Soal Banjir Lamongan, Anak Buah Bupati Fadeli : Sudah Lebih Terkendali Dibanding 10 Tahun Lalu  

Reporter : Abdul Aziz Qomar - klikjatim.com

Bupati Fadeli saat meninjau penanganan banjir bersama Kapolres Lamongan dan Dandim. Abdul Aziz Qomar/Klikjatim.com

KLIKJATIM.Com I Lamongan –  Pemerintah kabupaten (Pemkab) Lamongan tak lepas tangan dalam mengendalikan banjir. Sejumlah upaya telah dilakukan dari pembangunan infrastruktur Bengawan Jero hingga pengadaan rumah pompa.  “Upaya yang dilakukan dibawah kendali Bupati Fadeli sudah lebih baik bila dibandingkan dengan 10 tahun lalu,” kata Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Moh Balikan

BACA JUGA :  Gelar SPI, Inspektorat Lamongan Gandeng BPS

Dijelaskannya, sebelumnya genangan di Bengawan Jero bisa berbulan-bulan. Setelah ada upaya memperlancar pembuangan ke laut dengan penggunaan Backhoe Amphibi untuk mempercepat pembersihan eceng gondok, lama genangan dapat dikurangi,” bebernya kepada KLIKJATIM.COM (14/01/2021).

Nalikan melanjutkan, aat ini empat pintu di Wangen telah dibuka secara maksimal, sehingga dapat mempercepat pembuangan air ke laut. Sebelumnya, empat pintu ini sempat terkendala masalah teknis sehingga tidak semuanya dapat dibuka.

Selain itu juga telah disiapkan 19 pompa banjir dengan rincian 3 unit pompa dengan kapasitas 500 liter per detik dan 2 unit pompa dengan kapasitas 125 liter per detik du UPT Babat, 2 unit pompa kapasitas 1.000 liter per detik, 8 pompa kapasitas 500 liter per detik, dan 2 unit pompa kapasitas 250 liter per detik du UPT Kuro ditambah 2 unit pompa dengan kapasitas 250 liter per detik di UPT Deket.

Pemkab secara intens berkomunikasi dan berkoordinasi dengan Pemerintahan Pusat, hasilnya terbit Peraturan Presiden Nomor 80 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi di Kawasan Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan, Kawasan Bromo – Tengger – Semeru, serta Kawasan Selingkar Wilis dan Lintas Selatan.

“Lewat Perpres ini salah satunya memberikan prioritas pembangunan penuntasan banjir di Bengawan Jero, namun karena adanya pandemi, sehingga realisasi pembangunannya tertunda,” imbuh Nalikan.

Pemkab juga berupaya meringankan beban masyarakat terdampak banjir dengan menyalurkan 15 ton bantuan beras secara bertahap kepada masyarakat terdampak banjir. Selain i bakti sosial kesehatan gratis juga sudah dibuka di setiap desa terdampak banjir di enam kecamatan.

Secara topografi, Wilayah Lamongan dapat dikatakan sebagai wilayah yang rentan terhadap banjir. Ini dikarenakan sebagian wilayah Lamongan merupakan daerah rawa yang lebih rendah dari rata-rata permukaan air laut.

Selain itu, faktor lain seperti perubahan lingkungan dan tatanan hidrologis di sekitar aliran Sungai Bengawan Solo, serta penumpukan tanaman eceng gondok juga dapat dijadikan faktor terendamnya beberapa wilayah di Lamongan.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga telah memprediksi adanya curah hujan tinggi di Indonesia bagai akibat dari fenomena La Nina. BMKG sejak bulan Oktober 2020 telah memprediksi bahwa puncak musim hujan akan terjadi pada Januari hingga Februari 2021. 

Nalikan pun menjelaskan, ketidakhadiran Bupati Fadeli kemarin saat masyarakat menggelar demo masalah banjir di depan kantor Pemkab Lamongan bukan karena Bupati Fadeli bersembunyi atau enggan menemui masyarakat.

“Pak Bupati bersama jajaran Forkopimda Lamongan sedang berkeliling untuk menemukan solusi bencana banjir, bersama kapolres dan dandim meninjau Luk Kuro di Bengawan Jero r,” tandasnya.(rtn)