Manfaatkan Aset, Wali Kota Surabaya Bakal Libatkan Warga Berpenghasilan Rendah Sebagai Pengelola

Reporter : Ahmad Hilmi Nidhomudin - klikjatim.com

Wali Kota Eri Cahyadi saat panen ikan bandeng dengan menerapkan sistem silvofischery di Mangrove Wonorejo. (Hilmi/klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Surabaya –  Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi mengatatakan seluruh aset Pemkot Surabaya yang selama ini tidak dimanfaatkan atau dijaga akan difungsikan untuk kepentingan masyarakat. Terlebih di tengah pandemi Covid-19, karena banyak warga yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) dan membutuhkan pekerjaan.

BACA JUGA :  Bank Indonesia Puji Strategi Banyuwangi Pulihkan Ekonomi

“Karena itu tanah aset Pemerintah Kota kita manfaatkan. Kalau itu berupa tambak, kita berikan benih, yang mengerjakan masyarakat dan hasilnya diambil masyarakat,” kata Eri saat melakukan panen ikan bandeng sebanyak 1,25 ton dari budidaya tambak seluas 1 hektar dengan sistem silvofischer, atau penggabungan antara sektor perikanan dengan tetap memperhatikan kelestarian hutan mangrove bertempat di Mangrove Wonorejo, Jumat (12/3/2021).

Hal yang sama juga bakal diterapkan oleh Pemkot Surabaya, jika tanah aset tersebut berupa lahan pertanian. Pemkot akan mempercayakan kepada warga atas tanah tersebut agar dapat dikelola untuk lahan pertanian. Tentunya, hal ini dilakukan untuk menunjang perekonomian warga sekitar.

“Walaupun tanahnya itu bukan tambak, kita manfaatkan untuk padi dan tanaman lainnya. Fa-insya Allah intinya satu, seluruh aset Pemerintah Kota kita gunakan maksimal bagaimana untuk menunjang perekonomian warga,” harapnya.

Saat ini pihaknya sedang melakukan pendataan seluruh aset tanah yang dimiliki Pemkot Surabaya. Rencananya dalam dua minggu ke depan selesai pendataan dan tanah aset bisa digunakan. “Insya Allah dua minggu ke depan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat,” jelas Cak Eri, sapaannya.

Tak hanya itu. Pria yang pernah menjabat Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya ini juga mengungkapkan, saat ini Dinas Sosial (Dinsos) bekerjasama dengan Camat, Lurah dan RT-RW untuk melakukan pendataan kepada seluruh warga Surabaya. Pendataan dilakukan untuk mengetahui berapa pendapatan pada setiap keluarga.

Nantinya bagi warga Surabaya yang pendapatannya masih di bawah upah minimum kota (UMK), Pemkot akan memberikan intervensi berupa lapangan kerja maupun pemberdayaan ekonomi usaha.

“Saya juga mohon bantuan kepada lurah dan camat, kami mohon dibantu agar Pemerintah Kota tahu siapa warganya yang benar-benar membutuhkan, yang benar-benar warganya ini pendapatannya di bawah UMK,” pesan dia.

Sementara pada panen kali ini, Pemkot tak hanya berhasil membudidayakan ikan bandeng, tapi juga udang vaname. Melalui sistem silvofischery yang diterapkan, Pemkot Surabaya berharap warga mendapatkan manfaat dari hasil perikanan dengan tetap memperhatikan kelestarian hutan mangrove.

“Kita tanam itu 2 rean. Kalau 1 rean sekitar 5.000 (ekor ikan) berarti 2 rean 10 ribu ekor. Kalau tingkat kematiannya sekitar 10 persen, maka tinggal 7.500 ekor atau 1,2 ton. Kalau lahan tambak yang digunakan ini sekitar 800 sampai 1 hektar dan merupakan aset Pemkot,” papar Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya, Yuniarto Herlambang.

Menurutnya, budidaya perikanan tak hanya dilakukan oleh Pemkot di lokasi tersebut. Sebab ke depan, aset-aset Pemkot lain yang sudah terdata berupa tambak maupun lahan pertanian, bakal dimanfaatkan untuk membantu perekonomian warga. “Nanti kita identifikasi yang berupa tambak. Sebagian nanti ada mangrove, sebagian ada tambak yang memanfaatkan warga. Jadi warga budidaya dan hasilnya bisa dijual untuk membantu perekonomian di situ,” pungkasnya. (nul)