Solar Langka, Dikurangi Atau Mau Dinaikkan ?

Reporter : Aries Wahyudianto - klikjatim.com

Aries Wahyudianto

Pemimpin Redaksi Klikjatim.Com

 

SUDAH hampir sepekan terakhir bahan bakar minyak (BBM) jenis solar sulit didapat. Baik di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) maupun di tingkat eceran pertamini. Kelangkaan ini hampir sama dengan yang dialami BBM Pertalite di wilayah Utara Jatim beberapa waktu lalu. Apalagi premium yang hampir pasti sulit didapat karena memang dilakukan di sebagianbesar SPBU.

Dibandingkan BBM jenis premium atau pertalite, kelangkaan solar ini dirasakan berat oleh masyarakat lapisan bawah. Ribuan sopir truk dan bus angkutan umum kebingungan saat hendak mengisi solar di sejumlah SPBU di Jawa Timur. Bahkan yang dirasakan berat adalah masyarakat nelayan yang kehilangan pendapatan gara-gara tidak bisa melaut karena solar untuk menggerakkan mesin dieselnya tidak ada.

Secara khusus saya mengamati persediaan solar di sejumlah SPBU pada Jumat (15/10/10/2021) mulai Sidoarjo, Pasuruan, Malang, Probolinggo, hingga Jember pada Jumat (15/10/2021). Kemudian  Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Madiun, Ponorogo hingga Ngawi pada Sabtu (16/10/2021).  Kemudian wilayah Gresik, Lamongan, Bojonegoro, Tuban   pada Minggu (17/10/2021).

Dari 11 SPBU di sepanjang jalur yang saya datangi, 8 di antaranya kehabisan stok. Kemudian 3 sisanya ada stok namun pembelian dibatasi maksimal Rp 150 ribu per kendaraan. Kondisi serupa terjadi di wilayah Utara, Tengah dan Selatan Jatim. Bahkan di sepanjang ruas tol Surabaya-Ngawi dan Surabaya-Malang, pembelian solar juga dibatasi tidak seperti biasanya.

Karena dibatasi, sopir truk harus rela antre pegisian solar hingga 200 meter seperti yang dijumpai di Ponorogo, Madiun, Probolinggo, Malang, Gresik dan Tuban. Sementara di SPBU jalur tol, antrean juga terlihat di SPBU 726 tol Sumo. 

Di kalangan nelayan dan petambak, kelangkaan solar sangat dirasakan. Seperti nelayan di Bawean Gresik dan Kecamatan Lumpur Gresik, mereka kelimpungan mencari bahan bakar untuk menyalakan mesin diesel yang biasa dipakai mengairi sawah dan melaut.

Seperti terjadi di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Desa Golokan Sidayu, terlihat antrean masyarakat saat membeli solar.  Salah satu petambak, Nur Qomari mengaku solar sulit didapat dalam beberapa hari ini. Karena itu ketika mendengar kabar tersedianya solar di SPBU Golokan, Ia dan beberapa warga lain berduyun-duyun ke SPBU tersebut.

 Kelangkaan solar terjadi di kawasan Pantura dan Pulau Bawean juga disoroti anggota Fraksi Demokrat DPRD Jatim, Samwil.  Dia menilai pengguna transportasi BBM solar seperti petani, pelaku industri yang menggunakan truk dan mobil di kawasan Pantura dan nelayan Bawean resah atas kelangkaan tersebut.

Kelangkaan solar tersebut membuat roda perekonomian para pelaku industry  di Pantura terganggu. Para nelayan dan sopir angkutan yang hendak mengirim ikan dari Lamongan terganggu karena sulit mencari SPBU yang menjual solar.

Yang terjadi saat ini nelayan Bawean saat ini sudah tak bisa melaut karena stok solar tak ada. Sudah hampir satu bulan penuh tak ada solar. Kalaupun ada harganya 1 liter Rp 10 ribu. Bagi nelayan harga tersebut tinggi dari biasanya yaitu Rp 7 ribu per liternya.

Sudah barang tentu kelangkaan ini ditepis oleh PT Pertamina yang menyebut tidak ada pengurangan pasokan solar di seluruh SPBU di Jawa Timur. Sebaliknya BUMN yang memonopoli migas dari hulu hingga hilir ini menyatakan, mereka masih mamatok pasokan secara normal. Kelangkaan itu terjadi karena ada lonjakan konsumsi solar secara harian di Jawa Timur.

Mengutip pernyataan Pj Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting, pasokan BBM di sektor ritel secara nasional pada kuartal III-2021 mencapai 34 juta kilo liter (KL). Angka ini  meningkat hingga 6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.  BBM jenis bensin atau gasoline, meningkat sekitar 4 persen, dan untuk diesel atau gasoil bahkan mencapai 10 persen.

Untuk solar subsidi konsumsi harian sejak September mengalami peningkatan 15 persen dibandingkan rerata harian di periode Januari sampai Agustus 2021. Kenaikan signifikan terjadi di beberapa wilayah seperti Sumatera Barat dan Sumatera Utara serta Riau. Pertamina berjanji untuk memastikan stok dan penyaluran BBM, dan melakukan penambahan solar sudsidi di beberapa wilayah yang mengalami peningkatan konsumsi secara signifikan.

Janji itu kini ditunggu oleh para sopir dan nelayan di Jawa Timur. Dan pertanyaan apakah solar sengaja dikurangi atau bahkan dihilangkan oleh Pertamina juga perlu dijawab agar tidak terjadi pikiran negatif bahwa harga solar kemungkinan dinaikkan. (*)