Gresik Ekspor 1.000 Ton Kacang Hijau ke Filipina *Tahap Awal Berangkatkan 75 Ton Dalam 3 Kontainer

Reporter : Koinul Mistono - klikjatim.com

Dirut PT Agrotani Sukses Sejahtera, Sumanto (dari kanan) bersama Wabup Gresik, Aminatun Habibah didampingi Kadistan Gresik, Eko Anindito Putro dan Anggota DPRD Gresik, Hamzah Takim mengecek kondisi kacang hijau sebelum dikirim ke Filipina. (Koinul Mistono/klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Gresik – Kabar baik bagi para petani kacang hijau Indonesia, khususnya di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Pasalnya di tengah pandemi Covid-19 yang rata-rata semua sektor sedang terdampak, namun untuk kacang hijau tetap menjadi salah satu andalan tanaman pangan di pasar ekspor.

BACA JUGA :  Gubernur Khofifah Datangi Tiga Sekolah di Nganjuk, Pastikan Pembelajaran Tatap Muka Sesuai Protokol Covid-19

Bahkan dibandingkan tahun kemarin, saat ini harga penjualan pada 2021 cenderung lebih bagus. Jika sebelumnya per kilogramnya antara Rp 11.500 sampai Rp 13.500, kini naik menjadi Rp 14 ribu per kilogram.

“Untuk sementara di tahun 2021, kami sudah ada kerjasama (ekspor) ke Filipina total 1.000 ton. Dan hari ini masih kami berangkatkan yang pertama sebanyak 3 kontainer atau sekitar 75 ton,” papar Direktur Utama (Dirut) PT Agrotani Sukses Sejahtera, Sumanto di sela agenda pemberangkatan secara simbolis oleh Wakil Bupati (Wabup) Gresik, Aminatun Habibah dan Anggota Komisi II DPRD Gresik, Hamzah Takim dari gudang yang beralamat di Jalan Raya Metatu, Kecamatan Benjeng, Gresik, Sabtu (5/6/2021).

Total kerjasama pengiriman kacang hijau ke Filipina saat ini adalah 1.000 ton atau sebanyak 40 kontainer. Pengiriman dilakukan bertahap yang diperkirakan berlangsung selama satu bulan.

Wabup Gresik Aminatun Habibah bersama Sumanto, Bos Hasil Tani Sejahtera dan Hamzah Takim dari DPRD Gredik

Menurutnya, permintaan di pasar ekspor ini sebenarnya cukup tinggi. Yaitu bisa antara 3 ribu hingga 4.500 ton. “Selain ke Filipina, juga ada rencana ke Tiongkok dan Taiwan. Tapi prinsip kami dalam melakukan ekspor, setelah kebutuhan di dalam negeri terpenuhi lebih dulu,” lanjutnya.

Manto, sapaannya menjelaskan, alasan negara lain tertarik dengan kacang hijau dari Indonesia karena memiliki kualitas bagus. Khususnya dari para petani di Jawa Timur (Jatim), salah satunya adalah Gresik.

“Jadi kacang hijau kita itu warnanya butek (buram) dan ukuran bijinya besar-besar. Nah, kualitas seperti itulah yang diminta (pasar ekspor),” paparnya.

Pengusaha eksportir ini berharap, kondisi pasar yang sedang bagus seperti sekarang harus bisa menjadi peluang bagi para petani. Terutama di Kabupaten Gresik.

“Sebagian kami menyerap dari petani di Gresik. Karena ada beberapa wilayah yang mempunyai potensi besar terkait tanaman kacang hijau ini, yaitu di antaranya Kecamatan Benjeng, Kedamean, Balongpanggang, Bungah dan Panceng. Potensi Gresik ini sangat bagus, karena tanahnya di sini merupakan tadah hujan,” terang pengusaha yang sudah melakukan ekspor sejak tahun 2017 tersebut.

Lanjut Manto, pihaknya pun berani membeli kacang hijau dari petani tersebut dengan harga Rp 14 ribu per kilogram, ketika harga pasaran sedang turun. Dan, apabila harga di pasaran ada kenaikan maka tetap akan mengikuti sesuai harga pasar. “Tidak apa-apa saya beli Rp 14 ribu (per kg), asalkan kualitasnya tetap bagus sesuai dengan permintaan,” imbuhnya.

Sementara itu Wabup Gresik, Aminatun Habibah menyambut baik terhadap peluang pasar bagi para petani kacang hijau di daerah setempat. Artinya, para petani tidak perlu susah-susah untuk mencari pembeli lagi.

“Apalagi tadi disampaikan, PT Agrotani Sukses Sejahtera akan membeli kacang hijau petani dengan harga Rp 14 ribu ketika harga pasar sedang turun. Dan, akan tetap mengikuti harga pasar ketika ada kenaikan,” urainya.

Dengan adanya tawaran harga yang stabil, tentu akan menjadi daya tarik dan langkah awal untuk kesejahteraan petani. Pihaknya juga optimis, bahwa produktivitas petani di sektor tanaman pangan kacang hijau akan meningkat.

“Hasil panen kita saat ini rata-rata 1,4 ton per hektar dan akan terus digenjot hingga 2 ton per hektarnya. Dan luas lahan di Gresik yang bisa ditanami sekitar 1.100 hektar lebih,” ungkapnya, yang juga diamini oleh Kepala Dinas Pertanian (Kadistan) Gresik, Eko Anindito Putro.

Adapun upaya yang bisa dilakukan untuk mendorong produktivitas petani, Pemkab Gresik akan gencar sosialisasi dan melakukan pendampingan. Selain itu, juga akan kerjasama dengan Balai Penelitian Tanaman Kacang dan Umbi (Balitkabi) terkait penentuan jenis bibit yang bagus.

Selanjutnya, Anggota DPRD Gresik, Hamzah Takim mengaku sangat mendukung segala upaya pemerintah demi kesejahteraan petani. Termasuk salah satu masalah yang harus segera tertangani adalah pemberantasan hama tikus.

“Karena permasalahan hama ini menjadi salah satu kendala tersendiri bagi petani,” tandas Hamzah yang juga menjabat Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan Gresik tersebut. (nul)