Relawan Turun 70 Persen, PMI Jatim Sempat Kesulitan Pendonor

Reporter : M. Shohibul Anwar - klikjatim.com

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dalam acara musyawarah PMI. (Sohibul Anwar/Klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Surabaya – Orang yang mengabdikan dirinya melalui Palang Merah Indonesia (PMI) adalah orang-orang luar biasa yang memberikan sodaqoh energi, pikiran dan amal jariyah. Hal itu dikatakan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Selasa (17/11/2020).

Kata Khofifah, hal tersebut juga akan menjadi referensi kemanusiaan yang besar maknanya. Bahkan, jika orang mengetahui ini adalah ladang amal jariyah, pastinya banyak orang yang ingin bersama-sama ikut PMI.

“Untuk itu bagaimana PMI dan PMR ini disiapkan lebih kuat lagi. Ruh seperti ini harus menjadi nafas dari seluruh gerak kita, seluruh perjuangan kita, bahwa ada kesalehan sosial di dalam perjuangan dan pergerakan PMI,” jelasnya.

Khofifah pun memberikan usulan program PMI terkait peta kebencanaan di Jatim. Adanya peta ini, kata dia, bukan untuk menakut-nakuti. Justru penyampaian informasi ini menjadi bagian dari diseminasi informasi yang harus bisa mengikuti derajat kesepahaman masyarakat di lini-lini tertentu.

“Waktu saya ke Pacitan beberapa waktu lalu, Pak Bupati cerita bahwa info potensi tsunami yang tersiar sampai dua puluh meter diikuti gempa  di pesisir selatan Pulau Jawa sempat membuat masyarakat di sekitar pantai gelisah. Ini jadi gambaran bahwa bagaimana informasi ini terdiseminasi dengan kuat sampai ke bawah. Untuk itu informasi ini jangan sampai membuat ketakutan berlebih, tapi bagaimana membangun kewaspadaan dengan menyiapkan early warning system secara online,” papar Khofifah.

Sementara itu, Ketua PMI Jatim H Imam Utomo mengatakan, dalam penanganan Covid-19, PMI Jatim telah melakukan penyemprotan desinfektan, membagi masker, suplemen, sembako, serta memfasilitasi angkutan jenazah dengan enam ambulance milik PMI. 

Sementara dalam pelayanan darah, pihaknya terus meningkatkan kualitas layanan dan jumlah darah. Bahkan saat awal pandemi, PMI Jatim sempat kesulitan mendapat pendonor sehingga jumlah relawan turun 70 persen.

“Namun dengan bantuan pengiriman surat kami kepada TNI, Polri dan PNS Pemprov akhirnya kekurangan itu dari 70 persen tinggal 30 persen. Tapi jumlah itu sudah memenuhi kebutuhan darah di Peovinsi Jatim. Sebelum pandemi stok darah biasanya berlebih, bisa kirim ke luar daerah. Untuk itu kami bertekad PMI harus hadir dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat,” pungkasnya. (bro)