Soal Pemberitaan Penanganan Covid-19, IDI Jatim Berikan Klarifikasi

Reporter : M. Shohibul Anwar - klikjatim.com

Ketua IDI Jatim

KLIKJATIM.Com | Surabaya – Berkaitan dengan berita sebelumnya dengan judul “IDI Jatim Minta Khofifah Jujur Soal klaim Penanganan Covid-19”, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jatim memberikan klarifikasi atau meluruskan beberapa hal dalam pemberitaan tersebut.

BACA JUGA :  Pantau Penanganan Covid-19, Kapolda Berkantor di Polsek

Ketua IDI Jatim DR dr Sutrisno, SpOG.K mengatakan, ada sejumlah poin yang perlu diluruskan dalam tayangan berita tersebut. Adapun pernyataan atau klarifikasi dari dr Sutrisno sebagai berikut :

1. Saya sebagai Ketua IDI Jawa Timur tidak pernah menyebut nama Ibu Khofifah dalam diskusi di Radio SS dan kontek pembicaraannya hanya data. Tidak ada maksud mengkaitkan pembicaraan di Radio SS itu dengan nama Ibu Khofifah.

2. Saya bicara adanya jumlah riil kematian harian yang tinggi di masyarakat termasuk mereka yang melakukan isoman, dengan jumlah kuburan baru yang di makamkan dengan protokol Covid-19, keterisian RS yang tinggi, jumlah antrian di IGD, kematian di rujukan Covid-19 yang tinggi, jumlah pasien Covid-19 dengan derajat berat dan kritis yang terus berdatangan, rs pemerintah yang terus menambah bed perawatan Covid-19, kematian dokter dan tenaga kesehatan lain yang terus bertambah secara cepat tiap harinya dan kesulitan mencari obat-obatan yang esensial untuk perawatan Covid-19 di rumah sakit atau di rumah (isoman).

3. Kemudian ada pertanyaan apakah ada perbedaan data antara laporan jatim dengan  kemenkes, saya jawab, selama pandemi yang sudah berlangsung 1,5 tahun ini ada gap data yang dilaporkan secara harian dinkes Jatim dengan data yang ada di kemenkes, yang mengesankan data dari dinkes jatim lebih rendah dari realitas di lapangan. namun bulan-bulan terakhir ini terus diupayakan perbaikan sehingga gap data dinkes Jatim dengan kemenkes tidak jauh. Namun kita tahu bahwa data itu bersumber dari dinkes kota/kabupaten, sehingga kualitas dan validitas data itu perlu terus menerus diperbaiki dari tingkat kabupaten/kota. Juga definisi kematian karena Covid-19 masih terdapat perbedaan cara pandang.

4. Didiskusi itu juga saya menekankan bahwa data yang valid, meskipun kematian dan kesakitan tinggi, perlu disampaikan terbuka kepada masyarakat dengan tujuan agar 1. masyarakat tahu ada bahaya besar yang mengancam sehingga mereka patuh dan mendukung program pemerintah, 2. Pemerintah bisa membuat program dan prioritas area yang ditangani, 3. Merencanakan program preventif agar tidak menyebar ke area lainnya. Sehingga data yang baik akan sangat membantu menyelesaikan pandemi yang masih berlangsung saat ini

5. Pada kesempatan ini saya sampaikan bahwa sebagai organisasi profesi dokter, saya akan bersikap terus mengajak seluruh anggota untuk terus berjuang mendukung pemerintah dengan memberi layanan kesehatan yang dibutuhkan dengan tetap mengedepankan prinsip ilmu pengetahuan, etika dan keselamatan pasien.

6. Kepada ibu Khofifah, saya selaku pribadi mohon maaf atas berita yang kurang menyenangkan tersebut, meskipun kalimat itu dan esensinya bukan dari pernyataan saya. (bro)