Sambut HJB ke-344, Pemkab Bojonegoro Gelar Ziarah Makam Leluhur

Reporter : M Nur Afifullah - klikjatim.com

Bupati Bojonegoro, Anna Mu'awanah bersama Forkopimda saat ziarah makam leluhur. (Afif/klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Bojonegoro – Dalam rangka menyambut Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-344, Pemkab Bojonegoro menggelar ziarah makam leluhur yang dipimpin langsung oleh Bupati Anna Mu’awanah dengan didampingi sang suami, beserta jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Sekretaris Daerah (Sekda), para Asisten juga Staff Ahli, dan segenap kepala organisasi perangkat daerah (OPD) setempat. Kegiatan ini sekaligus sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah berjasa terhadap Bojonegoro.

BACA JUGA :  Suami Istri di Blitar Meninggal Tak Wajar, Diduga Bunuh Diri

Untuk mengawali ziarah makam leluhur, para rombongan menuju ke Petilasan Angling Dharma yang bertempat di Desa Wotan Ngare, Kecamatan Kalitidu. Silsilah Petilasan Prabu Angling Dharma ini pernah singgah di Bojonegoro saat mengalami masa hukuman dan kutukan menjadi burung Belibis. Dengan begitu, salah satu petilasannya diyakini berada di Wotan Ngare.

Menurut Bupati Bojonegoro, Anna Mu’awanah, Prabu Angling Dharma dihukum oleh Dewi Uma dan Dewi Ratih karena melanggar janji sendiri, untuk tidak menikah lagi sebagai wujud cintanya kepada Dewi Setyowati yang mati bunuh diri.

“Iya, dianggap melanggar janji saat Dewi Uma dan Dewi Ratih menguji keteguhan janji itu dengan cara menyamar menjadi nenek dan gadis cantik menyerupai Dewi Setyowati,” katanya, Selasa (19/10/2021).

Usai dari Petilasan Angling Dharma, Bupati bersama rombongan melanjutkan ziarah ke Makam Kanjeng Sumantri yang berada di Kelurahan Mojokampung, Kecamatan Bojonegoro.

Kanjeng Sumantri merupakan Bupati Bojonegoro pada tahun 1890-1916. Adapun makamnya telah diresmikan oleh Pemkab Bojonegoro pada 9 Februari 2021 lalu, sebagai wisata relegi kompleks pesarean Mangun Kusumo atau lebih dikenal dengan nama Soemantri.

Diketahui bahwa kiprah Kanjeng Soemantri adalah sebagai pemrakarsa pembangunan Masjid Darussalam, yang pertama kali dilakukan pembangunan pada tahun 1925. (adv/nul)