Komitmen Jalankan Pembangunan Berkelanjutan, Petrokimia Gresik Raih ISDA 2021

Reporter : Koinul Mistono - klikjatim.com

KLIKJATIM.Com | Jakarta – Komitmen Petrokimia Gresik, sebagai perusahaan Solusi Agroindustri yang merupakan anggota holding Pupuk Indonesia dalam menjalankan program Corporate Social Responsibility (CSR) senantiasa berfokus pada prinsip-prinsip Sustainable Development Goals (SDG) atau pembangunan berkelanjutan. Tentunya dengan menggali dan mengembangkan potensi daerah di sekitar perusahaan.

BACA JUGA :  Grup Medsos Gresik Sumpek Tiba-tiba Hilang, Diduga Ada Pihak yang Lapor

Berkat komitmen tersebut, kini Petrokimia Gresik sukses meraih Gold Winner dalam ajang nasional bertajuk “Indonesian SDG Award (ISDA)” baru-baru ini. Sustainability award tersebut diberikan kepada Petrokimia Gresik atas program “Pusat Restorasi dan Pembelajaran Mangrove (PRPM) Mengare” yang dinilai sebagai “mini map” atas implementasi ISO:26000.

Direktur Utama (Dirut) Petrokimia Gresik, Dwi Satriyo Annurogo menyampaikan bahwa sebagai perusahaan yang lokasinya berdampingan langsung dengan masyarakat, Petrokimia Gresik berkomitmen untuk terus tumbuh dan berkembang bersama masyarakat. Namun, dia menyadari hakikat pembangunan berkelanjutan bukan sekadar pemberian donasi kepada masyarakat. Karena hal tersebut hanyalah satu komponen dari beberapa subjek yang diwajibkan dalam ISO:26000.

“Oleh karena itu, community development dan pengelolaan lingkungan menjadi fokus CSR Petrokimia Gresik dan program PRPM Mengare ini merupakan salah satu implementasi atas komitmen tersebut,” ujar Dwi Satriyo, Kamis (14/10/2021).

PRPM Mengare merupakan program pemberdayaan masyarakat pesisir Desa Tanjung Widoro, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik melalui konservasi ekosistem pesisir untuk mengurangi laju abrasi, meningkatkan produktivitas perikanan dan terciptanya alternatif lapangan kerja melalui ekowisata pesisir terpadu. 

“Sepanjang pesisir Mengare telah mengalami abrasi cukup hebat dan rawan bencana rob, berbagai upaya telah dilakukan namun selalu mengalami kegagalan, oleh karena itu diperlukan upaya yang lebih masif agar kualitas ekosistem dapat pulih dan terjaga,” ujar Dwi Satriyo. 

Dalam pelaksanaannya, Petrokimia Gresik bekerja sama dengan PT Eco Sains Indonesia sebagai pelaksana dan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Desa Tanjung Widoro sebagai kelompok sasaran penerima program.

Program ini mengakomodasi beberapa core subject yang menjadi fokus CSR dalam ISO:26000, yaitu core subject ke-4; Lingkungan (environment), serta core subject ke-7; Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (community involvement and development). 

PRPM Mengare dinilai mampu berkontribusi dalam pencapaian SDG 13.1, yaitu memperkuat kapasitas ketahanan dan adaptasi terhadap bahaya terkait iklim dan bencana alam di semua negara. Di sisi lain, PRPM Mengare saat ini juga telah menjadi pilihan destinasi Eduwisata, tidak hanya bagi masyarakat Gresik, tapi juga luar kota Gresik.

“Dengan demikian, selain merestorasi lingkungan dan menjadi pusat pembelajaran terkait mangrove, program ini juga berdampak pada kesejahteraan masyarakat sekitar,” tandas Dwi Satriyo.

Berbagai langkah yang ditempuh untuk menjalankan program PRPM Mengare antara lain, pertama, membangun pengetahuan masyarakat sekitar melalui rehabilitasi mangrove. Upaya ini dijalankan dengan memberikan pelatihan dan benchmarking ke daerah yang memiliki kondisi lingkungan hampir sama. Melalui benchmarking ini diharapkan masyarakat mendapatkan pandangan baru bagaimana memaksimalkan potensi untuk dijadikan daya tarik dan upaya mengoptimalkan manfaat ekonomi.

Kedua, melaksanakan ecological mangrove restoration melalui pembibitan dan rehabilitasi mangrove, serta monitoring. Total ada empat hektare lahan mangrove yang kembali ditanami dengan memperhatikan jenis mangrove dan metode tanamnya.

Ketiga, mewadahi masyarakat setempat untuk melakukan budidaya kerang dan tiram di sekitar lokasi. Selain untuk menjaga ekosistem biota laut, hasil budidaya bisa dimanfaatkan untuk produk olahan masyarakat setempat.

Keempat, memberikan pelatihan packaging produk olahan hasil laut. Saat ini sudah banyak UMKM di Desa Tanjung Widoro, Mengare yang mengolah hasil laut, antara lain kerupuk siput, kerupuk ikan payus, kerupuk ikan laut, otak-otak bandeng baik originak, kukus, maupun goreng, bonggolan ikan payus, terasi udang, dan masin ikan. Namun masih terkendala masalah pemasaran terutama dalam kondisi pandemi seperti saat ini. Oleh karena itu diperlukan inovasi untuk meningkatkan penjualan produk UMKM. 

Kelima, perbaikan jembatan dan penambahan infografis di dalam kawasan eduwisata, sehingga menambah kemudahan akses bagi wisatawan. Petrokimia Gresik juga melengkapi kawasan tersebut dengan barbagai fasilitas, seperti toilet dan fasilitas umum lainnya.

“Kita tidak hanya memberi ikan, tapi juga kailnya. Sehingga manfaatnya dapat terus dirasakan secara berkelanjutan,” tandas Dwi Satriyo. 

Selain di Mengare, Petrokimia Gresik juga berkontribusi terhadap pembangunan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Mangrove Ujungpangkah, Kabupaten Gresik hingga mendapat apresiasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia kategori “Private Sector/Perusahaan”.

Selanjutnya pengembangan ekowisata mangrove juga dijalankan di Kali Lamong, Desa Sukorejo, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik yang kini sudah menjadi destinasi wisata baru di Gresik.

“Tidak menutup kemungkinan keberhasilan program tersebut akan terus diadopsi di tempat lain, sehingga cakupan manfaatnya lebih luas lagi,” ujar Dwi Satriyo.

Terakhir, Dwi Satriyo menyatakan bahwa kepedulian terhadap lingkungan telah memberikan dampak yang luas bagi perusahaan. Hal ini menjadi satu instrumen pendukung untuk mengantarkan Petrokimia Gresik sebagai market leader dan dominant player di sektor agroindustri Indonesia. Selain itu juga mendukung target pencapaian PROPER EMAS Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di tahun 2021. (*)