Perusahaan Mie Sedaap Akui Ada Makelar Tenaga Kerja

Reporter : Miftahul Faiz - klikjatim.com

Human Resources and General Affair PT KAS Gresik, Peter Sindaru. (Miftahul Faiz/klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Gresik—PT Karunia Alam Segar (KAS) perusahaan yang memproduksi mie instan merek Mie Sedaap tak luput dari makelar tenaga kerja. Banyak dari warga yang ingin bekerja harus mengeluarkan uang membayar jasa penyalur tenaga kerja.

BACA JUGA :  Langsung Dioperasi, Kondisi Ernawati Dipastikan Baik dan Normal

Hal itu juga diakui Human Resources and General Affair PT KAS Gresik, Peter Sindaru. Menurut Peter, makelar tenaga kerja di PT KAS itu bukan hanya sekali dua kali terjadi. Namun, sudah berkali-kali terjadi. Bahkan, urusan mekalar tenaga kerja ini juga pernah berlanjut hingga ke ranah hukum.

“Itu memang ada, dan sudah bolak balik, tapi perusahaan anti calo (makelar). Orang kerja di PT KAS tidak perlu bayar. Dan kita pernah ada kasus, dan dimasukkan ke tahanan, selama kita tahu,” ujar Peter.

Diberitakan sebelumnya, Selasa (8/9/2020) puluhan warga Ring 1 PT KAS di Desa Sukomulyo, Kecamatan Manyar, Gresik menggelar aksi unjuk rasa di depan pabrik. Mereka memblokade pintu masuk hingga para pekera tak bisa lewat.

Massa aksi beralasan, unjuk rasa digelar lantaran PT KAS sudah tidak menepati janji yang disepakati dengan warga saat pertama pendirian pabrik pada 2004 silam. Janji itu di antaranya akan mengangkat warga Desa Sukomulyo sebagai bekerja hingga dipastikan sebagai karyawan tetap.

Tuntutan lainnya, yakni terkait adanya pihak ketiga outsorching sebagai penyalur jasa tenaga kerja. Menurut warga, jasa tersebut sangat merugikan pekerja. Sehingga harapan untuk menjadi karyawan tetap perusahaan sulit terwujud jika PT KAS tetap mengandalkan outsorching dalam rekrutmen tenaga kerja.

Tuntutan yang disampaikan warga itu dibantah manajemen PT KAS. Menurut Peter Sindaru, dalam perjanjian tahun 2004 tidak ada perjanjian yang menyatakan warga Desa Sukomulyo dipekerjakan hingga sebagai karyawan tetap. Namun, jika ada warga Sukomulyo yang melamar, Peter memastikan akan diterima.

“Prinsipnya tidak ada masalah dengan masyarakat. Kalimat  karyawan tetap, tidak ada di surat yang kami tandatangani bersama warga di tahun 2004, dan warga yang melamar sudah pasti kami terima, tapi minta diangkat karyawan tetap, undang-undang tidak bicara itu.Semua bisa tapi bertahap,” ungkapnya.

Dijelaskan Peter, berdasarkan Permenaker 19 Tahun 2012 perusahaan pasti melakukan rekrutmen karyawan melalui outsorching. Menurut Peter, langkah itu sah dilakukan. Di perusahaan sendiri, lanjut Peter, ada pekerja inti dan pekerja penunjang yang memiliki masing-masing fungsi dan tanggungjawab.

“Jadi tidak bisa langsung karyawan tetap,” ucapnya.

Peter merinci, pekerja di PT KAS yang berasal dari Desa Sukomulyo sudah ada 700 orang. Dari total itu, 475 di antaranya telah diangkat sebagai karyawan tetap. Sementara 100 orang lainnya masih dalam status menunggu giliran.

“Ada sekitar 1.000 warga Desa Sukomulyo yang jadi karyawan. 700 di antaranya bekerja di PT KAS,” tutup Peter. (mkr)