Pengalaman Terpapar (2)

Reporter : Aries Wahyudianto - klikjatim.com

Oleh Aries Wahyudianto

Pemimpin Redaksi Klikjatim.com

 

DALAM cerita sebelumnya saya lewati hari pertama terpapar Covid dengan kebingungan namun tidak sampai larut dalam kepanikan. Malam hari saya sempat menggigil dengan suhu badan 38,7 derajat, saturasi mepet yakni 94 serta tekanan darah 110/70. Dengan proses isolasi mandiri yang saya jalani, di kamar bolak balik ke kamar kecil karena memang sejak awal saya perbanyak minum air putih hangat. Dalam sehari semalam saya bisa minum 8 liter air putih.

Yang agak membuat repot adalah saya tidak bisa tidur karena menggigil tadi. Untuk meredam panas, saya minum parasetamol dan obat herbal sambiloto. Lumayan panas turun tapi tetap diatas rata-rata suhu normal yakni 37,6 derajat. Akhirnya malam pertama Covid saya tidak tidur sama sekali hingga Subuh. Untuk menghilangkan kebingungan dan pikiran yang sedikit halu, saya gunakan salat malam mulai tahajud, hajat maupun tasbih.

Oh ya untuk mengurangi beban pikiran, pada malam pertama Covid itu saya gunakan untuk menghubungi teman-teman yang baru saja sembuh dari Covid. Mereka di antaranya Huda dari Metro TV, Yasin Jawa Pos Tivi, Angga dari TV 9, Jonis Humas DPRD Gresik, serta adik-adik saya yang sudah sembuh dari Covid. Dari diskusi melalui telepon WA itu saya mendapat gambaran bagaimana menghadapi Covid ini dengan tenang dan ada semangat yang disampaikan dari rekan-rekan penyintas.

Di hari kedua, demam dan batuk serta nyeri sendi masih mendominasi keluhan. Untuk itu, obat-obatan dari rumah sakit maupun Puskesmas Kebomas saya minum. Untuk anti virus oseltamivir 2 kali sehari, azitromicin 1x sehari, obat batuk dan panas, Kemudian vitamin Bcomzet, vitamin D, zync masing-masing  sehari sekali. Sementara obat herbal yang saya minum adalah sambiloto obat dan Lianhua Jianong 4 tablet sekali minum selama 3 kali sehari.

Seperti halnya di hari pertama, pada malam hari keluhan masih sama, badan rasanya capek dan lelah namun dibuat tidur susahnya minta ampun. Bahkan pada malam hari sekitar pukul 22.30, saturasi oksigen sempat turun di angka 91 (normalnya batas bawah adalah 94). Dan nasehat dokter kalau sudah di bawah angka 94 harus segera pakai bantuan oksigen dalam tabung atau masuk rumah sakit.

Sekali lagi saya mencoba berpikir positif dan tenang. Karena tidak ada tabung oksigen, dan posisi sudah malam, saya mencoba melakukan proning selama hampir 1 jam. Perlahan-lahan saturasi mulai naik hingga di angka 97. Alhamdulillah saya tidak sampai opname karena saturasi rendah. Namun saya tidak menyarankan ini, jika anda terpapar kemudian tidak ada bantuan oksigen sebaiknya datangi rumah sakit untuk mendapatkan bantuan medis.

Selepas tengah malam setelah saturasi kembali normal, dorongan untuk sembuh yang kuat membuat saya tetap menjalani dengan pikiran tenang.  Sejak terpapar di hari pertama, saya sengaja meninggalkan semua rutinitas pekerjaan seperti editing, koordinasi redaksi dan marketing.

Media sosial untuk sementara tidak saya sentuh, smartphone saya gunakan untuk menambah literasi tentang cerita-cerita penyintas Covid yang sudah sembuh dengan sejumlah cara dan ragam yang menarik. Ini pula yang membuat semangat saya untuk sembuh cukup kuat. Sementara televisi lebih banyak saya gunakan melihat tayangan National Geographic, Animal Planet, Cartoon Network, serta siaran langsung dari Masjidil Haram dan Masjid Naawi, Madinah.

Ya saya memang berusaha menghindari siaran berita serta aneka postingan media sosial yang saya pikir malah bikin pikiran mumet membaca postingan yang aneh-aneh. Di hari ketiga baru saya menemukan yang namanya tidur pulas. Itu terjadi setelah dokter di RS Semen Gresik memberikan obat batuk racikan yang mampu meredakan batuk dan membuat mata ngantuk. Terima kasih dokter yang sudah meresepkan obatnya.

