Setahun Ada 9.386 Perempuan di Jawa Timur Sandang Predikat Janda

Reporter : M. Shohibul Anwar - klikjatim.com

Ilustrasi perceraian

KLIKJATIM.Com | Surabaya – Jumlah perempuan yang menyandang predikat sebagai janda di Jawa Timur dalam setahun mencapai 9.386 orang. Sementara jumlah pengajuan gugatan cerai selama 2020 silam sebanyak 18.334 perkara cerai yang diajukan ke pengadilan agama di 38 kota/kabupaten.

BACA JUGA :  4.900 KTP Milik Pelanggar Prokes di Sidoarjo Belum Diambil

 

Kepala Seksi Kantor Urusan Agama dan Keluarga Sakinah (Kasi KUA-KS) Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Jawa Timur, Farmadi Hasyim menyebutkan, dari jumlah tersebut sudah ada 9.386 perkara yang sudah diputus cerai. “Itu data dari Pengadilan Tinggi Agama (PTA) pada tahun 2020 yang masuk ke kami,” kata Farmadi.

Dari 9.386 yang telah diputus tersebut, paling banyak adalah perkara yang disidangkan di Pengadilan Agama (PA) Surabaya, yaitu 926 perkara. Sementara itu diurutan kedua yakni di PA Jember, ada 822 perkara. Sedangkan ketiga yakni di PA Lamongan, yaitu sebanyak 454 perkara. 

Data yang diperoleh Farmadi, selama 2020 paling banyak yang mengajukan cerai adalah pihak perempuan. Sedangkan sisanya adalah cerai talak dari pihak laki-laki,” paparnya. 

Sementara itu, pada 2021 pihaknya menilai masih tinggi. Data yang didapat dari PA Surabaya per Januari hingga Mei 2021 ada 2.454 perkara. Masih sama seperti di tahun 2020, paling banyak yang mengajukan cerai adalah pihak dari perempuan. Tercata ada 1.723 perkara sedangkan pihak laki-laki tercatat 731 pengajuan perkara perceraian.  

Juru bicara PA Surabaya Wachid Ridwan menjelaskan, ada beberapa faktor penyebab seseorang mengajukan gugatan atau talak cerai selama ini. Faktor yang pertama adalah tidak adanya keharmonisan dalam rumah tangga. Sehingga, pada kondisi tertentu terjadi kesalah pahaman satu sama lain sehingga memicu adanya cekcok.

“Faktor ini yang paling banyak. Sehingga pihak istri mengajukan perceraian. Yang kedua faktor ekonomi, kadang suami punya penghasilan tapi pelit, ada pula yang disebabkan tidak bisa mengolah keuangan dengan baik. Sehingga itu semua berujung cekcok satu sama lain,” ujar Wachid.

Sementara itu, alasan suami menalak istri biasanya dikarena perselingkuhan. Pada umumnya, hal itu terjadi pada suami yang memiliki istri lebih dari satu, atau mempunyai kegiatan di luar rumah. Apalagi baik suami maupun istri sama-sama memiliki penghasilan.

“Ada juga pasangan dalam menghadapi suatu masalah dengan cara emosi. Kalau mengedepankan emosi malah semakin runyam. Sejatinya kan pasutri harus bisa mengontrol emosi dan tidak mengedepankan ego, karena hal itu mutlak dalam membangun rumah tangga yang baik,” tandasnya. (ris)