Lagi-lagi Peredaran Narkoba Jaringan Lapas Terbongkar, BNNK Gresik Enggan Sebut Nama dan Lokasi Lapas

Reporter : Miftahul Faiz - klikjatim.com

Kepala BNNK Gresik, AKBP Supriyanto (kiri depan) menunjukkan barang bukti yang telah diamankan dari kedua tersangka, Khusnul Fauzi dan Eko Risdiyanto. (Faiz/klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Gresik — Jaringan peredaran gelap narkoba dari dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kembali terbongkar di Jawa Timur (Jatim). Hal itu menyusul setelah tertangkapnya pemakai dan pengedar kelas teri jaringan bandar yang bersarang di dalam rumah tahanan oleh Badan Narkotikan Nasional (BNN) Kabupaten Gresik.

BACA JUGA :  Pemuda Bojonegoro Minta Dilibatkan dalam Pembangunan Daerah

Sekedar diketahui berdasarkan catatan klikjatim.com, pengungkapan kasus narkoba jaringan lapas ini bukan kali pertama. Selain di Gresik, beberapa kasus serupa juga kerap diungkap oleh petugas di kota-kabupaten lainnya di Jawa Timur. Termasuk salah satunya di Kabupaten Pasuruan beberapa waktu lalu.

Sayangnya, untuk kasus di Gresik pihak BNN pun ogah menyebutkan nama dan alamat lapas yang diduga menjadi sarang keberadaan sang bandar. “Dua tersangka ini merupakan jaringan salah satu lapas,” ungkap Kepala BNNK Gresik, AKBP Supriyanto dalam konferensi persnya, Kamis (14/1/2021).

Kedua tersangka yang diamankan adalah bernama Muhammad Khusnul Fauzi (23), warga Desa Hulaan RT 17 RW 08, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik sebagai pemakai atau pengguna, dan Eko Risdiyanto (32), warga Desa Sidowungu, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik selaku pengedar. Penangkapan terhadap keduanya dilakukan di rumah masing-masing pada Selasa (12/1/2021) kemarin.

“Barang bukti yang diamankan dari pelaku Khusnul sabu satu poket dengan berat 0,50 gram dan Hp (Handphone). Sedangkan dari pengedar Eko 19 poket klip sabu dengan berat 7,2 gram,” lanjutnya.

Menurutnya, kedua tersangka ini membeli barang dari seorang mantan narapidana (Napi) jaringan lapas. Dan lokasi yang kerap dijadikan sebagai tempat transaksi adalah warung kopi (Warkop). “Dengan bandar Pucem (Nama Samaran) ketemunya di Warung Kopi dan membeli kepada Pucem paling banyak 5 gram,” lanjutnya.

Kemudian tersangka Eko yang merupakan tukang potong ayam tersebut menjualnya lagi dengan harga eceran Rp 200 ribu per poket. Ia menjual secara online dan telepon. “Tempat transaksinya pindah-pindah. Yang paling sering di Jalan, tandanya ada pohon,” imbuh AKBP Supriyanto.

“Tersangka Eko sudah 6 bulan jualan sabu ini dan bukan residivis. Sedangkan tersangka Khusnul 2 tahun sabagi pengguna untuk dirinya sendiri. Mereka berdua satu jaringan dari Pucem,” tandasnya.

Kini, keduanya pun harus mempertanggungjawabkan perbuatanya secara hukum. Tersangka Khusnul dijerat sesuai Pasal 112 (1), 127 (1) dengan ancaman pidana 4 tahun penjara. Sedangkan tersangka Eko dijerat dengan Pasal 114 ayat (2), Pasal 112 ayat (2) Undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dengan ancaman hukuman paling singkat 5 tahun dan maksimal penjara 20 tahun atau seumur hidup. (nul)