BACA JUGA :  Terpapar Covid-19, Kadis DP5A Surabaya Chandra Oratmangun Meninggal

Dan kabar baik mulai muncul di hari kelima. Panas badan sudah mulai turun yang ditandai dengan lancarnya buang air besar (BAB), mandi keringat di malam hari jelang subuh, serta persendiaan mulai enakan. Sehingga sejak saat itu obat penurun demam parasetamol mulai saya tinggalkan. Di hari kelima ini, saya perbanyak mencari keringat dengan olah raga ringan di lantai 3 sekaligus mencari paparan sinar matahari pada jam 10.00 sampai 11.00 untuk mendapatkan vitamin D yang maksimal.

Praktis perjalanan isolasi mandiri hingga hari kedelapan sudah mulai normal. Obat obatan herbal seperti sambiloto, lianhua sudah habis, dan pereda demam tidak saya pakai. Hingga yang saya minum tersisa oseltamivir, vitamin, serta obat batuk. Oh iya selama menjalani isolasi mandiri saya minum prebiotik mereknya Pro Em, tigak kali sehari. Sekali minum satu sendok makan dicampur air hangat 1 gelas.

Sementara untuk nutrisi makanan, sejak awal saya memang tidak pilih-pilih makanan meskipun rasanya asin gara-gara anosmia di hari kelima dan keenam. Semua makanan yang disediakan istri saya lahap, pikiran saya yang penting kenyang dan asupannya cukup. Kemudian minuman herbal seperti lemon madu tiap pagi dan malam, susu jahe madu pada sore, jus kurma serta jus buah pada siang. Buah-buahan seperti pisang, jeruk, pepaya, apel juga setia menemani masa-masa isolasi mandiri.

Pada hari kesepuluh, saya memberanikan diri untuk melakukan swab antigen sendiri. Ini saya lakukan karena hampir semua tanda-tanda paparan Covid mereda kecuali batuk. Dan pada pagi itu 15 Agustus 2021, saya masukkan alat usap ke hidung hingga menyentuh membram dalam. Setelah mendapatkan lendir hidung, kemudian saya masukkan ke cairan reagen hingga 3 menit. Selanjutnya cairan saya tuangkan ke alat test antigen yang perlahan-lahan membasahi seluruh alat indikator.

Dan Alhamdulillah indikator menunjukkan ke huruf atau negatif. Sementara kalau T artinya positif. Fakta ini semakin membangkitkan semangat untuk sembuh. Namun untuk memastikannya lagi, saya meminta tes swab antigen di Puskesmas Kebomas, Gresik. Keesekoan harinya saya menjalani swab di puskesmas. Seperti dugaan sebelum berangkat, tiga jam setelah swab hasilnya keluar. Hasilnya sama, saya sudah negatif. Sekali lagi Alhamdulillah.

Kabar ini juga disambut gembira oleh seluruh keluarga baik anak istri maupun orang tua dan saudara saya. Sepulang swab, saya mulai melakukan pembersihan area isolasi mandiri. Semua ruangan yang saya gunakan isolasi mandiri saya semprot dengan cairan disinfektan berupa campuran bayclin dan wirpol. Tidak hanya kamar, seluruh ruangan di lantai 1 saya semprot semua, hingga merata dan bersih.

Baju-baju yang saya gunakan selama isolasi mandiri saya kumpulkan dan saya cuci sendiri dengan detergen dan cairan pemutih bayclin. Termasuk sprei kasur bantal dan guling. Benda-benda di kamar juga saya semproti dengan disinfektan dan penyemprot disienfektan produksi Wings Group.

Dalam komunikasi, dr Nur Cholifah, dokter Puskesmas Kebomas meminta saya untuk tetap menjalani isolasi mandiri selama 3 hari kedepan. Setelah 15 hari hasilnya swab antigen tetap negatif, sehingga saya diperbolehkan untuk beraktifitas kembali. Dan sejak saat itu saya dinyatakan lulus cumlaude dari Akademi Covid-19 berkat doa kepada Allah SWT, semagat dari anak istri, nasehat dokter, obat dan herbal serta dorongan semangat positif dari rekan-rekan penyintas dan sahabat lainnya.

Selama hampir 15 hari saya menjalani isolasi mandiri saya simpulkan bahwa kesembuhan itu datang dari diri kita sendiri. Semangat untuk sembuh melalui sugesti diri bahwa saya kuat, saya sakit biasa dan saya bisa sembuh setidaknya membentuk imunitas psikis yang ikut membantu proses penyembuhan. (*)