Kok Kebangeten, Teman Main Dijual ke Pria Hidung Belang

Reporter : Ali Ibrahim - klikjatim.com

RPR pelajar SMA yang nyambi jadi mucikari dan menjual teman sekolahnya ke pria hidung belang.

KLIKJATIM.Com | Malang – Sebenarnya antara RPR (16) dengan AE (15) ini adalah sahabat sepermainan dan satu sekolah. Namun selama pandemi, pertemanan itu berubah menjadi ajang bisnis, ketika AE yang bertubuh sintal ini dijual ke pria hidung belang untuk dijadikan  pemuas syahwat. Namun sepak terjang RPR menjual temannya untuk prostitusi melalui aplikasi online itu tercium polisi hingga akhirnya pelajar SMA ini harus meringkuk di tahanan Polres Malang. 

BACA JUGA :  Bagikan 1.000 Masker ke Pedagang Pasar di Jember

“Kegiatan prostitusi online yang dilakukan tersangka yang mempekerjakan wanita dibawah umur dilakukan 28 Januari 2021 di salah satu penginapan di Kepanjen,” kata Kapolres Malang AKBP Hendri Umar.

Dikatakan, Satreskrim Polres Malang membekuk tersangka saat sedang mengantarkan AE ke pelanggan berinisial F. “Pelaku ini tega menjual teman wanitanya AE (15) ke lelaki hidung belang. Pelaku ini merupakan siswa SMA di Kota Malang,” ungkapnya, Kamis (4/2).

Menurut Hendri, untuk motif yang dilakukan pelaku tersebut dengan melakukan open booking order (BO) yang memanfaatkan group Facebook Info Cewek Kota Malang sebagai tempat mencari mangsa.  “Pelaku mencari targetnya di Facebook untuk dieksploitasi lalu dijual kepada laki-laki dan mendapat keuntungan dari jasa tersebut,” jelasnya.

Dalam setiap postingan yang dilakukan oleh pelaku, lanjut Hendri, korbannya di-posting dengan sebesar Rp 700 ribu, uang tersebut diserahkan ke korban sebesar Rp 400 ribu, dan sisanya masuk ke kantong RPR sebagai komisi.

“Pelaku mengaku sudah melakukan perbuatannya sebanyak dua kali. Akibat perbuatannya pelaku dijerat dengan pasal berlapis salah satunya diancam dengan Pasal 83 juncto Pasal 76F UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan hukuman minimal 3 tahun penjara sampai 15 tahun penjara, dan denda paling banyak Rp 5 miliar,” jelasnya.

Selain itu, tambah Hendri RPR juga dijerat dengan Pasal 88 juncto Pasal 76I UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, dengan ancaman hukuman minimal 10 tahun penjara dan maksimal 15 tahun penjara, dan maksimal Rp 200 juta.

Serta Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang perdagangan orang. Dengan ancaman hukuman minimal 3 tahun dan maksimal 15 tahun penjara. Lalu, dengan denda Rp 120 juta sampai maksimal Rp 600 juta. “Pelaku ini bakal dijerat dengan pasal berlapis, dengan sanksi hukuman penjara minimal 3 tahun kurungan dan maksimal 15 tahun penjara, dengan denda Rp 120 juta sampai maksimal Rp 600 juta,” tutup AKBP Hendri. (hen)