Para Teruna Penjemput Pengetahuan

Reporter : Redaksi - klikjatim

Catatan kecil perjalanan ke Bawean, edisi 2 :

Oleh Dewi Musdalifa, Pegiat Literasi dan Ketua MPI PDM Gresik

HISYAM, pemuda perawakan Timur Tengah ini saya jumpai sekitar 7 tahun yang silam. Saat itu pemuda ini datang bersama sekumpulan mahasiswa STAI Hasan Jufri Bawean untuk magang di lembaga tempat saya bekerja.

Dialog-dialog kami intens, seputar pengembangan kapasitas diri hingga mimpi membangkitkan Pulau Boyan dari ketertinggalan. 1 bulan dalam pergulatan pemikiran, menjadi bekal keberanian baginya merintis komunitas berdaya saat kembali ke Bawean.

Tentu saja ini dibuktikannya, ketika saya beserta rekan penulis Timur Budi Raja bertandang ke Desa Daun, Bawean. Hisyam bersama beberapa pemuda yang terhimpun dalam komunitas yang dibangunnya menyambut kami dengan apresiatif dan hangat.

Mereka disatukan dalam komunitas Jendela Belajar Bawean (JBB). Sebuah entitas yang diniatkan concern bergiat di dunia literasi. Komunitas ini dibentuk setahun yang lalu, namun disebab keterbatasan elemen pendukung dan lemahnya jaringan, pergerakannya menjadi sangat lamban.

Sebuah pertemuan kecil dihelat di kedai kopi Angkasa yang terletak di kawasan pelabuhan, di selatan Sangkapura. Di tempat itu mengalir perbincangan perihal semesta kepenulisan, pentingnya militansi dan keberdayaan dalam pengembangan komunitas.

Siapa kita dan Mau apa kita?, begitulah pertanyaan sederhana dan paling elementer ini dijadikan tema obrolan perhelatan kecil sore itu. Pertanyaan sepele yang diniatkan sebagai alat ukur sederhana untuk menelisik sejumlah harapan kesadaran yang tersisa dan masih memungkinkan dari para pemuda Bawean untuk membangun diri dan lingkungannya. Dari pertanyaan kecil ini kemudian pemuda-pemuda itu diharapkan mampu merumuskan titik tolak kesadaran untuk terus bergerak dan berjuang untuk membangun peradaban yang lebih baik dan tidak meninggalkan Bawean.

Untuk memiliki kemampuan berliterasi yang baik. Perintah Iqro’ menjadi penting. Dan harus dimaknai tidak sekedar membaca. Namun lebih jauh lagi seluruh panca indra bekerja, mengalami dan menerjemahkan menjadi bahasa dan kata.

Apa yang terjadi dalam diri dan di luar diri adalah teks yang harus sama-sama dibaca sebagai bentuk pengalaman dan pengetahuan. Tidak berkembangnya sebuah tulisan di sebabkan minimnya perbendaharaan kosa kata, sudut pandang dan referensi pengetahuan.

Maka kamipun menitipkan beberapa buku kepada mereka untuk dikaji dan diriview menjadi catatan utuh. Mensuport kegiatan menulis sesuai kapasitas dan latar belakang yang dimiliki. Dan dengan bahagia menghimpunnya dalam 2 group Whats App Bawean Menulis dan Aksara Noko.

Selamat datang para “musketers” penjemput pengetahuan. (*)