Pembangunan Superblok Mutiara City Sidoarjo Ditentang Warga, Akses Jalan Truk Pengangkut Sirtu Diblokir

Reporter : Satria Nugraha - klikjatim.com

Warga yang didominasi emak-emak memblokir jalan. (Satria Nugraha/klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com I Sidoarjo—Warga RT 9, RW 4 Desa Sidodadi, Kecamatan Candi, SIdoarjo meradang. Mereka memblokir jalan raya yang setiap hari dilewati truk pengangkut pasir dan batu (sirtu) pembangunan perumahan yang dikerjakan pengembang Mutiara City.

BACA JUGA :  Praktik Tanah Oloran di Pesisir Kenjeran Semakin Berani

Ratusan warga yang protes ini didominasi oleh emak-emak. Tampak juga beberapa anak-anak juga ikut turun jalan memblokir jalan. Pembangunan superblock Mutiara City sendiri berada di sebelah timur Desa Sidodadi.

Ketua RT setempat, Sumadji mengatakan, sebelumnya warga dan pihak Mutiara City telah sepakat jika aktifitas truk yang melintas mulai 18 Mei hingga 20 September 2020. Nah, meski perjanjian itu telah berakhir, namun tidak ada pembaharuan perjanjian dari pihak Mutiara City.

“Perjanjian antara warga dengan pihak pengembang perumahan itu sudah berakhir, namun masih banyak truk-truk pengangkut material masih melewati jalan desa kami,” kata Sumadji.

Sumadji menambahkan, bahwa perjanjian itu berlalu selama empat bulan dimulai 18 Mei 2020 hingga 18 September 2020. Perjanjian masa berlaku sudah habis, namun dari pihak pengembang belum melakukan pembaruan perjanjian.

“Sebenarnya tanggal 21 September kemarin ada pertemuan antara warga dan pihak pengembang, tapi hasilnya belum ada kesepakatan,” imbuh Sumadji.

Ali Hasan, selaku kuasa hukum warga mengatakan, dalam proses pembuatan superblok Mutiara City itu sebelumnya ada perjanjian antara warga dan pihak pengembang.

“Karena perjanjian itu sudah tidak berlaku, maka warga minta perjanjian itu diperbarui. Selain itu juga ada kesepakatan-kesepakatannya juga diperbarui. Sebenarnya sudah ada pertemuan, namun tidak ada kesepakatan,” terang Ali.

Terpisah, Dhuhri Permata perwakilan PT Purnama Indo Investama selaku pengembang superblok Mutiara City berdalih, jalan yang dilalui truk pengakut sirtu untuk menguruk lahan superblok tersebut merupakan jalan kabupaten. Pihaknya telah berkoordinasi dengan Pemkab Sidoarjo .

“Kami juga telah memberikan kompensasi terhadap warga di tiga RT dan rumah ibadah yang terdampak proses pengangkutan sirtu. Jumlahnya sekitar Rp 350 juta. Dari surat perjanjian dengan warga dan pihak terkait tidak ada perjanjian batas waktu empat bulan seperti yang diklaim warga,” jelas Dhuhri.

Diperkirakan Dhuhri, proses pengurukan diperkirakan akan selesai pada awal Bulan Nopember 2020. (mkr)