Kemarau Panjang, Debit Air Menyusut hingga Bengawan Solo Mengering

Reporter : Koinul Mistono - klikjatim.com

Kondisi sungai Bengawan Solo di Lamongan terlihat mengering saat musim kemarau seperti sekarang. (Achmad Bisri/klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Lamongan – Akibat kemarau panjang, debit air di Sungai Bengawan Solo di wilayah Kabupaten Lamongan mulai menyusut. Bahkan, dari pantauan di lapangan kondisi sungai yang kerap menenggelamkan orang tersebut nampak mulai mengering.

 

Sebagian pasir yang berada di dasar sungai terlihat jelas.Karena saking dangkalnya, untuk menyeberang pun cukup dengan jalan kaki.

 

Dengan kondisi demikian, diperkirakan hanya mampu menyuplai kebutuhan air irigasi sampai bulan depan. “Jika tidak segera hujan dipastikan musim tanam pertama akan mundur dari prediksi,” ujar Kabid Pemeliharaan dan Operasional Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Sumber Daya Air Lamongan, Djadi, Rabu (2/10/2019).

 

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan di wilayah Lamongan baru akan terjadi awal November. “Kalau awal sudah hujan, maka pertengahan bulan itu petani sudah bisa melakukan tanam karena ketersediaan air cukup,” menurutnya.

 

Dia mengimbau, petani memperhatikan rencana tata tanam global (RTTG) yang diberikan DPU Sumberdaya Air Lamongan. “Supaya kebutuhan air di lapangan bisa dicukupi sesuai dengan permintaan,” tukasnya.

 

Sesuai pantauan terakhirnya, untuk persediaan air di Bendung Gerak Sembayat (BGS) tersisa hanya 3 juta meter kubik (M³). Lalu, di BG Babat 16 juta M³ dan BG Bojonegoro 11 juta M³.

BACA JUGA :  Banyuwangi Kerahkan 889 Personil untuk Penyekatan Larangan Mudik

 

Menurutnya, debit air tersebut hanya bisa digunakan sampai akhir Oktober. Artinya, jika tidak segera hujan akan berdampak kekeringan di Lamongan semakin meluas.

 

“Selama ini air Bengawan Solo sangat dibutuhkan saat kemarau, khususnya di wilayah sekitarnya. Kalau sampai habis, tentu wilayah itu akan mengalami kekeringan. Apalagi kondisi embung dan waduk juga sudah kering,” terangnya.

 

Walaupun begitu, Djadi mengklaim bahwa pertanian untuk sementara tidak terpengaruh. Karena sebagian petani di wilayah bantaran Bengawan Solo sudah panen, sehingga kebutuhan air untuk musim tanam sudah selesai.

 

Adapun kawasan yang selama ini bergantung dengan air Bengawan Solo cukup banyak. Di antaranya wilayah Kecamatan Babat, Sekaran, Maduran, Laren, Karanggeneng, Kalitengah, Karangbinangun, Turi, Glagah dan Deket.

 

“Semuanya sudah memasuki musim panen. Sehingga menurunnya debit air tidak terlalu berdampak,” klaimnya.

 

Sementara itu, Sekretaris Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Pemkab Lamongan, Anton Sujarwo menambahkan, jika mengacu sesuai RTTG, maka petani hanya bisa melakukan tanam sebanyak dua kali. Untuk sisanya adalah tanaman palawija.

 

Pasalnya ketersediaan air memang kurang saat musim kemarau. “Dua kali tanam padi sudah cukup untuk persediaan beras di Lamongan, karena selalu surplus hasilnya,” katanya. (bis/hen)