KPR Rumah FLPP Hanya Dinikmati Golongan Tertentu

Reporter : Nur Affandi - klikjatim.com

Fasilitas kredit rumah bersubsidi selama ini dinilai DPR RI hanya dinikmati golongan masyarakat tertentu.

KLIKJATIM.Com | Jakarta – Komisi V DPR RI menilai program pemerintah melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi berbasis Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dinilai hanya dinikmati masyarakat tertentu saja. Masyarakat yang tidak bankable pun sebenarnya berhak untuk mendapatkan hunian yang layak.

BACA JUGA :  Lihat Avanza Goyang, Ada Pasangan Mesum, Digerebek Satpol PP Tinggalkan Kondom Bekas Pakai

Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Nurhayati Monoarfa dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta BP Tapera mempertanyakan apakah pekerja non-formal yang berstatus sebagai masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) bisa mendapat dana FLPP untuk membeli rumah. Menurutnya, masyarakat yang tidak bankable pun sebenarnya berhak untuk mendapatkan hunian yang layak.

“Sebab, di kampung ini ada namanya bank emok. Artinya bukan bank tetapi dia memberi pinjaman kepada petani dan lain-lain. Dan itu kembali. Artinya masyarakat ini disiplin sekali dalam mengembalikan uang,” tegas Nurhayati.

Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan Kementerian PUPR Eko Djoeli Heripoerwanto menjelaskan, pekerja MBR non-formal sebenarnya tidak dilarang untuk memakai dana FLPP. “Memang catatan mengenai MBR informal ini nanti akan menjadi lebih perhatian. Yang pasti sekarang persyaratan FLPP itu diketentuan di peraturan kami sebetulnya sekarang cuman menyaratkan ada 5,” jelasnya.

BACA JUGA :  Ruang Isolasi MPP Sidoarjo Terisi 5 Pasien OTG Covid-19

Merujuk pada ketentuan yang ditetapkan Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (PPDPP), ada enam persyaratan yang harus dipenuhi peminjam untuk bisa mendapatkan KPR FLPP. Pertama, penerima merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) yang berdomisili di Tanah Air. Selanjutnya, telah berusia 21 tahun atau menikah, belum memiliki rumah dan belum pernah menerima subsidi pemerintah untuk pemilikan rumah.

Kemudian, penghasilan maksimum Rp8 juta untuk rumah tapak dan susun, memiliki masa kerja atau usaha minimal 1 tahun, dan mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) atau Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) orang pribadi sesuai perundang-undangan yang berlaku.

Ditambahkan, pemerintah harus berkoordinasi terlebih dahulu dengan pihak perbankan untuk membuka pintu kepada MBR informal dalam memperoleh dana KPR FLPP. “Kita tidak ada larangan MBR non-formal mengakses, tidak ada itu. Tetapi karena barangkali saja kita membutuhkan saluran lain di luar perbankan. Perbankan selalu yang diutamakan adalah bankability,” tandasnya. (hen)