Mudik ? Haruskah Kita Menyusul (India)

Reporter : Aries Wahyudianto - klikjatim.com

Catatan Aries Wahyudianto

Pemimpin Redaksi Klikjatim.Com 

 

RAMADAN sudah memasuki pekan kedua dibarengi dengan perpanjangan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro, mulai 20 April hingga 3 Mei 2021. Kebijakan yang sebenarnya berbanding terbalik dengan harapan sebagian masyarakat yang menginginkan perayaan ramadan hingga lebaran nanti bebas sebagaimana pada 2019 silam.

Saat itu, seluruh sudut pemukiman dan kota selalu diwarnai keramaian pasar tumpah ramadan, masjid dipenuhi warga bebas tanpa masker, dan yang menjadi tradisi turun temurun adalah mudik. Dan lebaran saling bersilaturahmi sambil mencicipi nastar dan kastengel berkumpul bersama keluarga menikmati es sirup marjan atau orson kala itu. Semua berkumpul bebas, bercengkerama tanpa masker penuh dengan kehangatan.

Ya siapa yang tidak menginginkan suasana seperti itu. Tidak hanya umat muslim Indonesia yang menginginkan suasana seperti itu, yang non muslim juga berharap demikian bisa menikmati libur panjang hampir 7 hari berekreasi bersama keluarga.

Bukannya Jawa Timur hampir sudah masuk zona kuning ? bukannya angka vaksinasi Jawa Timur tertinggi nomor dua di Indonesia. Lihat rumah sakit di Jawa Timur angka bed ocupancy rate (BOR) atau tingkat kerterisian bed pasien sudah rendah, pasien yang dirawat di ICU juga berkurang tinggal 20 persen saja.

Pemikiran seperti itu sebenarnya juga dipikirkan hampir sebagianbesar warga India. Sejak September 2020 silam, angka positif harian turun dan angka kematian harian terus menurun hingga akhir tahun. Optimisme itu ditambah dengan ditemukannya vaksin ‘lokal’ India yang disebut manjur. India pun tidak segan-segan mengekspor vaksin buatannya ke negara lainnya yang membutuhkan.

Karena dirasa melandai, pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi kemudian melonggarkan pembatasan kegiatan masyarakat. Di medsos kita mulai jarang melihat video singkat kekejaman Inspektur Vijay (sebutan khas polisi India) bawa pentungan menggaprok pelanggar protokol kesehatan.

Yang terjadi malah India mengendorkan lock down untuk menggelar pasta demokrasi yang diikuti ratusan juta pemilih India. Hingga kemudian puncaknya India mengizinkan perayaan pesta keagamaan ritual berendam di Sungai Gangga.

Lantas apa yang terjadi, India mengalami ledakan gelombang kedua Covid-19. Angka positif harian tertinggi mencapai 230 ribu orang sehari terpapar virus Covid dari sebelumnya dilaprokan dibawah 1.000 orang perhari. Lalu angka kematian yang tadinya perhari di bawah 100 orang perhari, sejak sepekan terakhir ini atau pertengahan April 2021 melonjak hingga 1.300 orang perhari.

Dan tenaga kesehatan, rumah sakit, pemerintah di India kalang kabut menghadapi gelombang kedua Covid-19 ini. India kemudian mulai memberlakukan kembali pembatasan kegiatan masyarakat, meski terlambat. Ini tentunya menjadi contoh nyata bahwa Pandemi Covid-19 masih belum sirna di muka bumi.

India yang sudah menemukan vaksin dan disuntikkan ke warganya ternyata belum mempan menghadapi keganasan virus Covid yang bermutasi hingga mempercepat penularannya. Sementara kita yang masih memasuki fase uji klinis tahap II untuk virus merah putih, jumlah warga yang menjalani vaksin masih sedikit.

Hingga 17 April lalu 10.801.244 orang telah mendapatkan vaksin Covid-19 dosis pertama. Sementara penerima vaksin Covid-19 dosis kedua menembus 5.889.716 orang. Total, penerima vaksin bagi petugas kesehatan, pelayan publik, dan lansia sebanyak 40.349.049 orang. Jumlah itu masih kurang dari separo penduduk Indonesia yang wajib vaksin sekitar 180 juta.

Kita tentu masih ingat libur bersama Oktober lalu ditambah libur akhir tahun dan pelaksanaan Pilkada Serentak 2020 memicu lonjakan angka pasien posiyif Covid pada awal Januari 2021 hingga Februari 2021. Pada 14 Januari tercatat 11.557 kasus perhari, lalu 15 Januari sebanyak 12.818 kasus positif, dan mencapai rekor tertinggi pada 16 Januari sebanyak 14.224.

Fakta tersebut tentunya tidak boleh kita kesampingkan bahwa Covid-19 masih mengancam di sekeliling kita. Menerima vaksin tidak menjamin kita aman dari penularan Covid. Setidaknya kejadian yang dialami istri Gubernur Jawa Barat Ridan Kamil jadi bukti nyata bahwa orang yang sudah menerima vaksin hingga dosis kedua masih bisa terpapar virus.

Mau tidak mau, suka tidak suka, lebaran tahun ini sebaiknya kita di rumah saja. Tidak perlu mudik, toh era digital kita bisa bersilaturahmi secara virtual dengan keluarga di lokasi terpisah. Kalaupun nekat mudik,  siap-siap diputar balik oleh polisi plus tilang kendaraan.

Dadi wong Jawa Timur iku kudu nurut ojo mokong, ojo angel tuturane. Wes tahan diri dulu tahun ini untuk tidak mudik dan berkerumun, hingga akhirnya menjadi carier dan transmisi penularan Covid. Kita tidak ingin seperti India yang saat saat ini kewalahan menangani pasien Covid. Bantu pemerintah, masyarakat, keluarga dan diri sendiri untuk bersama-sama mencegah penularan virus Covid-19 dan semoga tahun depan kita bisa berlebaran sambil nyumet mercon. (*)