Enam Aktivis di Gresik Sempat Diamankan Saat Iring-iring Presiden, Kini Sudah Dibebaskan

Reporter : Miftahul Faiz - klikjatim.com

Pengamanan jalur yang dilalui Presiden Joko Widodo

KLIKJATIM.Com | Gresik — Enam aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Gresik diamankan. Kejadian itu berlangsung saat kunjungan Presiden RI Joko Widodo di acara peletakan batu pertama atau groundbreaking pembangunan smelter milik PT Freeport Indonesia di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) Gresik.

BACA JUGA :  Sambil Gelar Vaksinasi, Golkar Surabaya Bagikan Sembako dari Ketum Airlangga Hartarto

Sekitar pukul 08.00 WIB masa aksi berasal Aliansi Rakyat Gresik yang terdiri dari PC PMII Gresik dan Pemprof Gresik  berkumpul di Peganden Manyar. Mereka langsung didatangi aparat kepolisian.

“Pihak aparat mengintimidasi kawan kami Azka untuk membeberkan lokasi kawan kawan yang lain. namun kawan Azka mengabaikannya,” ungkap Ilham Arbiansyah Koordinator lapangan (Korlap) aksi.

Hingga akhirnya ada beberapa masa aksi yang tidak terdeteksi aparat keamanan sampai ke titik aksi di Depan Lapangan Manyar 500 meter dari kawasan JIIPE.

“Sekitar pukul 11.34 WIB rombongan Presiden datang, kawan masa aksi membentangkan poster untuk Presiden Jokowi dengan tulisan Merespon Kedatangan Rezim Fasis Jokowi atas Ketidakbecusan dalam Menangani Masalah Rakyat,” jelasnya.

Diantara isi poster itu, berikan ganti untung dan jaminan kesejahteraan rakyat terdampak, serta hentikan perampasan tanah yang dilakukan oleh proyek JIIPE. Hentikan PHK sepihak, dan pekerjakan kembali buruh yang di PHK, serta jamin kesejahteraan bagi seluruh buruh PT. Smelting. Cabut UU no 11 tahun 2020 tentang cipta kerja. Cabut Perpres 86 tahun 2018 reforma agraria palsu Jokowi dan Hentikan hutang luar negeri. 

Nah,  ketika massa aksi membentangkan poster sekitar pukul 11.36 WIB aparat kemanan langsung menghampiri masa aksi dan beberapa masa aksi diringkus dan diinterogasi ke dalam warung, dan poster tuntutan disita.

“Ada satu pukulan di kepala kepada kawan kami Azka, dan enam kawan kami diringkus polisi. Setelah itu enam kawan kami diangkut ke mobil dan dibawa ke salah satu cafe daerah kawasan industri Gresik (KIG),” papar Ilham.

Sekitar pukul 16.15 WIB, massa aksi  dibebaskan setelah ada negoisasi panjang.

“Intimindasi, pembungkaman serta pembubaran yang berujung penangkapan  massa aksi, membuktikan fasisnya rezim Jokowi-MA. Padahal, sudah jelas aksi ini diperbolehkan sesuai UUD 1945 pasal 28 yakni kebebasan berpendapat dimuka umum,” pungkas Ilham.

Sementara itu, Kapolsek Manyar AKP Windu Priyo Prayitno membantah adanya penangkapan itu. Anggotanya tidak ada yang melakukan penangkapan apalagi intumidasi. 

“Tidak ada penangkapan di Polsek Manyar,” jawabnya via pesan singkat. (bro)