Menilik Agro Bisnis Tanam Tembakau di Gresik Dapat Dukungan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau

Reporter : Miftahul Faiz - klikjatim.com

Panen Raya Tembakau di Desa Mojoroto Balongpanggang bersama Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani (Faiz/klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Gresik — Kabupaten Gresik menjadi salah satu wilayah yang sudah melakukan kegiatan agrobisnis tanaman tembakau. Meski dalam kondisi padat lahan yang sudah terindustrialisas, lahan untuk tembakau di kota santri sudah ada 25 hektar yang tersebar di Gresik Utara dan Selatan.

[irp]

Kepala Seksi Perlindungan Tanaman Dinas Pertanian Kasi Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten  Gresik Nur Syamsi menjelaskan, varietas tanaman atau jenis tanaman tembakau yang dipakai oleh petani Gresik adopsi dari Jombang.

“Jenis tembakau jinten yang adopsi dan difasilitasi petani Jombang,” ucap Syamsi.

Kini meski Kabupaten Gresik sudah ada lahan 25 hektar untuk penanaman tembakau, besar kemungkinan bisa menambah pasca ada penelitian tentang bagusnya lahan untuk tembakau di Gresik. Kegiatan ini didanai oleh Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Kabupaten Gresik. 

“Insyallah akan tambah lahan tahun depan. Kini masih kendala dari hasil olahan yang beberapa petani masih belajar. Dan kita pernah panen Rlraya tembakau di Desa Mojoroto Balongpanggang bersama Bapak Bupati. Yang semuanya terhitung sudah melakukan panen lima kali dalam semusim (empat bulan),” paparnya.

Para petani tembakau gresik di acara kemitraan dengan asosiasi petani tembakau Indonesia (APTI) Jombang (Faiz/klikjatim.com)

Dan terkait kualitas pohon, dikatakan Syamsi juga menjadi perhitungan untuk hasil panen yang mempunyai nilai (Grate) nikotin yang tinggi.

“Semakin tinggi Grate dari A, B, sampai C, semakin mahal harga daun tembakau. Daun yang paling atas atau pucuk paling mahal, disusul daun bagian tengah dan bawah,” jelasnya.

Sampai saat ini keuntungan dari pertanian belum dikatakan ideal . Pasalnya mulai dari pembibitan, pupuk masih belajar semua. “Kalau 1 hektar idealnya sampai 15 ton tembakau, ini hanya menampung 10 ton tembakau,” imbuhnya.

“Dengan rata-rata harga mulai Rp 2 ribu sampai 5 ribu. Itu pun kondisi daun masih basah,” tambahnya.

Para petani tembakau melihat alat rajang untuk proses produksi

Titik kelamaan, lanjut Syamsi saat kondisi daun basah harus langsung dijual dan memanfaatkan peluang permainan tengkulak mendapatkan hasil petani tembakau.

Oleh karena itu, pihaknya kini secara bertahap, para petani tembakau sudah dibekali alat untuk merajang daun hasil panen tembakau.

“Yang kemudian dilakukan penjemuran satu hari, disimpan lalu dijual,” ujarnya.

“Dan dengan adanya peralatan dirajang ini, bisa meminimalisir tengkulak,” terangnya.

Kini para petani tembakau sudah tergabung dalam Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Gresik.

“Yang tugasnya nanti memfasilitasi, advokasi dan edukasi kepada para petani tembakau di Gresik Selatan dan utara,” pungkas Syamsi. (adv)