Pembunuh Janda Kraksaan Ternyata Dukun Pengganda Uang

Reporter : Didik Nurhadi - klikjatim.com

Muhammad Anwar Tersangka pembunuh janda Juwariyah (dua dari kanan) saat diamankan di Mapolres Probolinggo.

KLIKJATIM.Com | Probolinggo – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Probolinggo berhasil mengungkap misteri terbunuhnya Juwariyah (50) janda asal Desa Alassumur Kulon, Kecamatan Kraksaan, Probolinggo. Korban dibunuh Muhammad Anwar (43) yang berprofesi sebagai dukun dan mengaku bisa menggandakan uang. Pelaku membunuh korban karena kalap saat dirinya ditagih uang hasil penggandaan yang dijanjikannya.

BACA JUGA :  Gerindra Jatim Beri Pendampingan Psikis Anak Yatim Dampak Covid-19

Kapolres Probolinggo AKBP Ferdy Irawan menjelaskan, korban mengenal pelaku sejak dua bulan lalu. Perkenalan terjadi karena tersangka sering berziarah ke sebuah makam di Desa Asembagus, Kraksaan. Selepas berziarah, tersangka biasanya mampir ke sebuah warung dekat makam.

Sementara korban sering menagih uang tabungan dan arisan dari warga di Asembagus. Mereka akhirnya bertemu dan berkenalan. Komunikasi secara intens kemudian terjalin. Lalu Senin (12/4/2021), korban bercerita pada tersangka bahwa tabungan dan arisan yang dijalankannya sedang bermasalah.

 

Uang yang sejatinya akan dibagikan menjelang Lebaran, dipinjam oleh seseorang dan belum dikembalikan. Karena kebingungan, korban meminta tolong kepada tersangka. “Tersangka selain guru agama juga dipercaya dapat menggandakan uang. Karena itu, korban meminta tolong kepada tersangka untuk menggandakan uang. Tersangka pun menyetujui permintaan itu,” terang Kapolres.

Mereka sepakat menggelar ritual penggandaan uang pada hari Kamis (15/4/2021). sekitar pukul 22.00 di rumah korban. Awalnya tersangka diterima di depan rumah. Karena ritual membutuhkan suasana sepi, kemudian korban mengajak tersangka ke kamarnya. Ritual lantas dilakukan di kamar.

“Uang milik korban sebesar Rp 104 juta digandakan di kamar itu dengan ritual khusus. Sayangnya, upaya yang dilakukan tidak berhasil,” ungkapnya.

 

Korban pun kecewa. Korban lantas memaksa tersangka untuk menggandakan uang yang sudah disediakannya. Tidak hanya memaksa, korban mengancam akan berteriak kalau ritual penggandaan uang itu tidak berhasil. Sehingga, teriakannya akan mengundang warga. Diancam seperti itu, tersangka jadi emosi.

“Tersangka emosi dan gelap mata. Akhirnya menjerat leher korban menggunakan kerudung cokelat milik korban. Tersangka juga menganiaya korban sehingga menyebabkan beberapa luka pada tubuh korban dan akhirnya meninggal dunia,” tuturnya.

“Tersangka akan kami jerat dengan Pasal 338 KUHP jo Pasal 365 KUHP ayat 1, ayat 2 angka 1e, dan ayat 3. Ancaman hukumannya paling lama 15 tahun penjara,” terang Kapolres Probolinggo. (ris)