Produksi Tambakau Lamongan Meningkat, Kini Masuk Lima Besar di Jatim

Reporter : Abdul Aziz Qomar - klikjatim.com

Bupati dan Wabup Lamongan saat menanam bibit tembakau. (Istimewa)

KLIKJATIM.Com | Gresik — Produktifitas tanaman tembakau di Kabupaten Lamongan tahun ini mengalami peningkatan. Tak ayal, peningkatan ini telah menempatkan kota soto—sebutan untuk Kabupaten Lamongan—tercatat dalam daftar lima besar sebagai penyumbang tembakau di Jawa Timur (Jatim). 

BACA JUGA :  Buka Puasa Bersama di Mapolres, Wabup Bojonegoro Ajak Steakholder dan Yatim Cegah Terorisme

Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikutura dan Perkebunan (TPHP) Lamongan, Sujarwo mengatakan, dari total produksi 122 ribu ton tembakau di Jatim tercatat 9.400 ton berasal dari Kabupaten Lamongan sepanjang tahun 2020.

“Tembakau dari Lamongan ini termasuk penyumbang terbesar ke lima di Jawa Timur. Tembakau kita tahun 2020 kemarin mencapai 9.400 ton dengan provitas 1,45 ton per hektar. Sedangkan tahun 2019 hanya 8.400 ton dengan provitas 1,35 ton per hektar. Ini menunjukkan, meski di tengah pandemic para petani terus mengalami produktifitas kerja,” terang Sujarwo saat melakukan Tanam Tembakau Perdana jenis virginia K326 bersama Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi di Desa Nguwok, Kecamatan Modo, Kamis (3/6/2021).

Diterangkan lebih lanjut oleh Sujarwo, di Kabupaten Lamongan ada dua jenis tanaman tembakau yang ditanam para petani. Pertama adalah tembakau Virginia dan kedua, tembakau Jawa.

Sujarwo menjelaskan, seluas 4.300 hektar lahan sawah di Kabupaten Lamongan di tanami tembakau jenis Virginia. “60 hektar di antaranya berada di Desa Nguwok, sementara 3.200 hektar menanam jenis tembakau Jawa,” urainya.

Sementara itu Bupati Yuhronur Efendi atau yang akrab disapa Yes mengatakan, meski produktifitas tembakau di wilayah Jawa Timur mengalami penurunan pada tahun 2020, tapi di Kabupaten Lamongan justru mengalami peningkatan. 

Hal ini kata Yes, menunjukkan sektor pertanian merupakan sub sektor ekonomi yang tahan resesi. Karena bidang pertanian mampu tumbuh, dan petani terus mengalami produktifitas kerja di tengah situasi pandemi yang belum berakhir.

“Produksi tembakau di Jawa Timur pada tahun 2020 hanya 122 ribu ton, sedangkan tahun 2019 mencapai 135 ribu ton. Artinya mengalami penurunan. Sementara kita malah mengalami kenaikan, bahkan provitas kita di atas rata-rata Jawa Timur. Ini menunjukkan para petani terus mengalami produktifitas kerja, meski di situasi pandemi,” tuturnya.

Tak hanya tanaman tembakau saja. Lanjut Yes, misalnya pada sektor pertanian seperti padi pada tahun 2019 produksinya mencapai 1.025.000 ton. Sedangkan tahun 2020 naik menjadi 1.100.000 ton.

“Artinya ini adalah prospek yang sangat baik, tentu dari kami (Pemerintah) akan mendukung para petani dalam program-program yang telah disusun,” tandasnya. (nul)