Gelapkan Uang Nasabah, Laporan Kasus Karyawan BRILink Bawean Sudah 8 Bulan di Polisi

Reporter : Miftahul Faiz - klikjatim.com

Kantor BRILink Cabang Bawean di Jalan Raya Desa Pudakit Barat, Sangkapura. (Faiz/klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Gresik — Kasus dugaan penggelapan uang saldo BRILink Cabang Bawean yang dilakukan oleh oknum karyawannya terus berlanjut. Terhitung sudah berjalan 8 bulan, kasus ini dalam tahap penyidikan Polres Gresik.

BACA JUGA :  Bangunan Hampir Ambrol, Kantor Guru dan Ruang TU SMPN 2 Sambit Ponorogo Gagal Dibangun

Korban yang merupakan Agen BRILink (e-Link ) cabang Bawean ini adalah Ramadlan fikri (25), warga Dusun Barat Sungai, Desa Kotakusuma. Dalam kasusnya ini, dia berharap pihak kepolisian segera menuntaskannya.

“Sekarang sudah dilimpahkan ke Polres Gresik dalam tahap penyidikan. Tapi belum ada kejelasan tentang pemeriksaan kepada pelaku,” ungkap Ramadlan, Minggu (19/9/2021).

Sebelumnya, terlapor yang diduga pelaku adalah berinisial L. Ia merupakan warga Dusun Seramba, Desa Kebuntelukdalam, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean. Polisi juga sudah melakukan pemeriksaan terhadap L saat masih ditangani Polsek Sangkapura.

Kanit Pidek Polres Gresik, Ipda Joko Supriyanto saat dikonfirmasi membenarkan bahwa kasus ini memang sudah naik ke tahap penyidikan. Dalam waktu dekat akan dilakukan gelar perkara.

“Sudah tahap penyidikan, dalam waktu dekat akan segera kami naikkan ke gelar perkara,” kata Joko melalui sambungan selulernya.

Perlu diketahui, kasus ini terjadi akhir bulan Januari. Saat itu korban menanyakan kepada L selaku karyawan BRI Link Cabang Bawean, untuk mengembalikan modal yang belum dipertanggungjawabkan di Kantor Bri Link Desa Pudakit Barat.

Peristiwa ini diketahui korban Fikri saat melakukan cek saldo di mesin ATM. Ternyata ada transaksi gelap alias uang saldo yang semula modal keseluruhan ada Rp 97 juta, akhirnya tersisa hanya 2 jutaan rupiah.

L beralasan ada perampokan di kantor BRI Link Jalan Raya Desa Pudakit Barat. Bahkan, ia juga sempat pingsan.

Kemudian korban minta tolong karyawan lain untuk melakukan pengecekan. Alhasil, hanya menemukan sisa uang di tempat penyimpanan atau laci kantor sebesar Rp 8 juta.

Selanjutnya, korban mendapatkan titik terang setelah ada audit internal. Dari hasil pengecekan melalui print rekening koran milik korban, memang ada transaksi (uang keluar) yang tidak merasa dilakukan oleh korban.

Ketika ditelusuri, diduga kuat telah dilakukan oleh L. “Bukan hanya itu, informasi dari pelanggan yang namanya Intan asal Dusun Padeleman, Desa Lebak, mengaku sebelum kejadian pelaku meminjam uang Rp 5 juta kepada Intan. Padahal Standard Operating Procedure (SOP) kerja tidak memperbolehkan utang atau memberi utang terhadap orang selain staf BRILink (e-link ),” papar Fikri.

“Setelah saya cek semua mutasi atau print rekening koran ada sekitar 10 kali transaksi saldo keluar dengan rata-rata Rp 10 juta sampai Rp 30 juta,” tambah Fikri.

Atas kejadian itu, korban merasa mengalami kerugian sekitar Rp 90 juta. Dan korban mengaku sempat ada mediasi saat melaporkan kasus ini di Mapolsek Sangkapura. Namun, L hanya menyanggupi pengembalian Rp 30 juta.

Dalam kasus ini, L bisa terancam sesuai Pasal 372/378 KUHP tentang penggelapan. (nul)