Pelindo III dan TPS Gandeng PT KAI Koneksikan Jalur Logistik ke Pelabuhan

Reporter : Much Taufiqurachman Wahyudi - klikjatim.com

Dirut Pelindo III Boy Robyanto bersama Direktur PT Terminal Peti Kemas Surabaya Dothy disaksikan Dirut KAI Didiek Hartantyo menandai peluncuran KA logistik dari Surabaya ke Jakarta

KLIKJATIM.Com | Surabaya – PT Kereta Api Indonesia (Persero) meresmikan perjalanan KA Barang Peti Kemas dengan rangkaian 10 gerbong berkapasitas 20 TEUs dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya menuju Stasiun Pasoso, Jakarta.  

BACA JUGA :  Tol Langsung Bablas Bayar Otomatis Bakal Beroperasi 2023

Perjalanan perdana tersebut diresmikan oleh Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo bersama Direktur Utama Pelindo III Boy Robyanto dan Direktur Utama Terminal Peti Kemas Surabaya (TPS) Dothy, Kamis (3/6/2021).

Dengan terbangunnya konektivitas jalur kereta api ke Pelabuhan Tanjung Perak tersebut, maka distribusi logistik menjadi lebih efisien. Integrasi jalur KA dan pelabuhan ini merupakan salah satu wujud implementasi MoU antara KAI dan Pelindo III sebagai induk usaha Terminal Petikemas Surabaya yang dilakukan pada November 2020 lalu.

“Kami atas nama KAI mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pelindo III dan TPS atas semangat kolaborasi ini mewujudkan sinergi dalam bentuk konektivitas antara angkutan kereta api dan pelabuhan,” kata Dirut KAI Didiek Hartantyo, Kamis  (3/6/2021).

Didiek mengatakan reaktivasi angkutan logistik ini merupakan milestone yang sangat penting, dimana dengan diaktifkannya kembali pengoperasian angkutan logistik kereta api dari dan menuju terminal petikemas ini dapat memberikan nilai lebih untuk industri logistik dan kepelabuhanan nasional sebagai value creator dan membuat lebih kompetitif.

“Reaktivasi jalur kereta api yang terintegrasi dengan Terminal Petikemas Surabaya selaras dengan visi KAI yaitu menjadi solusi ekosistem transportasi terbaik untuk Indonesia,” ujar Didiek.

Jalur Terminal Petikemas Surabaya menuju Stasiun Kalimas kembali diaktifkan setelah terakhir beroperasi pada 30 Maret 2016. KAI telah melakukan berbagai persiapan sebelum jalur itu dinyatakan laik operasi, diantaranya pembongkaran material yang menutupi jalan rel, penggantian wesel dan bantalan rel baru, serta memperbaiki posisi rel.

 “Kami berharap semangat sinergi, kolaborasi, dan konektivitas yang terintegrasi ini dapat sustain untuk membangun value added bagi industri logistik dengan cara lebih efisien. Sehingga biaya logistik nasional yang masih sekitar 23-26% secara nasional dapat mendekati negara-negara maju antara 8-12%,” jelas Didiek. (ris)