Pemprov Sebut 30 Persen Desa Siap Observasi Pemudik

Reporter : Aries Wahyudianto - klikjatim.com

KLIKJATIM.Com | Surabaya – Sebagai langkah antisipasi penyebaran Corona Virus Disease (Covid), Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, berupaya menyiapkan desa agar memiliki lokasi observasi bagi pemudik. Guna memastikan kesiapan hal itu, ia telah berkoordinasi dengan kepala daerah di Jawa Timur dan menegaskan agar di tiap desa juga mulai bisa melakukan isolasi secara mandiri bagi warga yang pulang kampung.

BACA JUGA :  Bapenda Jatim Gandeng BUMDes Untuk Permudah Pembayaran Pajak

“Dari data yang kami terima dari Pangdam (Mayjen TNI R Wisnoe Praseja Boedi), saat ini sudah 29,9 persen atau sekitar 30 persen desa di Jawa Timur sudah memiliki lokasi untuk observasi. Tentunya desa yang lain juga harus melakukan hal serupa untuk mencegah penyebaran Covid 19,” kata Khofifah saat di Mapolda Jatim, Kamis (9/4).

Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak mudik atau pulang kampung. Namun, Khofifah juga menyiapkan sejumlah protokol kesehatan bagi warga yang sudah terlanjur mudik.

Salah satunya, Gubernur perempuan pertama di Jatim ini meminta para pemudik melakukan observasi atau isolasi diri secara mandiri sesampainya di kampung halaman. Khofifah juga menugaskan kepala desa untuk turut memantau konservasi atau isolasi mandiri yang dilakukan para warga.

BACA JUGA :  Pemkot Surabaya Gelar Apel Kesiapsiagaan Bencana dan Training Atasi Gempa Bumi

“Kami melakukan koordinasi kaitan dengan update pelayanan dari seluruh proses untuk menangani dampak dari COVID-19 ini. Masing-masing daerah memang diharapkan punya layanan di lini paling bawah, harapannya RT, RW, Dusun, minimal adalah desa,” katanya.

Ia mengingatkan masyarakat yang terlanjur mudik, harus bisa tetap menerapkan physical distancing dengan anggota keluarga lain. “Layanan ini nanti akan disiapkan lebih banyak lagi. Misalnya ketika Pak Bupati Lamongan menyampaikan pemudik yang masuk dari Jakarta, sekarang beliau menyampaikan itu sekitar 10 ribu. Apa yang ingin saya sampaikan menjadi ruang observasi dan di tingkat paling bawah akan lebih efektif lagi. Terpenting mereka bisa bertemu dengan anggota keluarganya tapi tetap dengan physical distancing” imbuhnya.

BACA JUGA :  Semen Indonesia Bagikan Deviden 40% Senilai Rp 1,12 Triliun

Layanan observasi atau isolasi mandiri ini bisa dilakukan maksimal 14 hari. Kendati demikian, ia meminta kepala desa untuk mengimbau warga tak mudik dahulu. Hal ini untuk menghindari anggota keluarga lainnya tertular virus Corona yang bisa saja terbawa saat perjalanan mudik.

“Imbauan sudah dilakukan, dari pimpinan asosiasi sate madura, asosiasi soto lamongan, asosiasi penyetan lele misalnya. Kepala desa juga bisa meminta warganya tidak mudik dulu pada saat COVID 19 belum berhenti total. Kalau terpaksa mudik, maka ini harus menyiapkan segala sesuatunya,” pungkasnya. (hen)