Seorang Kuli di Gresik Andalkan JKN-KIS untuk Keluarganya

Reporter : Miftahul Faiz - klikjatim.com

Peserta JKN KIS asal Desa Soko, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, Turan. (Miftahul Faiz/klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Gresik – Turan (35), seorang kuli borongan asal Desa Soko, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik terdaftar sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) sejak 2012 silam. Dia mengakui banyak manfaat yang telah didapatkan dari pelayanan kesehatan yang digawangi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

BACA JUGA :  Begal Sadis Beraksi di Pasuruan, Korban Dibantai hingga Tewas, Kabur Gondol Motor

Salah satunya kemudahan dalam mendapatkan pelayanan. Meski jauh dari perkotaan dan berada di daerah perbatasan, akses di fasilitas kesehatan (faskes) untuk dirinya dan keluarga terbuka lebar tanpa batas wilayah apabila diakses sesuai ketentuan.

“Saat itu, anak saya sakit mendadak, karena harus segera ditangani dengan cepat dan tempat tinggal saya lebih dekat dan mudah aksesnya ke Sidoarjo, jadi saya langsung segera ke IGD rumah sakit yang ada di perbatasan Sidoarjo. Alhamdulillah tetap dilayani dan tidak dipersulit,” katanya Selasa, (15/9/2020).

Hal ini menurut Turan, merupakan satu contoh nyata kemudahan yang bisa dirasakan untuk mendapatkan pelayanan program JKN-KIS dengan cepat dan dimana saja. Sehingga dirinya tidak perlu khawatir di segala kondisi.

“Dengan bawa kartu JKN-KIS ini mau kemanapun juga tenang, anggapan saya dulu ternyata salah, saya pikir saya akan ditolak jika faskesnya tidak sesuai domisili. Ternyata tidak, jadi tidak khawatir lagi. Asalkan memang sesuai dengan prosedur,” tambahnya. 

Bapak dua anak ini juga sangat merasakan keringanan biaya yang dikeluarkan pada saat ada anggota keluarganya sakit. Baginya, hasil jerih payahnya selama ini sebagai seorang kuli bisa cukup untuk kebutuhan yang lain. 

“Saya sangat bersyukur telah menjadi peserta JKN-KIS karena tidak perlu pusing biaya untuk kesehatan. Walaupun harus bayar iuran, tapi anggap saja itu menabung. Jadi penghasilan saya untuk kebutuhan hidup keluarga sehari-hari,” ungkap Turan.

Pria yang kesehariannya bekerja sebagai kuli borongan di proyek tersebut juga mengakui, terkait pelayanan yang ia dapatkan baik di puskesmas ataupun di rumah sakit tidak dibedakan dengan pasien umum. 

“Saya merasakan sendiri pelayanannya sangat bagus, tidak dibeda-bedakan antara yang umum dengan peserta BPJS. Tapi yang jelas kami tidak dimintai tambahan biaya apapun, cukup menunjukkan kartu JKN-KIS ini saja,” jelasnya.

Lebih lanjut, Turan yang mengistilahkan kartu JKN-KIS sebagai kartu penyelamat ini berharap kedepannya program JKN-KIS dapat terus optimal memberikan pelayanan kesehatan di seluruh pelosok negeri ini. Selain itu, juga dapat menjadi penjamin kesehatan bagi masyarakat khususnya yang kurang mampu. 

“Sayang sekali jika masyarakat melewatkan menjadi peserta JKN-KIS karena program ini sungguh telah menyelamatkan saya dan keluarga di kala sakit. Semoga program ini terus ada dan dapat memberikan pelayanan kesehatan yang lebih maksimal. Terima kasih telah menjadi penjamin kesehatan masyarakat apalagi untuk orang yang kurang mampu,” pungkas Turan. (adv/nul)