Dituding Setengah Hati, Proyek Fasum di Wisata Gili Noko Terabaikan

Reporter : Miftahul Faiz - klikjatim.com

Kondisi Fasum kamar mandi di Gili Noko Pulau Bawean (Afys For klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Gresik — Proyek pembangunan fasum enam kamar mandi di salah satu icon wisata Pulau Bawean Gili Noko terabaikan. Pasalnya saat wisatawan datang ke lokasi, kondisi bangunan itu sangat memprihatinkan.

BACA JUGA :  Menteri BUMN Erick Tohir Apresiasi Langkah Petrokimia Gresik Aktifkan Pabrik Oksigen Bantu Penanganan Covid-19

Hal tersebut disampaikan oleh salah satu wisatawan Akhmad Fatah Yasin bersama rombongan berwisata ke lokasi.

“Sangat memprihatinkan. Proyek setengah hati di Pulau Noko,” ungkapnya saat di lokasi, Jumat (22/10/2021).

Menurut pria kelahiran Desa Tambak Pulau Bawean itu, berdasarkan informasi warga setempat toilet tidak berfungsi sejak dibangun.

“Disamping itu tidak ada airnya. Ada bangunan sumur dan tandon air tidak berfungsi sama sekali,” keluhnya.

Tampak ada tulisan Maaf WC Buntu, pihaknya sangat menyayangkan bangunan proyek fasum untuk wisatawan di Gili Noko ini. Ada sumur tapi  tidak  disiapkan perawatan ( treatment Red). Di dalam tiket  hanya di semen  plester dengan finishing cat yang sudah pudar dan  tak pernah difungsikan.

“Bangunan toilet hanya ada bata tanpa plaster itu , hanya disemen sekedarnya, lapisan temboknya pun mulai berguguran, pintunya toilet atau kamar mandi copot semua hanya ada pipa tidak ada kran, semua ruang toilet dipenuhi sampah plastik botol,” terangnya saat dilkokasi.

“Begitu juga wastafel, semuanya sudah berkarat karena  juga tidak  berfungsi. Tak ada air dan pemilihan materialnya kurang pas. Daerah tepi laut seharusnya memakai material wastafel berbahan stainles atau keramik lebih pas,” tambah pria Owner Imajiner Arsitek itu.

Afys sapaan akrabnya menilai, apakah layak proyek seperti ini, kamar mandi biasanya dengan lapisan tembok keramik ini hanya cat saja. Diatas bangunan langsung tembus atap tanpa plafon. Toilet tidak ada penanda untuk perempuan dan laki-laki.

“Apakah planingnya ngawur, atau anggarannya kurang,” tandasnya.

Menanggapi hal tersebut anggota komisi III (Bidang Pembangunan) dapil Bawean Lutfi Dhawam menjelaskan, proyek yang dibangun sejak 2018 itu sudah sesuai dengan rencana anggaran biaya (RAB) yang menelan anggaran Rp 200 juta dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD)

“Itu proyek tahun 2018 sebelum saya menjabat, dan sampai saat ini masih oleh Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum belum diserahkan ke pihak Dinas Pariwisata dan Kebudayaan atau Pokdarwis Desa,”ungkapnya melalui sambungan selulernya.

Lantas bagaiamana untuk selanjutnya, apa akan ada perbaikan, Dhawam menjelaskan pada tahun 2022 sudah tidak anggaran untuk proyek itu. Dirinya menceritakan, awal pembangunan ada sebagian orang sebagai pengelola dan penjaga disana.

“Namun untuk saat ini belum tau apakah tetap ada atau tidak,” ujarnya. (bro)