Ketua DPRD Jatim Sayangkan Penolakan Kapal Pesiar Viking Sun Bersandar di Surabaya

Reporter : Redaksi - klikjatim

Kapal Pesiar. (Doc/ist)

KLIKJATIM.Com | Surabaya – Munculnya penolakan terhadap Kapal Pesiar Viking Sun yang mengangkut sekitar 1.300 turis mancanegara untuk bersandar di Surabaya disayangkan DPRD Jawa Timur. Sebab, kebijakan Wali Kota Surabaya melalui surat edarannya tersebut dinilai bisa mengganggu potensi minat wisata di Jatim.

“Apa alasannya dilarang, kan belum jelas wisatawan yang terkena corona. Ini namanya panik berlebihan dan ini jelas merugikan pariwisata di Jatim,” kata Ketua DPRD Jatim, Kusnadi saat dikonfirmasi di Surabaya, Jumat (6/3/2020).

Menurutnya, selama masih belum ada keterangan resmi dari pemerintah diharapkan tidak ada keputusan sepihak. Karena bisa malah membuat masyarakat resah terkait kabar virus corona atau Covid-19.

BACA JUGA :  Pengembang Berharap Pemerintah Perpanjang Stimulus PPN Properti

“Kalau keputusan pelarangan hanya bersumber ‘katanya’, berarti masih diduga dan belum pasti. Kalau begitu, kenapa dilarang untuk bersandar,” imbuhnya.

Lebih lanjut diungkapkan, saat ini sektor pariwisata Jawa Timur lesu karena isu Covid-19. Sedangkan kapal pesiar ini membawa ribuan wisatawan asing, yang diharapkan dapat memberikan kontribusi di sektor pariwisata.

Dia menambahkan, bahwa kapal pesiar ini ketika memasuki perairan Indonesia juga sudah menjalani pemeriksaan. Semua penumpang kapal diperiksa oleh pihak terkait dari pemerintah pusat.

BACA JUGA :  Disperindag Jatim Salurkan CSR Bahan Pembuat Kue ke Kampung Kue Surabaya

“Saya diberi tahu oleh bu Gubernur Khofifah, kalau kapal tersebut  sudah dilakukan pemeriksaan di NTT dan seluruh penumpangnya sehat. Kalau sudah ada pemeriksaan dan ternyata sehat semua, tentunya tak boleh ada larangan untuk memasuki kawasan perairan atau bersandar,” terang pria kelahiran Medan ini.

Artinya, keputusan pemerintah sudah membolehkan. Dengan demikian, seharusnya sudah tidak ada larangan lagi untuk bersandar.

“Kemunculan larangan karena takut penyebaran virus corona jelas berlebihan, dan ini yang membuat panik masyarakat,” tandas mantan dekan fakultas hukum di sebuah PTS di Surabaya tersebut. (tryk/roh)