Pendidikan dan Sebuah Mangga

Reporter : Redaksi - klikjatim

Oleh

Dewi Musdalifah.
Pegiat literasi, Penulis dan Guru SMA Muhammadiyah 1 Gresik

 

Pendidikan bukan sekedar membicarakan tentang “Apa”, namun juga membahas ” Bagaimana”.

Memahami tentang buah mangga, selayaknya mengerti bagaimana bentuk biji mangga, cara menanam dan merawat, batang pohon, daun dan rupa buah. Kemudian, menyentuh kulit dan mengupasnya. Tahu macam warna, merasakan asam atau manisnya. Barulah bisa disebut belajar tentang buah mangga.

Begitu juga seharusnya pendidikan menempatkan bahasa sebagai cara dan alat untuk memasuki pengetahuan. Tanpa kesadaran ini, sulit bagi pembelajar untuk berkembang dan mengejar ketertinggalan.

Bagaimana membaca teks dan konteks jaman jika tidak memiliki perbendaharaan bahasa yang kaya. Tentu akan sangat terbatas menandai peristiwa.

Apa hubungannya puisi dengan pendidikan? Seperti pemandatannya, puisi memberlakukan pilihan kata atau diksi sebagai syarat. Dan syarat ini pun dibutuhkan dalam berkomunikasi, menuangkan ide dan menyampaikan pesan.

Tentu saja, dibutuhkan kosa kata yang tak boleh miskin. Kreatifitas bahasa mutlak dipunyai. Personifikasi, metafora, daya ungkap, komunitas kata, tubuh kata atau kata tubuh adalah bagian-bagian perangkat bahasa yang membangun sebuah puisi.

Tanggal 9 November 2021. Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik menyelenggarakan pelatihan menulis dan membaca puisi tingkat SMP Negeri dan Swasta. Bertempat di Aula lantai 2. Diikuti 55 peserta dari berbagai lembaga pendidikan di Kabupaten Gresik. Bertujuan memberi makna pada “Bagaimana” kata menjadi selarik puisi dan cara membacakannya.

Memandang nyala mata peserta yang antusias, 3 jam berdiri dan jungkir balik dalam kata tak membuat lelah. Pernyataan paling indah, saat salah satu peserta memberi statement : “Saya tak pernah menulis puisi, namun saat ini setelah tahu keindahan puisi dan bagaimana menulisnya, saya sangat tertarik mencobanya dengan sungguh-sungguh”. Itu artinya dia akan belajar tentang pengetahuan bahasa. Dan pada akhirnya membuka pintu pengetahuan dari berbagai sumber kehidupan.

Kecerdasan berbahasa menjadi keniscayaan dalam menerjemahkan setiap peristiwa. Kesadaran tentang otentisitas diri masing-masing. Menjadi kekuatan dan modal menjalani hidup yang memang sudah unik. Bahwa menulis apapun itu bersifat personal dan sejarah mental penulisnya. (*)