Pilwali Bergengsi di Kota Pasuruan; PKB dan Golkar Putar ‘Lagu’ Lama?

Reporter : Redaksi - klikjatim

Ilustrasi : Putar lagu lama. (ist)

*Oleh : Koinul Mistono

SEPARO dari total jumlah kota dan kabupaten se Jawa Timur akan melaksanakan pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak tahun 2020. Tentunya, kemunculan para bakal calon pemimpin yang hendak bertarung pada tanggal 9 Desember nanti mulai menjadi pembicaraan hangat di kalangan masyarakat. Khususnya di daerah yang akan menyelenggaran pilkada seperti di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Lamongan, Kota Pasuruan dan beberapa kota/kabupaten lainnya.

Memang wajar. Bahkan kondisi demikian hampir selalu terjadi dalam agenda lima tahunan tersebut. Eitss…tapi ada yang menarik dalam kontestasi pilkada serentak pada tahun ini di wilayah Jawa Timur. Bukan masalah alot atau menegangkannya negosiasi untuk mendapatkan kendaraan politik, sebagai syarat pendaftaran ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada tanggal 4 – 6 September 2020.

Namun lebih terkait munculnya nama Drs. H. Saifullah Yusuf atau biasa disapa Gus Ipul. Setelah kandas dalam pemilihan gubernur (Pilgub) Jatim tahun 2018, ternyata mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal ini kembali menjajal untuk bertarung di Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Pasuruan.

Kehadiran sosok Gus Ipul dipanggil lagi ke panggung politik menambah nuansa perpolitikan di Kota Pasuruan terasa semakin bergengsi. Pasalnya ketokohan dari kakak kandung Bupati Pasuruan, Irsyad Yusuf tersebut seperti menggemparkan warga di kota yang hanya terdiri 4 kecamatan (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_kecamatan_dan_kelurahan_di_Kota_Pasuruan).

Bukan hanya warga setempat. Namun jutaan mata di luar Kota Pasuruan pun tertuju ke Pilkada di kota tersebut. Apalagi setelah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menjatuhkan dukungannya untuk mengusung mantan Wakil Gubernur (Wagub) Jatim 2 periode itu sebagai calon Wali Kota (Walkot) Pasuruan, langsung banyak media massa memberitakannya.

Spekulasi di luar juga mulai bermunculan. Mulai dari penilaian terhadap seorang Gus Ipul yang turun kelas, hingga tudingan miring yang dianggap ‘haus kekuasaan’. Tapi celotehan itu belakangan ditanggapi oleh Ketua DPW PKB Jatim, Halim Iskandar.

Dalam wawancaranya dengan salah satu media online lokal di Pasuruan, Gus Halim—sapaan Halim Iskandar—mengungkapkan, bahwa Gus Ipul diberi tugas untuk kepentingan perjuangan. Terutama dalam memperjuangkan jamiyah Nahdlatul Ulama (NU) dan Islam ahlus sunnah wal jama’ah. Artinya, secara implisit ditegaskan tidak ada bahasa downgrade (turun kelas, red) dalam sebuah perjuangan.

Di Pilwali Kota Pasuruan, Gus Ipul yang merupakan birokrat dan politisi asal Kabupaten Pasuruan ini dipasangkan dengan Adi Wibowo sebagai bakal calon wakil walkot. Mas Adi, sapaan Adi Wibowo adalah kader Partai Golkar sekaligus salah seorang pengurus di DPP.

Rekomendasi dari PKB dan Partai Golkar pun sudah turun untuk keduanya (Gus Ipul-Mas Adi). Selain dua partai besar sebagai pemilik kursi terbanyak di DPRD Kota Pasuruan, PAN dan PKS juga ikut merapatkan barisan sebagai koalisi. Dengan demikian, total jumlah dukungan sesuai jumlah perolehan suara di parlemen dari hasil Pileg 2019 di kota setempat sebanyak 20 kursi.

Sedangkan dari kubu lawan mengusung pasangan calon Walkot dan Wakil Walkot, Raharto Teno Prasetyo-Hasjim Asjari. Teno yang merupakan petahana (Plt Wali Kota Pasuruan) berasal dari PDI-P. Adapun calon wakilnya adalah ketua DPD Partai NasDem Kota Pasuruan, sekaligus adik kandung dari mantan Walkot Pasuruan periode 2000-2010, Aminurokhman.

Duet Teno-Hasjim dengan akronim TEGAS ini diusung oleh empat partai politik (parpol). Yaitu PDI-P, Nasdem, Hanura dan Partai Gerindra yang totalnya berjumlah 9 kursi parlemen (tersisa 1 kursi PPP belum turun rekomendasinya, red).

Jika melihat komposisi utama, koalisi partai besar yang dibangun dalam Pilwali tahun ini seakan mengulang pada tahun 2010 silam. Ketika itu PKB dan Partai Golkar sepakat berkoalisi untuk mengusung pasangan (alm) Hasani-Setiyono (HaTi) dan akhirnya menang.

Tiga paslon lainnya yang gagal mengungguli perolehan suara HaTi di antaranya dari pasangan Pudjo Basuki dan Mohammad Sulaiman (Mas Pudjo-Gus Muh) dari PDI-P, Achmad Ansori dan Ahmad Sufiaji (AJI) dari koalisi Partai Hanura-PKS, serta calon perseorangan Riza Eko Prasistyo dan Teguh Heru Pribadi (ResTu).

Kongsi pasangan HaTi pun pecah di Pilkada 2015. (Alm) Hasani dan Setiyono ‘ber-duel’ dengan hasil akhir memenangkan Setiyono-Raharto Teno Prasetyo (SEHAT) sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Pasuruan. Mereka diusung koalisi Partai Golkar, PDI-P, Gerindra, PAN, dan PPP.

Sedangkan Hasani–Mukhamad Yasin yang diusung PKB, Hanura, PKS, dan NasDem berada di posisi kedua. Baru setelah itu dari calon perseorangan, Yus Samsul Hadi Subakir–Agus Wibowo.

Begitulah politik. Ya, sangat fleksibel. Tapi keputusan akhirnya tetap kita kembalikan saja kepada masyarakat Kota Pasuruan, untuk menentukan pilihan pada tanggal 9 Desember mendatang.

Apakah ‘jatuh cinta’ dengan hadirnya Gus Ipul-Mas Adi yang diusung oleh dua partai besar, PKB dan Golkar serta disokong PAN bersama PKS? Atau, masih tetap setia kepada pasangan incumbent Teno-Hasjim dari koalisi PDI-P, NasDem, Hanura dan Gerindra? (*)