp 199 ribu itu bukan merupakan harga tertinggi di Klinik Parahita. Selain untuk kelas mahasiswa, pihak klinik menyediakan harga berbeda bagi kalangan umum sebesar Rp 390 ribu selama masa promo per tanggal 1 Juli 2020 sampai 13 Juli 2020.

BACA JUGA :  Rekom PDIP di Pilwali Surabaya, Ada Whisnu Sakti, Mbak Puti Atau Dyah Katarina

Dan mengenai besaran tarif rapid tes di atas Rp 150 ribu ini juga dibenarkan oleh salah satu petugas bagian pelayanan di klinik setempat, Heru Setiawan. Tapi, pihaknya tidak berwenang terkait penentuan tarif.

“Itu urusan supervisor, kalau mau tanya-tanya lebih belum bisa karena ini masih sibuk mas,” lanjutnya.

Dikonfirmasi terpisah, Direktur Utama (Dirut) RSUD Ibnu Sina, dr. Endang Puspitowati mengaku sudah menerima surat edaran tentang batasan biaya tarif tertinggi rapid tes antibody tersebut. Pihaknya juga sudah mulai memberlakukan dengan memesan rapid tes yang lebih murah dari kementerian.

“Jadi sebelum adanya SE itu kami memesan rapid tes dengan harga Rp 180 ribu dari pusat, dan sekarang kami ingin mengambil stok rapid dengan harga murah,” katanya kepada klikjatim.com.

BACA JUGA :  Masjid Boleh Gelar Salat Jumat, Khutbah dan Dzikir Harus Dipercepat

Menurutnya, selama ini di RSUD Ibnu Sina hanya menyediakan rapid tes untuk pasien dan permintaan perusahaan yang sudah bekerja sama. “Sedangkan untuk mandiri bisa dilakukan di Puskesmas setempat atau klinik di daerah masing-masing,” ungkapnya.

Selain itu, pihaknya sekarang juga mempersiapkan polymerase chain reaction (PCR) pemeriksaan laboratorium. Alat ini digunakan untuk mendeteksi keberadaan material genetik PCR Swab bagi masyarakat.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Gresik, drg. Saifudin Ghozali belum dapat memberikan keterangan terkait masih adanya klinik, yang mengabaikan SE Kemenkes tentang batasan biaya tarif tertinggi rapid tes antibodi. Ketika dihubungi melalui sambungan selulernya hanya berdering tanpa ada jawaban.

“Saya masih sibuk,” jawabnya singkat melalui pesan WhatsApp yang diterima klikjatim.com. (nul)