Kepada Tuhan Saya Berdoa, Semoga Ada Bawean di Surga

Reporter : Redaksi - klikjatim

Catatan Dewi Musdalifah

Pegiat Literasi, Ketua MPI PDM Muhamadiyah Gresik

 

“Mas, saya baru tahu bahwa hidupmu itu kurang ajar, odik se baghus”

Kalimat itu saya lontarkan kepada mas Muslimun,
Ketua Majelis Pembinaan Kader PDM Kabupaten Gresik. Putra emas dari dusun Daun Timur, pulau Bawean.

Sebenarnya Tuhan sering mempertemukan saya dengan Mas Muslimun dalam beberapa momen, namun belum pernah ada dialog yang intens di antara kami. Sampai suatu hari, kami dipertemukan dalam perbincangan serius terkait pemberdayaan dan pemetaan potensi lokal di pulau Bawean tempat kelahiran mas Muslimun.

Kami sepakat melakukan sesuatu. Meski pun kecil, seperti membunyikan klakson, namun bisa membawa gaung. Berharap gaung, kemudian bersambut.

Saya pribadi merasa memiliki utang kepada kawan-kawan dari Bawean. Beberapa kali diajak berkunjung, justru seringkali tak berjodoh. Umumnya undangan datang dalam agenda kegiatan organisasi yang dipenuhi acara sambutan. Saya tidak membawa peran apa pun bilamana menghadiri undangan-undangan tersebut dan mereka di Bawean tidak memperoleh manfaat apa-apa. Inilah dasar alasan, mengapa sebelumnya saya selalu menolak undangan yang bersifat demikian.

Kali ini saya ingin datang memenuhi panggilan. Kami pilih jalan literasi untuk menumbuhkan pengetahuan di sana. Mas Muslimun bergerak cepat, menghubungi rekan-rekan organisasi di Bawean. Maka, tersusunlah dua agenda utama. Pertama, perjumpaan dengan para puan dan guru yang tergabung dalam organisasi masyarakat dengan tajuk materi *”Perempuan Dalam Versi Terbaiknya.”* Kedua, sharing marketing sekolah dengan para pemangku kebijakan di lingkungan lembaga pendidikan.

Sejak hari itu, mimpi membangkitkan penghuni pulau Bawean menjadi salah satu topik yang hampir setiap hari kami bincangkan. Mas Muslimun yang sejak lulus SMA sudah merintis jalan pertumbuhan di daerah masa lalunya, kini kembali memiliki harapan.

Sesungguhnya kemauan saya ke pulau Bawean bukan hanya lantaran agenda itu, tetapi juga hasrat mengenal lebih jauh sosok mas Muslimun. Pepatah mengatakan, _jika ingin mengetahui pribadi seseorang, maka bersafarlah dengannya dan kamu akan mengetahui sebenar-benar hidupnya.”_ Kami akhirnya berangkat menuju Bawean bersama rekan penulis Timur Budi Raja, serta istri dan kedua anak mas Muslimun.

Rencana kedatangan saya ke Bawean disambut oleh keinginan orang-orang baik yang menawarkan rumah tinggal sementara. Namun karena sejak awal tujuan saya ingin mengenal Mas Muslimun, maka saya pilih tinggal bersama keluarga besarnya.

Kami tiba di Bawean ketika matahari sepenggalah di langit mulai bergerak ke barat. Bangunan rumah luas dan sederhana menyambut kami. Penghuninya seorang perempuan berusia lebih setengah abad. Puan yang di wajahnya selalu tersungging senyum manis dan tulus, Lamatut Durru, ibunda dari mas Muslimun ini membuka pintu rumah lebar-lebar.

Kami dipersilakan memilih sendiri kamar yang mau ditempati, kamar-kamar yang sudah ditata rapi. Ruang tamunya digelari hambal panjang, beberapa makanan kecil di atasnya.

Emak Durru tinggal sendiri di rumah. Tentu saja beliau sangat gembira. Selain bersama kami, saya dan Timur Budi Raja, Mas Muslimun juga datang beserta keluarga kecilnya. Istri dan kedua anaknya yang sudah hampir delapan tahun tak pulang ke Bawean.

Setiap pagi dan petang, selalu ada satu mug kopi, ketela rebus dan makanan kecil lainnya. Emak Durru bahkan memesan ikan khusus dan memasaknya dengan berbagai macam masakan. Di rumah Mas Muslimun, rasanya berat badan kami semakin bertambah.

Meski pun bahasa Indonesia Emak terbata-bata, tapi kami lancar berkomunikasi. Kata dijabarkan dengan pelukan, tatap mata dan pijatan lembut. Kami selalu berbincang di _dhurung_, sebuah amben di depan rumah. Bahkan sarapan pagi, sering juga kami lakukan di _dhurung_. Pada malam hari, sanak family Mas Muslimun selalu ikut serta menemani percakapan. Mas Syamsuri namanya. Setiap obrolan dan kelakar kekonyolan kami, selalu didengarkannya dengan khusuk.

Mas Muslimun memiliki dua anak yang cerdas. Keduanya, Fidzah dan Alfath, memiliki tingkah laku yang kreatif dalam keseharian. Si Bungsu Alfath selalu aktif bermain dan bergerak dengan kecepatan seperti berlari. Alfath memiliki banyak pertanyaan dan pandai berdalih di setiap pembicaraan. Sementara Fidzah, kakaknya, adalah putri yang manis dan matang bersikap saat menghadapi hal baru.

Mas Muslimun dikelilingi orang baik. Setiap hari ada saja sanak saudara yang berkunjung dan menengok keberadaannya. Bertanya kabar, berbincang dan saling mendoakan.

Hari keempat kami di Bawean, kami disuguhi pengalaman menyaksikan Gili yang indah, saat mengunjungi salah satu pamannya. Tradisi penyambutan yang dilakukan _Obha’_ membuat saya tercengang.

Kami dijemput di bibir pulau, lalu beriringan menuju rumah _Obha’_. Di dalam rumah sudah terhampar makanan dan minuman berderet panjang, seperti menyambut tamu agung. Menurut Mas Muslimun, inilah tradisi di Gili. Siapa pun yang datang adalah kerabat atau saudara bagi mereka. Ikan kerapu, gurita besar, kakap, ikan biru, tengiri, dan ikan lain yang tak saya tahu namanya disajikan sebagai masakan yang siap santap. Dibakar dan digoreng dengan bumbu yang mengundang selera.

Suasana kekerabatan mengalir begitu bersahaja. Senyum tulus bertebaran di ruang tamu sore itu. _Obha’_ melatunkan doa keberkahan, sedang kami mengamininya dengan hikmat.

Perjumpaan yang tulus, senyum yang hangat dan pelukan, memberi penegasan bagi kami untuk mencatat keramahan yang kami dapati di pulau ini. Hingga kepulangan kami yang dilepas dengan airmata.

Di sinilah saya dan Timur Budi Raja menyadari, begitu penting peran Mas Muslimun di Bawean. Di bahunya, Bawean menitipkan begitu banyak harapan. Mas Muslimun membawa beban sebagai jembatan orang-orang membaca masa depan.

Keseimbangan antara memberi dan menerima, selanjutnya memberi kembali, merupakan tradisi yang hidup di pulau ini.

Sepulang dari Gili, kami lanjutkan perjalanan ke Noko, pulau kecil dengan air lautnya yang terhampar begitu jernih. Segala penat persoalan hidup di kota kami basuh di sana. Kami benamkan di pasirnya yang putih, kami larungkan segala yang buruk jauh ke laut lepas.

Mas Muslimun, alangkah indah hidupmu,…