Jayus Hariono Ajak Aremania Peduli Tenaga Kesehatan

Reporter : Agus Riyanto - klikjatim.com

KLIKJATIM.Com | Malang – Tingginya pasien covid-19 di Jawa Tiur, terutama di Malang menjadi keprihatinan tersendiri bagi sejumlah kalangan. Termasuk kalangan pemain sepak bola Arema FC yang ingin berbagi alat pelindung diri (APD) bagi tenaga kesehatan. Langkah ini ebagai salah satu bentuk kepedulian kepada Tenaga Kesehatan yang menangani pasien covid-19 (virus corona).

BACA JUGA :  Sembilan Begal dan Penadah Digulung Reskrim Polresta Sidoarjo

Seperti yang dilakukan gelandang Arema FC, Jayus Hariono saat mendatangi RSUD Kanjuruhan untuk menyumbangkan APD Dokjreng FC. Sebelumnya, komunitas pesepak bola Malang Raya menggelar lelang jersey di akun Instagram mereka, @dokjrengfc. Jayus pun menyumbangkan salah satu jersey miliknya untuk dilelang, dan laku Rp1,1 juta, yang digabung dengan hasil lelang jersey lainnya untuk disumbangkan.

Dokjreng FC menyerahkan paket bantuan berupa empat kardus susu dan dua kardus snack. Bantuan itu diserahkan Jayus bersama Yanuar Tri Firmanda dan Edy Gunawan, dan diterima langsung oleh Wakil Direktur Bidang Administrasi dan Keuangan, dr Benediktus Setyo Untoro.

“Kita semua harus bisa menghargai perjuangan tenaga kesehatan. Mereka sudah banyak berkorban dalam perjuangan menghadapi virus corona ini. Masyarakat harus bisa sama-sama menjaga kesehatan. Kalau tidak ada keperluan mendesak, sebaiknya tidak usah keluar rumah,” kata Jayus.

BACA JUGA :  Tidak Mudik Lebaran Adalah Pilihan Tepat dan Bijak

Dalam kesempatan itu, Jayus Hariono mengajak Aremania menghargai tenaga kesehatan. Sebab, dia sudah merasakan sendiri bagaimana menjadi nakes yang mengenakan APD. Ketika mengenakan APD berupa hazmat suit, baru bbeerapa menit memakainya, pemilik jersey bernomor punggung 14 itu mengaku sudah gerah dan sesak.

“Dengan mengenakan langsung APD ini, saya bisa membayangkan beratnya perjuangan tenaga kesehatan yang harus mengenakan hazmat suit selama tujuh sampai delapan jam nonstop. Saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Selain gerah, mengenakan APD ini sulit mau beraktivitas sulit, mau makan susah, minum susah, buang air susah. Apalagi, mereka harus fokus merawat pasien, di sisi lain kepikiran keluarga,” tegasnya. (hen)