Pengalaman Terpapar Covid-19 (1-bersambung)

Reporter : Redaksi - klikjatim

Oleh

Aries Wahyudianto

Pemimpin Redaksi Klikjatim.com

 

PANDEMI Covid-19 memang sampai hari ini belum selesai. Ini masih ditandai dengan angka terkonfirmasi positif yang masih diatas 10 ribu perhari dengan angka kematian rata-rata di atas 1.000 kasus kematian secara nasional perhari. Kendati angka kesembuhan tinggi diatas 20 ribu dan bed occupancy rate (BOR) rumah sakit yang sudah jauh turun dibanding awal Juni hingga pertengahan Juli 2021 lalu, namun ancaman Covid itu masih ada dan terasa.

Siapa bilang Covid masih ada? Saya yang sendiri yang mengatakan hal itu karena saya juga sudah mengalami 16 hari berdiam  diri di dalam kamar rumah karena POSITIF Covid. Ya saya yang selama ini mematuhi ketentuan pemerintah untuk menerapkan protokol kesehatan dan hidup sehat di rumah, lingkungan dan kantor serta aktifitas sehari-hari nyatanya kena juga.

Ketika saya kena, sempat ada pertanyaan kok bisa, lho aku kan sudah terapkan 3 M dan 5 M, serta protokol kesehatan yang ketat kok masih kena, salah saya dimana kok kena Covid-19. Pikiran itu berkecamuk sehari setelah hasil swab antigen saya dinyatakan positif.  Namun secepat kemudian saya mencoba menghilangkan pertanyaan-pertanyaan konyol yang muncul di benak saya.

Ya saya kemudian berkesimpulan, terpapar Covid-19 ini mirip orang ikut arisan ibu-ibu PKK. Kita tidak tahu siapa yang dapat kopyokan nomor atas atau nomor belakang. Saat mengambil slot undian kita berharap nomor depan nyatanya dapat nomor belakang. Begitu pula Covid ini, kita sudah berusaha menerapkan 3M dan 5 M protokol kesehatan ketat masih kena, sementara ada yang dengan santai tidak bermasker sering bergerombol malah belum kena.

“Yo wes berarti saya hari ini dapat kopyokan arisan Covid mau tidak mau harus menjalani dan menyembuhkan diri mematuhi saran dokter,” guman saya.

Pada 5 Agustus 2021 pagi, saya berangkat ke Puskesmas Kebomas untuk memeriksan kembali swab antigen. Jam 07.30 sample diambil melalui tes usap hidung nasofaring, kemudian jam 11.00 hasilnya keluar dengan status Positif Covid.

Sebelum terkena, saya ingat-ingat beraktifitas bertemu dengan beberapa orang di acara kementerian di Manyar dan bertemu di kafe dengan rekan BUMN di Gresik. Saat itu tebakan saya terpapar karena sempat melepas masker untuk makan dan minum sambil ngobrol. Tidak ingin orang lain ikut terpapar, saya menghubungi orang-orang yang sempat ngobrol dan berdekatan dengan saya.

“Mas sampeyan gak apa apa ta,” tanyaku kepada rekan yang sempat ngobrol. “Mbak saya positif, apakah teman-teman yang saya ajak ngobrol tidak merasa gejala Covid?” tanyakan.

Hari pertama sebagai penyandang pasien isolasi mandiri tubuh demam 37 sampai 39 derajat dan batuk. Di kamar tidur tersedia oxymeter, tensimeter, termometer digital. Tiap dua jam saya cek, saturasi oksigen 96, suhu masih bertahan 38 dan tekanan darah 110/70. Parameter ini kemudian saya laporkan ke dokter Cholifah, dokter Puskesmas Kebomas.

Kemudian saya ditanyakan keluhan badan saya apa saja. Inilah yang saya suka dengan sistem kesehatan yang dibangun Pemerintah Kabupaten Gresik. Pasien yang menjalani isolasi mandiri dipantau melalui WA dan telepon. Kemudian obat-obatan disediakan dan diambil di UGD Puskesmas Kebomas. Saat itu saya mendapatkan obat anti virus oseltamivir, azytromicyn, parasetamol, vitamin C, zync dan vitamin D serta obat batuk.

Ada sahabat yang mengirimi saya obat Lian Hua Jianong ada juga yang memberikan Avigan atau obat flu Jepang. Namun saya putuskan minum obat puskesmas ditambah Lianhua dan sambiloto. Saya juga nurut perintah dokter untuk berjemur jam 10 pagi selama 30 menit untuk mendapatkan vitamin D yang cukup.

Pada hari pertama menjalani isoman sebagai pasien Covid, seluruh anggota keluarga saya ungsikan ke lantai 2, sementara saya di lantai 1. Di kamar juga tersedia alat desinfektan, fooging disienfektan, hand sanitezer. Pokoknya semua komplet. Saya juga melapor ke Ketua RT bahwa saya menjalani isolasi mandiri. Tak lama kemudian ibu-ibu PKK mengirimi paket makanan dan obat-obatan.

Alhamdulillah keluarga dan tetangga memberikan suport penuh untuk menjalani isoman. Sehingga untuk urusan makanan dan obat-obatan sudah cukup. Hari pertama yang sempat muncul pertanyaan akhirnya terjawab dengan dukungan keluarga, petugas puskesmas Kebomas dan tetangga. Sehingga saya mantab menjalani perawatan Isoman dengan memberikan sugesti pada diri, Saya Hanya Sakit Flu Biasa, Saya Harus Sembuh. Bismillah (*)