Diduga Dampak Proyek Pembangunan, Rumah Warga di Surabaya Rusak

Reporter : Ahmad Hilmi Nidhomudin - klikjatim.com

Tembok retak diduga akibat dampak proyek. (Ist)

KLIKJATIM.Com | Surabaya – Warga Kejawan Putih Tambak, Mulyorejo, Surabaya mengeluh atas pembangunan gedung apartemen diduga milik Pakuwon City. Pasalnya, warga merasa pembangunan gedung itu sudah merugikan. Seperti rumah serta jalan sekitar pemukiman warga rusak.

BACA JUGA :  Hari Ini, Guru SD dan SMP di Surabaya Diwajibkan Masuk

Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Anggota Komisi C Bidang Pembangunan DPRD Kota Surabaya, Agoeng Prasodjo. Menurutnya, ada rumah warga yang retak diduga akibat pembangunan tower baru.

“Kalau itu memang rumah warga, itu ada yang retak akibat pembangunan tower, berarti ada yang salah dengan pembangunan itu,” kata Agoeng, Selasa (12/10/2021).

Untuk membantu menyelesaikan permasalahan warga ini, lanjut Agoeng, Komisi C akan melihat terlebih dahulu perizinan dari bangunan. Selain itu, pihaknya berencana akan meninjau lokasi.

“Kita lihat dulu bagaimana bangunannya, kita lihat dulu di lapangan bagaimana, dan nanti kalau ada rapat kita undang,” terangnya.

Sementara itu salah seorang warga, Chusnul Yakin menjelaskan, bahwa kemungkinan besar pembangunan ini kelanjutan dari proyek gedung pertama yang sudah berdiri. “Informasinya, memang ini setelah pembangunan gedung (apartemen), yang ini (pertama) ada kesinambungan bikin apartemen yang kedua,” kata Chusnul.

Dia juga mengatakan, sebelum pembangunan gedung yang kedua, warga juga memprotes pembangunan gedung yang pertama. Hanya saja, pihak pengembang memberikan kompensasi ke warga sesuai radius atau jarak rumah dengan lokasi pembangunan.

“Untuk yang apartemen pertama ini juga ada dampak warga sekitar. Diberi kompensasi penempatan ring 1, 2, dan 3. Rumah ini masuk ring 3 mendapat kompensasi sebesar Rp1 juta per empat bulan,” jelasnya.

Dia mengatakan, kerusakan pada materiil rumahnya terjadi saat pemasangan tiang pancang tower sekitar 2-3 bulan belakangan ini.

Hal tersebut dikarenakan pembangunan tower kedua ini memiliki jarak yang berdampingan dengan rumahnya. Sehingga semakin berdampak terhadap rumahnya.

“Pemasangan tiang pancang kurang lebih 2-3 bulan. Kerusakan pembangunan kedua termasuk MCK, selokan terus keramik retak,” terangnya.

Selain itu, Chusnul juga mengatakan, pembangunan tower kedua sempat didemo oleh warga lantaran pengerjaan pembangunan sempat dilakukan selama dua puluh empat jam. Namun setelah didemo, pengerjaan proyek dilakukan hanya sampai pukul 21.00 WIB.

M. Romli yang juga warga sekitar mengatakan, akibat adanya pembangunan itu selain mengalami keretakan bangunan, juga sempat mengalami shock lantaran diduga ada paku bumi yang jatuh hingga menyebabkan dirinya lari keluar rumah untuk menyelamatkan diri. “Kan seperti gempa, kalau masang tiang pancang itu, seperti ada gempa,” pungkasnya. (nul)