Kisah Sedih TKW Asal Madiun di Malaysia, Dipukuli Majikan hingga Tak Dibayar Gajinya

Reporter : Fauzy Ahmad-klikjatim.com

Siti Sulikah akhirnya memutuskan pulang ke kampung halaman setelah setahun lebih bekerja sebagai ART di Malaysia.

KLIKJATIM.Com | Madiun—Seorang tenaga kerja wanita (TKW) asal Kabupaten Madiun selalu mendapatkan kekerasan saat bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di Malaysia. Bahkan, gaji setahun selama dia bekerja hanya dibayarkan dua bulan.

BACA JUGA :  Terapkan Inovasi IT Dalam Pendidikan, Surabaya Raih Penghargaan Ki Hajar 2019

TKW itu bernama Siti Sulikah. Perempuan 22 tahun asal Desa Nglanduk, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun itu akhirnya memilih pulang kampung. 26 Mei 2021 lalu dia sampai di kampung kelahirannya.

Perempuan berusia 22 tahun menderita selama bekerja satu tahun lebih di Malaysia. Kesedihannya makin bertambah lantaran gaji yang diterima tidak utuh dalam setahun.

“Cuma digaji dua bulan saja. Itu pun dipotong lebih dari setengahnya,” ujar Sulikah kepada wartawan, Senin (28/6/2021).

Dia mengaku, gaji selama dua bulan dikirimkan kepada ibunya di kampung halaman. Praktis, Sulikah pun tak pernah merasakan gajinya sendiri.

“Saya waktu daftar itu  dijanjikan dibayar Rp 3,8 juta perbulannya. Namun kenyataannya hanya menerima Rp 1,7 juta per bulan,” katanya. 

Rupanya, kata dia, bukan hanya gaji yang tidak sesuai ekspektasi. Dia bahkan menjadi sasaran amuk majikannya. Alat yang digunakan majikan untuk memukulnya beraneka ragam. 

“Saya pernah dipukul dengan  rotan, besi batangan, gagang sapu hingga membenturkan kepala saya ke tembok,” sambungnya. 

Akibat benturan dan pukulan dari sang majikan, badannya lebam hingga kepalanya berdarah. Hal itu terjadi setiap hari. Dia pun hanya bisa menangis 

“Kekerasan fisik itu juga dibarengi dengan jatah makan yang diberikan sangat minim. Cuma ada jatah segelas beras dan satu butir telur untuk kebutuhan makan dari pagi hingga malam,” terangnya. 

Menurutnya, jika dia ingin makan yang lain, majikannya mengancam akan memotong gajinya. Sulikah juga tidak dijinkan keluar dari rumah majikannya.

” Untuk buang sampah saja, majikan saya melarang. Bahkan saat majikan pergi, pintu pagar dikunci rapat-rapat,” ceritanya. 

Dia ingin menceritakan penderitaan yang dialaminya kepada keluarganya yang di Indonesia. Namun apa daya, satu-satunya handphone yang menjadi alat komunikasi sudah diminta agen saat ia tiba di Malaysia. 

Penderitaan Sulikah berakhir saat ia diminta mencuci mobil majikannya di halaman depan rumah. Saat itu seorang tetangga lewat lalu menanyakan kondisi Sulikah lantaran ia sering mendengar majikannya marah-marah.

 “Saya tidak kuat lagi. Jadi saya ceritakan semuanya kepada tetangga itu,” ungkap Sulikah.

Doa Sulikah untuk bisa segera keluar dari malapetaka pun terjawab. Tetangga yang menanyainya itu rupanya melaporkan ke Kepolisian Diraja Malaysia. 

“Tak lama kemudian, sejumlah petugas polisi Malaysia datang menjemputnya. Di depan polisi, saya cerita kekerasan selama di Malaysia,” tambahnya. 

Tak hanya itu, bekas luka akibat kekerasan majikannya juga difoto polisi setempat untuk menjadi barang bukti. Ia juga mendapatkan pengobatan dari dokter setempat yang dibawa polisi. 

“Saya habis diperiksa langsung dititipkan rumah perlindungan imigrasi, Tiga minggu berada di rumah imigrasi dibuatkan surat untuk kembali pulang ke tanah air,” terangnya 

Menurutnya, dia kemudian kembali ke tanah air pada Rabu, 26 Mei 2021 lalu. Tapi karena covid-19, dia harus menjalani karantina di Asrama Haji Sukolilo selama tiga hari.

“Baru dijemput dari Pemkab Madiun. Terus karantina di Kabupaten Madiun selama tiga hari. Setelah karantina selesai, Sulikah baru diperbolehkan pulang ke rumahnya,” bebernya. 

Namun, kisah sedihnya tak sampai disitu. Karena saat tiba di kampung halaman, rupanya sang ibu kandung sudah meninggal April 2021 lalu. 

Ia pun menjadi teringat dengan mimpi yang dialami saat masih dititipkan di Kantor Imigrasi Malaysia. “Saat itu saya mimpi ibu saya datang ke Malaysia dan mengajak pulang saya,” ujar Sulikah.

Dia mengaku menyesal berangkat ke Malaysia pada 2019 lalu. Sulikah terpaksa bekerja sebagai buruh migran karena kondisi ekonomi keluarganya yang kurang mampu.

“Ya waktu itu agen PMI datang ke rumah dan menawarkan pekerjaan di Malaysia sebagai asisten rumah tangga. Agen itu menjanjikan satu bulan ia mendapatkan gaji sekitar 1.110 ringgit atau sekitar Rp 3,8 juta,” ceritanya. 

Mendapatkan tawaran itu, Sulikah menyetujuinya. Seluruh dokumen diurus agen. Bahkan tahun kelaharinnya dituakan. Sesuai KTP, Sulikah kelahiran tahun 1.999. Namun di paspor kelahirannya diubah menjadi tahun 1997.

Setelah dokumen lengkap, Sulikah diberangkatkan dari Bandara Yogyakarta. Setibanya di Malaysia, Sulikah dijemput agen yang berada di negara tersebut. 

Semalam menginap di penampungan, pagi harinya Sulikah diantar ke rumah majikanya.

Sulikah tidak mengetahui pasti alamat tinggal majikannya tersebut. Ia hanya mengingat rumah majikannya berada di Jalan Ipoh. Sulikah pun juga tidak mengetahui nama majikan. Perempuan itu hanya mengingat wajah keras majikan perempuannya yang sering marah dan memukulnya.

“Saya tidak tahu namanya. Kalau majikan perempuan saya panggil madam dan laki-laki panggil bos. Kalau tiga anaknya itu saya panggil koko, cece, dan baby,’’ pungkasnya. (mkr)