Evaluasi PSBB, Surabaya Kurang Greget Dibanding Sidoarjo dan Gresik

Reporter : Redaksi - klikjatim

Evaluasi PSBB Surabaya Raya dipimpin Wagub Emil Dardak dan Ketua Rumpun Gugus Tugas Covis dr Joni Wahyuhadi (dua dari kanan)

KLIKJATIM.Com | Surabaya – Masin tinggi angka pasien positif covid dan masifnya penyebaran virus menjadi catatan dalam penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) Kota Surabaya. Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Jawa Timur menilai, Surabaya harus mencontoh Sidoarjo dan Gresik yang lebih baik dalam hal menurunkan jumlah pasien maupun angka kematian.

BACA JUGA :  Banjir Tahunan, Mantan Wakil Ketua DPRD Gresik : Penanganan Sudah Menjadi Keharusan

“Selama 8 hari pelaksanaan PSBB, dibanding Sidoarjo dan Gresik, tren pasien terkonfirmasi positif di Surabaya masih terus naik. Ini yang harus menjadi catatan. Sekali lagi ini evaluasi berdasarkan kajian ilmiah bukan politis,” kata Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Penangan Covid-19 Jatim dr Joni Wahyuhadi saat jumpa pers dengan Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Kamis (7/5/2020).

Dikatakan, penambahan positif setiap hari masih naik day by day (hari per hari). PDP (pasien dalam pengawasan) naik, terkonfirmasi positif naik. Sehingga perlu gerakan upaya agresif di Surabaya. Covid-19 di Surabaya sangat infeksius, sangat menular. Hasil evaluasi dari kasus konfirmasi di tiga daerah masih naik terus. Surabaya yang paling tinggi diikuti Kabupaten Sidoarjo dan Gresik.

“PDP pasien dirawat untuk Surabaya, Sidoarjo dan Gresik sudah mulai turun. Trennya di Sidoarjo dan Gresik menggemberikan, cuman trennya masih kalah dengan juaranya Surabaya yang trennya masih naik. Ini masih perlu fokus pasien perlu perawatan,” tuturnya.

BACA JUGA :  Direktur Operasi dan Produksi Petrokimia Gresik dinobatkan Sebagai The Best Chief Marketing Officer

Ditambahkan, di Gresik dan Sidoarjo pasien dalam perawatan (PDP) turun dan orang dalam pemantauan (ODP) naik. Sehingga bisa diartikan pemantauan yang dilakukan kedua daerah itu cukup bagus. “Di Surabaya terbalik. ODP turun, hasil kegiatannya turun, PDP-nya naik, konfirmasinya naik. Jadi perlu upaya yang lebih agresif lagi di Surabaya,” tegasnya.

Angka kematian karena Virus Corona di tiga daerah yang menerapkan PSBB juga masih tinggi. “Kematian memang ekstrem di Surabaya, naiknya paling tinggi diikuti Sidoarjo dan Gresik. Kematian sama-sama naik ini menjadi perhatian kita semua. Konfirmasinya naik semua, kematiannya naik semua, PDP-nya dua kota (Sidoarjo dan Gresik) sudah flat atau bahkan menurun. Ini artinya grafik penularannya (di Surabaya) sangat tinggi,” papar dr Joni.

Ia juga menyebut, kasus di Sidoarjo dan Gresik memang lebih sedikit dibandingkan dengan Surabaya. Upaya di kedua daerah tersebut lebih berhasil dibandingkan dengan Surabaya. “Surabaya naiknya tinggi. Upayanya harus lebih tinggi dibandingkan dengan Sidoarjo. Mohon maaf ini kajian ilmiah dan tidak ada kaitannya dengan politis,” pungkas dr Joni. (hen)