Produksi Beras Hingga Akhir Tahun Diperkirakan Masih Surplus * Petrokimia Gresik Dukung Program Ketahanan Pangan Nasional

Reporter : Ratno Dwi Santo - klikjatim.com

Kegiatan panen padi di salahsatu demplot binaan PT Petrokimia Gresik.

KLIKJATIM.Com | Jakarta – Produksi beras secara nasional hingga akhir 2020 mendatang diperkirakan masih surplus. Kementerian Pertanin juga memastikan kebutuhan beras nasional hingga 2021 masih tercukupi.

BACA JUGA :  Kemenag Gelar Sidang Isbat 22 Mei Tentukan 1 Syawal

Hal itu disampaikan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo menanggapi kebutuhan pangan nasional di tengah pandemi Covid-19. Dia memperkirakan neraca beras hingga Desember 2020 masih surplus, dengan stok tersisa mencapai 6,1 juta ton. Sehingga tercukupi untuk memenuhi kebutuhan pangan hingga tahun 2021 mendatang.

Disebutkan, bahwa luas tanam musim pertama pada Oktober 2019-Maret 2020 mencapai 6,7 juta hektare. Sehingga terdapat produksi beras mencapai 16,65 juta ton. Ada pun stok beras hingga akhir Juni diproyeksikan mencapai 7,49 juta ton.

“Kita masih punya stok dari sebelumnya hampir 5 juta ton, sehingga saat ini masih tersisa 7,49 juta ton. Stok ini akan ter-carry over pada Desember 2020,” kata Syahrul dalam Webinar bertajuk “Strategi Ketahanan Pangan di Era New Normal Pandemi Covid-19” di Jakarta, dilansir Antara.

Syahrul menjelaskan, bahwa pada musim tanam kedua, Kementan menargetkan luas tanam mencapai 5,6 juta hektare dengan produksi diperkirakan minimal 12,5 juta ton setara beras.

BACA JUGA :  Tujuh Kru KM Kirana III Positif Covid-19

Untuk mengantisipasi kekeringan, Mentan menegaskan bahwa pihaknya melakukan percepatan tanam dengan mendorong para petani untuk memanfaatkan curah hujan yang masih tersisa pada bulan Juni ini.

Sejumlah daerah yang menjadi andalan produksi padi pada musim tanam kedua ini adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Selatan dan Sumatera Utara.

Pada musim tanam kedua ini, Kementan mempersiapkan benih sebanyak 132.407 ton; pupuk bersubsidi 3,63 juta ton; dan alat mesin pertanian berupa traktor roda sebanyak 140.265 unit serta pompa 111.206 unit.

“Musim tanam kedua ini kurang lebih 5,6 juta hektare, diperkirakan produksi minimal 12,5 juta ton. Kalau optimis bisa mencapai 15 juta ton. Dengan neraca ini, kita bisa lihat stok beras aman,” kata Syahrul.

Dengan stok akhir Juni mencapai 7,49 juta ton dan perkiraan produksi pada musim tanam kedua mencapai 12,5 juta ton, Kementan memproyeksikan stok akhir beras pada Desember mencapai 6,1 juta ton.

BACA JUGA :  Gubernur Jatim dan Kapolda Pastikan Chek Poin Perbatasan Jatim

Pada bagian lain, PT Petrokimia Gresik mendukung terwujudnya program ketahahanan pangan nasional. BUMN Pupuk terlengkap ini didukung fasilitas distribusi berupa 300 gudang penyangga kapasitas total 1,4 juta ton, 650 lebih distributor, dan 28 ribu lebih kios. Selain kewajiban menyediakan pupuk bersubsidi.

Sekretaris Perusahaan Petrokimia Gresik, Yusuf Wibisono menyebutkan, pihaknya juga menyiapkan stok pupuk komersil (non-subsidi). Langkah ini adalah solusi bagi petani yang kebutuhan pupuknya tidak teralokasi dalam skema subsidi. Karena alokasi pupuk subsidi terbatas, maka juga sediakan juga pupuk komersil. Sehingga kebutuhan pupuk petani tetap bisa terpenuhi.

“Kami juga terus mengedukasi petani untuk mengikuti rekomendasi pemupukan berimbang 5:3:2. Dimana untuk satu hektar sawah cukup diberikan 500 Kg pupuk organik Petroganik, 300 Kg pupuk NPK Phonska atau Phonska Plus, dan 200 Kg pupuk Urea,” jelas dia.

Dikatakan, pemupukan berimbang adalah solusi dari Petrokimia Gresik atas pemakaian pupuk yang cenderung berlebih oleh petani. Sehingga alokasi pupuk bersubsidi yang terbatas dapat lebih efektif dan efisien, dengan hasil atau produktivitas tetap maksimal.  (hen)