Tantangan di Era Digitalisasi, Orang Tua Harus Bisa Edukasi Anak Remajanya

Reporter : M. Shohibul Anwar - klikjatim.com

Ketua TP PKK Provinsi Jatim, Arumi Bachsin Emil Dardak. (ist)

KLIKJATIM.Com | Surabaya – Pentingnya pemberian edukasi terkait reproduksi dan pola komunikasi orang tua dengan anak remaja harus terus digaungkan. Karena pola tersebut akan menjadi salah satu alternatif yang sangat penting dalam membentuk dan membangun hubungan antara orang tua dengan anak remaja.

BACA JUGA :  Petrokimia Gresik dan Polowijo Gosari Indonesia Sepakat Kaji Pendirian Pabrik Pupuk Kieserite

“Pola komunikasi efektif antara anak yang berusia remaja dan orang tua harus terjalin. Pendekatan melalui keluarga atau orang tua bagi remaja dapat menjadi salah satu alternatif mewujudkan pola komunikasi secara efektif, mengingat orang tua memiliki otoritas bagi anak remaja,” ujar Ketua TP PKK Provinsi Jatim, Arumi Bachsin Emil Dardak saat membuka Workshop Program 1001 Cara Bicara yang diinisiasi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Jatim di Hotel Dafam, Surabaya, Kamis (22/4/2021).

Kata Arumi, di zaman yang serba digital membuat para orang tua memiliki tantangan dari dunia maya. Pasalnya pergaulan anak menjadi tidak terbatasi dan berhadapan dengan teknologi yang tidak kasat mata.

Meski sulit, tapi pendampingan orang tua kepada anak remaja harus tetap terjalin. Hal itu juga untuk mencegah gagalnya orang tua mendampingi anak remaja.

“Sedangkan kita tidak bisa membatasi anak kita untuk tidak boleh berselancar di dunia maya. Oleh karenanya, pentingnya edukasi dari dalam (keluarga) harus ditingkatkan. Apalagi jika punya anak perempuan, penting sekali untuk diberikan edukasi soal reproduksi. Karena sangat memungkinkan zaman ini anak-anak kita memperoleh ilmu tentang reproduksi dengan sangat mudah di internet,” imbaunya.

Bunda Generasi Remaja (Genre) Jatim itu pun memberikan arahan, terkait bagaimana orang tua bisa menjadi pendengar yang baik bagi anak remajanya. “Kita sebagai orang tua itu harus memiliki kemampuan mendengar yang baik. Tapi bukan hanya sekadar mendengar, tapi juga merespon dengan anggukan atau perhatian ketika anak ini berbicara,” katanya.

“Saya paham kalau mungkin orang tua berfikiran anak saya cepat sekali tumbuhnya, namun sebagai orang tua kita harus menghargai setiap perkembangan anak sebagai sosok individu calon dewasa dan masih perlu pendampingan terkait pertumbuhan mentalnya,” imbuhnya.

Arumi juga menekankan soal pentingnya penghargaan dan dukungan orang tua dalam setiap proses perkembangan mereka. Dirinya menyebut, bahwa berbagai pendekatan juga harus dilakukan untuk memperlakukan remaja sesuai usia mereka.

“Pendekatan itu harus dari mana mana. Pertama dari orang tua, untuk memfasilitasi anak remaja serta mempersiapkan diri menghadapi anak remaja. Kedua, melalui teman sebaya, karena lingkungan anak juga akan membentuk anak kita seperti apa,” jelasnya.

Sementara Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jatim, Sukaryo Teguh Santoso mengatakan, generasi remaja sekarang merupakan generasi yang sangat kritis, bebas dan mandiri. Tentunya, pembentukan karakter remaja juga bergantung pada pola asuh orang tua mereka.

“Kalau orang tua menganut pola permisif, maka anak akan diberikan kebebasan sehingga tidak terkendali. Namun, secara teori idealnya pola pengasuhan authoritatif ini yang ideal. Dengan memberikan kebebasan tapi juga tetap ada batasan. Sehingga anak-anak tidak keluar dari koridornya,” jelas Teguh.

Menurut data BPS Jatim, sebanyak 71,65 persen penduduk Jatim masih berada di usia produktif (15-64 tahun). Sehingga posisi Jatim masih dalam masa bonus demografi. Oleh karena itu, menurut Teguh, salah satu hal yang paling penting adalah kemampuan orang tua untuk mendengar aktif.

“Merespon anak ketika curhat melalui gesture begitu bisa tergolong kemampuan mendengar orang tua sudah aktif. Jangan dikira meskipun hasil survey menunjukkan anak remaja lebih sering curhat ke temannya, anak kita ini sebetulnya sangat ingin curhat dengan orang tuanya utamanya soal reproduksi. Namun karena adanya gap, seringkali relasi tersebut gagal terbangun,” katanya.

Teguh juga menyampaikan, kegiatan ini penting untuk menghindari kegagalan relasi karena adanya gap. “Pertemuan inilah yang dirasa penting oleh BKKBN yang bekerja sama dengan John Hopkins Center For Communication Programs (JHCCP). Harapannya dari kegiatan ini tidak selesai sampai di sini. Ada tindak lanjut di lapangan langsung. Fasilitator membina BKR (Bina Keluarga Remaja). BKR membina keluarga nantinya pola-pola yang sudah dipelajari hari ini bisa sampai ke keluarga yang memiliki anak remaja maupun remaja itu sendiri,” katanya.

Menurut Teguh, acara ini dilakukan dalam 3 tahap di 3 tempat. Pertama pada 19-21 April 2021 di Jember. Kdua, 22-24 April 2021 di Surabaya, serta ketiga 26-28 April 2021 di Madiun dengan peserta sebanyak 130 orang dari seluruh Kab/Kota se Jatim. (nul)