HUT PG Ke-48, Perkuat Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi

Reporter : Redaksi - klikjatim

Catatan Aries Wahyudianto

HINGGA kini pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda apalagi berakhir. Selain krisis kesehatan global dan krisis ekonomi, salahsatu kekhawatiran banyak pihak adalah krisis pangan. Bagi Indonesia yang berpenduduk 267 juta jiwa, soal kebutuhan pangan menjadi problem utama yang harus diselesaikan pada masa-masa krisis seperti saat ini.

Lantas siapakah yang harus bertanggungjawab atas pemenuhan kebutuhan pangan nasional tersebut. Tentu sangat tidak bijak membebankan hal tersebut kepada pemerintah semata. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) merilis dengan luas panen besar 8,99 juta hektare (ha), produksi selama Januari-September 2019 lalu, diperkirakan mencapai 46,9 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara dengan 26,91 juta ton beras. Adapun untuk konsumsi, selama periode ini diperkirakan jumlahnya mencapai 22,28 juta ton.

Upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan juga sudah dirancang dengan membuka food estate di Kalimantan Tengah yang baru saja diresmikan Presiden Jokowi, Kamis (8/7/2020). Upaya ini patut didukung karena penguatan ketahan pangan merupakan cara untuk menghindari krisis pangan global yang sudah diramalkan oleh Food Agriculuter Association (FAO) atau organisasi pangan dunia, jika pandemi Covid tidak berakhir.

Upaya lain digagas Kemendes PDTT yang mengajukan intensifikasi 1,8 juta hektare lahan pertanian yang di 3,2 juta hektare kawasan transmigrasi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Untuk tahap pertama, ada 509.000 hektare lahan yang telah dinyatakan siap dan memenuhi syarat pelaksanaan intensifikasi lahan pertanian.

Pola intensifikasi sawah transmigrasi itu minimal ada lima hal yang mempengaruhi. Syarat itu meliputi ketersediaan lahan, tenaga kerja, rice milling unit dan irigasi, bibit unggul dan pupuk, serta off take.

Dan yang tidak kalah pentingnya dalam mendukung ketahanan pangan adalah ketersediaan pupuk oleh industri pupuk nasional. Sebagai industri strategis, peran PT Petrokimia Gresik holding PT Pupuk Indonesia, ketersediaan pupuk dalam memenuhi kebutuhan petani cukup penting. Meski dihadapkan pada pasokan energi yang kadang kurang, namun pabrikan pupuk BUMN ini terus berkomitmen untuk menghadirkan pupuk di tengah-tengah para petani.

Ketersediaan pupuk, khususnya bersubsidi menjadi angin sejuk bagi ribuan petani yang menggarap tanaman pangan. Sehingga, sudah sewajarnya jika pemerintah menyediakan energi demi kelangsung produksi pupuk dalam negeri. Bahkan, kebijakan subsidi pupuk yang selama ini sudah diberikan harus terus ditingkatkan dengan harapan akan menggeliatkan sektor pertanian.

Persoalan lain yang muncul adalah keterbatasan anggaran pemerintah dalam memenuhi pupuk bersubsidi. Sebagai pelaksana tugas negara menyediakan pupuk, PT Petrokimia Gresik tetap berusaha memenuhi kebutuhan petani. Meski alokasi sudah ditentukan melalui Rencana Detail Kebutuhan Kelompok (RDKK), namun pada prinsip PT Petrokimia Gresik siap menambah produksi jika diperintahkan oleh negara.

Saat ini PT Petrokimia Gresik memproduksi dan memasarkan pupuk urea, ZA, SP-36/18, Phonska, DAP, NPK, ZK, serta pupuk organik. Produksi pupuk yang beragam ini menjadi jawaban bahwa ketahanan pangan bisa diperkuat dengan menjaga industri hulu penopang produksi tanaman pangan.

Petrokimia memiliki peran signifikan dalam mewujudkan kedaulatan pangan khususnya dengan produksi pupuk yang berperan dalam meningkatkan produktivitas pertanian. Bersama Kementerian Pertanian dan lembaga terkait, PT Petrokimia Gresik tidak henti membuka sawah baru, demplot percobaan dan edukasi pemupukan berimbang. Ini semata dilakukan untuk menjaga produksi pangan agar sesuai yang ditargetkan pemerintah.

PT Petrokimia Gresik bukan saja mampu menjadi penopang utama untuk mewujudkan kedaulatan pangan nasional, tetapi juga mampu berbicara banyak di pasaran pupuk di level dunia. Instruksi Menteri BUMN agar BUMN bidang pangan selalu mempertahankan ketersediaan stok pangan dan bahan pokok, serta menjaga penyalurannya selama pandemi Covid-19 senantiasa dilaksanakan oleh Petrokimia Gresik.

Setidaknya itu direalisasikan dengan menggelar demplot padi hingga berhasil memanen padi dengan produksi diatas rata-rata. Ii adalah salah satu bukti bahwa upaya pemenuhan stok pangan nasional, khususnya beras, tetap berjalan meskipun Indonesia tengah menghadapi wabah penyakit.

Direksi dan jajaran Perokimia Gresik meyakini langkah strategis dalam memenuhi kebutuhan pupuk nasional semata untuk melindungi sekaligus memperkuat optimisme para petani. Sehingga, masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan atas ketersediaan pangan nasional.

Pola pemupukan berimbang, pemilihan varietas padi unggulan seperti Inpari 32 dengan dosis pemupukan berimbang rekomendasi Petrokimia Gresik kini menjadi resep di kalangan para petani untuk mempertahankan produksi padinya. Apalagi kini juga dikenalkan pemupukan yang memadukan aplikasi pupuk organik dan anorganik.

Pemupukan berimbang ini sangat penting, karena masing-masing memiliki perannya. Pupuk organik untuk memperbaiki kondisi tanah dan pupuk anorganik untuk pemenuhan unsur hara tanah. Petrokimia Gresik juga membantu petani dalam penyediaan benih padi unggul dan bersertifikat dengan merintis sistem kemitraan produsen benih sejak 2011.

BUMN Pupuk Solusi Agroindustri ini juga membentuk Brigade Hama dengan melibatkan anak perusahaan, PT Petrosida Gresik dan PT Petrokimia Kayaku. Tugas mereka adalah mengawal pengendalian hama dan penyakit tanaman kemudian memberikan rekomendasri produk pestisida yang tepat pada lahan GP3K.

Tanggungjawab yang kian besar menuntut Petrokimia Gresik untuk terus berbenah dan memperkuat diri. Ini agar seluruh aspek kegiatan operasional perusahaan berjalan sesuai aturan, Petrokimia Gresik selalu berpegang teguh pada peraturan yang berlaku. Dan pada akhirnya, secara bersama-sama dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan di tengah ancaman pandemi Covid-19 ini bisa tercapai. Selamat Ulang Tahun PT Petrokimia Gresik Ke-48, 10  Juli 2020. (*)