Penjualan Pupuk Petrokimia Gresik di Pasar Ekspor Naik 10 Persen * Kebutuhan Pupuk Bersubsidi Domestik Tetap Aman

Reporter : Koinul Mistono - klikjatim.com

Proses muat pupuk NPS ke Kapal Marylisa V di Pelabuhan Petrokimia Gresik. (ist/Humas Petrokimia Gresik)

KLIKJATIM.Com | Gresik – Tren penjualan pupuk oleh Petrokimia Gresik menunjukkan perkembangan positif. Utamanya di pasar ekspor terlihat mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2019 pada periode yang sama.

Selama tahun 2020 hingga semester I perusahaan anggota holding Pupuk Indonesia ini sudah mengekspor pupuk sebanyak 253 ribu ton. Yaitu terdiri dari NPS 175 ribu ton dan Urea 78 ribu ton yang dikirim ke India serta Meksiko. Bahkan mencatat rekor baru untuk ekspor pupuk terbesar dalam sekali pengiriman mencapai 50 ribu ton pupuk NPS ke India beberapa waktu lalu.

“Capaian ini sudah 58 persen dari target ekspor perusahaan. Dimana pada tahun ini kami menargetkan ekspor pupuk ZK, NPK, NPS dan Urea sebanyak 435 ribu ton atau meningkat 10 persen dari realisasi tahun 2019,” ujar Direktur Permasaran Petrokimia Gresik (PG), Digna Jatiningsih dalam siaran persnya, Rabu (17/6/2020).

Upaya ini sebagai bentuk kontribusi perusahaan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Terutama peningkatan kinerja ekspor nasional agar neraca perdagangan tetap surplus. “Selain itu juga untuk menyumbang devisa sekaligus mendorong penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat,” lanjutnya.

BACA JUGA :  Nasdem Pasuruan Gelar Sholawat Bersama Masyarakat

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia saat ini memang sangat berdampak terhadap perdagangan dan perekonomian global. Namun tidak begitu mengganggu kinerja penjualan ekspor pupuk PG.

“Justru menjadi peluang karena demand dari berbagai negara tetap tinggi, namun supply-nya berkurang karena negara-negara penyuplai pupuk seperti China beberapa waktu lalu sempat menghentikan ekspor akibat pandemi Covid-19,” terang Digna.

Dan terkait pengiriman pupuk ekspor yang melibatkan awak kapal asing, pihaknya tetap menjalankan protokol pencegahan Covid-19. Yaitu termasuk di seluruh pelabuhan PG.

“Ke depan, kami akan terus memperkuat penetrasi pasar internasional dengan menyasar negara-negara di luar Asia,” tandasnya.

BACA JUGA :  Pembayaran Klaim BPJS ke RSUD Bojonegoro Selalu Dihutang

Meski demikian, tapi perlu diketahui bahwa ekspor dilakukan setelah perusahaan memenuhi kebutuhan pupuk bersubsidi domestik sesuai alokasi pemerintah. “Jadi petani dalam negeri tidak perlu khawatir, kami tetap menjalankan kewajiban penyaluran pupuk bersubsidi sesuai alokasi pemerintah dan menyediakan juga pupuk non-subsidi untuk kebutuhan yang tidak teralokasi pada skema subsidi,” paparnya.

Lebih jauh diungkapkan, Petrokimia Gresik sebagai perusahaan solusi agroindustri saat ini memiliki 31 pabrik dengan kapasitas produksi sebesar 8,9 juta ton per tahun. Terdiri dari 5 juta ton pupuk dan 3,9 juta ton non-pupuk.

Dari 5 juta ton kapasitas produksi pupuk, sebesar 2,7 juta ton di antaranya adalah pupuk NPK dan NPS (terbesar di Indonesia). Dari jumlah tersebut sebesar 2,2 juta ton digunakan untuk memenuhi alokasi pupuk NPK bersubsidi. Sedangkan selebihnya untuk memenuhi pasar komersil seperti retail maupun ekspor.

“Keunggulan kompetitif dari Petrokimia Gresik adalah mampu memproduksi pupuk NPK dan NPS dengan formulasi sesuai kebutuhan konsumen, sehingga sangat customized,” tutup Digna. (hen)