Manfaatkan Urine Sapi dan Rempah Untuk Pestisida Non Kimia

Reporter : Ahmad Hilmi Nidhomudin - klikjatim.com

KLIKJATIM.Com | Gresik – Pemanfaatan fermentasi urin sapi plus rempah-rempah hasil temuan Petugas Pengendali OPT di Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik, Jawa Timur atas nama Achmad Soche menjadi rujukan berbagai petani di Indonesia dalam pengembangan pestisida biologi non kimia.

BACA JUGA :  13 Pelaku Perjalanan Dari Madura Terkonfirmasi Covid-19.

Guru Besar Departemen Proteksi Tanaman IPB yang juga Ketua Tim Teknis Komisi Pestisida,Prof Dadang menyatakan dukungannya dalam pengembangan pestisida alami/biologi di tingkat kelompok tani.
Menurutnya, ada beberapa tahapan dalam pemanfaatan produk pertanian yang ramah lingkungan.

Produk budidaya tanpa pestisida, penggunaan pestisida biologi, penggunaan pestisida metabolit, penggunaan pestisida sintetis yang bijaksana (GAP).

Selain itu, dalam pengembangan biopestisida diperlukan sejumlah tahapan yang harus dilakukan yaitu skrinning, seleksi proses fermentasi, pengembangan uji hayati, pengujian keamanan, pengembangan formulasi, pengujian hayati lapangan, registrasi, dan pemasaran. “Teknologi-teknologi pembuatan pestisida biologi dapat dipelajari dan dikembangkan,” katanya, Jumat (16/7).

Salah satu contoh pengembangan pestisida biologi adalah pemanfaatan fermentasi urin sapi sebagai bahan pengendali (repellent) OPT Tikus pada tanaman padi.

“Penggunaan pestisida biologi seperti yang dilakukan di Jawa Timur dengan pemanfaatan teknologi fermentasi urin sapi perlu diapresiasi dan didorong, meski untuk efektifitasnya bisa diujikembali,” tuturnya.

Dadang mengakui, pengendalian tikus menggunakan fermentasi urin sapi plus adalah cara dirinya membantu petani melepas ketergantungan pada cara pengendalian yang kurang ramah lingkungan dan berbahaya seperti racun tikus dan perangkap listrik. Apalagi fermentasi urin sapi (ferinsa) plus mudah direplikasi petani dengan tingkat kerumitan rendah, ramah lingkungan, biaya murah dan memberikan dampak luas.

Kepala UPT Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Timur,Irita Rahayu Aryati merasa bangga dan senang atas temuan inovatif salah satu POPTyang bertugas di Kabupaten Gresik tersebut.

“Sangat bangga atas temuan inovatif POPT kami,Bapak Achmad Soche berupa fermentasi urin sapi yang digunakan sebagai bahan pengendali OPT tikus,” ujarnya.

Menurutnya, pengembangan pestisida biologi merupakan bagian dari peran strategis POPT yaitu sebagai ujung tombak dalam perlindungan tanaman,baik tanaman pangan maupun hortikultura. Terutama akibat gangguan OPT dan Dampak Perubahan Iklim (DPI)dengan penerapan teknologi ramah lingkungan (sistem PHT).

“Peran POPT sangatlah vital dalam mendampingi petani dalam pengamanan produksi pangan,terutama dari potensi kehilangan hasil akibat serangan OPT,” katanya. (ris)