Kemerdekaan dan Wawasan Kebangsaan

Reporter : Redaksi - klikjatim

Oleh :
A Fajar Yulianto, S.H., M.H., CTL.
(Sekretaris DPD LDII Kab. Gresik)

“Kami bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal Hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat singkatnya”

Kalimat Itu pertama kali bergaung ke public pada tanggal 17 Agustus 1945 di Kediaman Ir. Soekarno di jalan Pegangsaan Timur nomor 56 Jakarta, yang dihadiri oleh para Tokoh bangsa selain Ir Soekarno dan M. Hatta, juga hadir diantaranya Ki Hajar Dewantara, AA Maramis, Otto Iskandarninata, Sajoeti Melik, Abikoesno, KH. Mas Masyur, dan Moewardi dan masih banyak lagi.

Sebagai tonggak sejarah diawalinya Bangsa Indonesia mempuyai rasa ‘Kemerdekaan” yang dikenal dengan Teks Proklamasi dan secara rutin dibacakan pada jam 10.00 wib pada moment Upacara Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus setiap tahunya.

Bagi bangsa / Negara Indonesia sejak 17 Agustus 1945 sampai di tahun 2022 ini sudah 77 tahun setidaknya telah mendudukan kepala Negara 7 kader bangsa terbaiknya mulai Soekarno, Soeharto, Bj. Habibi, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarno Putri, Susilo Bambang Yudoyono dan Joko Widodo, dengan segala karakter gaya kepemimpinanya berikut dinamika berbangsa bernegara khususnya hubungan dengan luar negeri, Indonesia telah mampu menempatkan diri pada bangsa yang disegani dan dihormati di mata dunia.

Kemerdekaan berasal dari kata dasar “Merdeka” didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan Merdeka adalah bebas (dari hambatan, penjajahan dan sebagainya), tidak terkena tuntutan atau lepas dari tuntutan dan tidak bergantung kepada orang lain atau pihak tertentu.

Kembali pada teks Proklamasi yang dibaca setahun sekali dengan Upacara penuh kehikmatan saat hari Kemerdekaan RI pada setiap tahunya, janganlah sebagai bacaan rutinitas dan seremonial belaka, namun seyogyanya mampu termaknai dalam kehidupan warga negaranya secara individu, apakah kata Kemerdekaan selama 77 tahun ini sudah benar telah merasuk dalam darah daging bagi satu-satunya warga negara Indonesia, artinya nilai nilai merdeka itu sudah dapat dirasakan oleh setiap warga Negara dalam kondisi keberagaman dan kemajemukan, ?. hidup tidak merasa terjajah, hidup tidak merasa tertekan, hidup merasa telah terjamin atas hak hak sebagai warga Negara dan hidup telah merasakan berkemakmuran ?

Fakta masih banyaknya para Oknum Pejabat Negara yang melakukan perbuatan melawan hukum dengan berbuat korupsi uang Negara, menyalahgunakan kewenangan dalam jabatan, sehingga ancaman kerugian keuangan negara masih saja sulit dihindari, masih banyak masyarakat sulit mencari akses keadilan, Penegakan hukum yang masih dirasa tebang pilih hingga terdengar akhir akhir ini dengan kata kata “ No viral no proses, no viral no justice”, persoalan Penyalahgunakan Narkotika yang luar biasa meningkat dari data empiris di Pengadilan hal ini juga ancaman serius merusak generasi penerus bangsa dan inilah para orang tua juga merasa ketakutan tersendiri akan masa depan anak anaknya, belum lagi dampak pennggunaan teknologi elektronik juga sebagai ajang debat adu fitnah dan berita hoaks, juga ternyata disana sini masih ada perbuatan perbuatan Intoleran yang menyerang pada kelompok, golongan minoritas dalam menjalankan hak hak dasarnya salah satunya bebas dalam menjalankan / melaksanakan ibadah sesuai kepercayaan dan keyakinannya, masih ada terdengar pula saudara saudara penganut agama yang dianggap minoritas penganutnya kesulitan untuk membangun tempat ibadah karena terbentur syarat ketentuan Regulasi untuk itu, yang sebenarnya justru Regulasi itu membuka ruang bagi para intoleran melakukan penolakan terhadap kelompok minoritas tersebut.

Nah, jika demikian bagaimana warga dalam kondisi ini dapat melaksanakan kemerdekaanya tanpa ada tekanan, ketakutan dan bebas dari ancaman permusuhan yang justru datang dari sekelompok / golongan dari bangsa sendiri.
Jika masih ada perbuatan perbuatan sebagaimana tersebut, dampaknya jelas merugikan Negara dan potensi timbulnya perpecahan dalam tubuh bangsa ini, maka senyatanya bahwa belum dapat dikatakan merdeka seutuhnya karena ancaman, rongrongan justru lahir dari dalam diri bangsa sendiri.

Hal ini apa yang ditakutkan oleh Bung Karno sang Founding father bangsa “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuangmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”.

Maka oleh karenanya memburu makna Kemerdekaan seutuhnya dalam bingkai persatuan dan kesatuan, pemantapan dan mempertebal pemahamam nilai nilai luhur Pancasila yang didalamnya selalu menjunjung tinggi toleransi, rukun kompak selalu kerjasama yang baik, menghormati perbedaan, berikut UUD 1945 yang didalamnya adanya perlindungan hak hak warga negara, dan prinsip satu kata NKRI harga mati serta ber Bhineka Tunggal Ika sebagai perekat terakhir bangsa, hal ini merupakah 4 pilar yang harus ditegakkan, wajib di resapi, dihayati hingga dilaksanakan dalam kehidupan berbangsa dan berNegara.

Peran dan hadirnya Pemerintah sangat penting untuk melahirkan Kemerdekaan ini, sehingga satu satunya warga Negara akan benar benar merasakan kemerdekaan lahir batin hidup tenang, damai dan berkemakmuran ditanah bumi pertiwi Indonesia. (*)