Kapal Cepat Penumpang Bawean-Gresik Tak Beroperasi Lagi

Reporter : Miftahul Faiz - klikjatim.com

KLIKJATIM.Com | Gresik – Penghentian penyebrangan kapal cepat penumpang Bawean resmi diperpanjang. Hal itu disampaikan Kadishub Gresik, Nanang Setiawan setelah rapat di Pemkab Gresik. Selasa, (21/4/2020).

Nanang Setiawan mengatakan, hasil rapat bersama Forkopimda Gresik menghasilkan keputusan rapat tentang penyebarangan Gresik-Bawean jalur laut hanya kapal ASDP Ferry Gili Iyang dan perahu pengantar logistik.

“Keputusan ini melanjutkan yang kemarin dinonaktifkan kapal cepat penumpang selama 14 hari, yang berakhir hari ini diperpanjang lagi tidak boleh jalan, tapi jalur udara masih jalan,” katanya kepada klikjatim.com, Selasa (21/4/2020).

Menurut Nanang, kalau mengacu pada pembatasan sosial berskala besar (PSBB) akan diperpanjang selama 14 hari lagi. “Diperpanjang 14 hari lagi, dan akan kita evaluasi lagi,” ujarnya.

Penumpang yang boleh berlayar mengikuti kapal Giliyang  juga dibatasi dengan ketentuan protokol yang ada. “Orang sakit, tugas negara, dan kepetingan tertentu, dengan membawa surat keterangan sehat dari puskesmas setempat,” tambahnya.

BACA JUGA :  Pemuda Kediri Babak Belur Usai Maling CD dan Bra di Nganjuk

Terkait orang yang masih terdampar di Gresik dan ingin pulang, lanjut Nanang, pihaknya akan berkoordinasi dengan muspika dua Kecamatan di Pulau itu.

“Kalau pihak dari Bawean memberikan perizinan kepada warganya yang ada di Gresik dengan memberikan surat keterangan (Suket) sehat akan kami usahakan bisa layar, atau mendapatkan subsidi dari Pemerintah, karena masih dikoordinasikan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua pergerakan mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bawean M Asep Maulidi  melayangkan surat ke Bupati Gresik dan tembusan ke Dishub Gresik tentang perpanjangan masa penonaktifkan dua kapal penumpang itu.

BACA JUGA :  Area Tambak di Lamongan Jadi Lokasi Favorit Nyabu

“Ada hal yang mengganjal bagi kami semua ketika transportasi dan pengoperasian kapal cepat akan dibuka kembali. Mengingat Gresik merupakan zona merah dan peningkatan kasus Covid-19 cukup singnifikan untuk Jawa Timur, serta mengacu pada rapat koordinasi Pemda tentang pemberlakuan PSBB yang meliputi Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik. Inilah yang melatar belakangi kami sebagai mahasiswa yang menyoroti kebijakan terkait penutupan akses jalur transportasi yang sudah dilakukan dari tanggal 07 April 2020 – 22 April 2020 untuk memperpanjang penutupan tersebut guna mengurangi penyebaran virus covid-19,” paparnya secara terlulis kepada klikjatim.com.

Hal yang terakhir yang menjadi sorotan mahasiswa adalah tidak adanya SOP yang dijadikan panduan kelayakan untuk penanganan pandemi yang menjadikan kebimbangan ketika kapal dioperasionalkan kembali. “Maka kami menuntut Pemda Gresik memperpanjang penutupan akses dan pengoprasian kapal cepat sampai batas waktu yang tidak ditentukan, mengacu pada surat Dishub Nomor: 552/189/437.55/2020 tanggal 06 April 2020,” tandasnya.

Dan untuk penumpang yang tertahan, lanjut Asep, pihaknya mendesak Pemkab menyediakan tempat karantina yang sesuai SOP, serta menjamin kehidupannya selama berada di tempat karantina.

“Mengatur ulang tentang syarat dan ketentuan penumpang dengan kondisi tertentu yakni, pasien rujukan dari Bawean-Gresik, penumpang dalam kondisi tertentu harus menyertakan surat keterangan sehat dan surat hasil rapid tes. Menugaskan Dokter spesialis dan menambah jumlah APD, obat-obatan, masker medis dan vitamin untuk rumah sakit di Bawean. Serta  mempercepat penyerahan bantuan sosial berupa sembako, BLT, masker baik dari Pemda, pemkab maupun desa,” pungkasnya. (bro)