Desa Mangrove Ujung Pangkah Binaan PGN Saka Terpilih Sebagai Lokasi Sekolah Lapang Cuaca BMKG

Reporter : Much Taufiqurachman Wahyudi - klikjatim.com

Pembukaan kegiatan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) Operasional Jawa Timur serta Penanaman Simbolis Bibit Mangrove di lokasi ekowisata mangrove Desa Banyuurip Kecamatan Ujung Pangkah, Kabupaten Gresik

KLIKJATIM.Com | Gresik – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Provinsi Jawa Timur melaksanakan kegiatan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) Operasional Jawa Timur serta Penanaman Simbolis Bibit Mangrove Senin (5/4/2021). Kegiatan itu dilaksanakan di di lokasi ekowisata mangrove Desa Banyuurip yang selama ini menjadi desa binaan PGN Saka.  

BACA JUGA :  Tahun ini Ada 2.000 Penerima Bantuan Sosial BPNT Gresik Yang Dicoret

 

Kegiatan dihadiri oleh Kepala BMKG Pusat Dwikorita Karnawati. Menurut Dwikorita kegiatan SLCN merupakan pembekalan informasi dan pengetahuan terkait cuaca kepada nelayan. Kegiatan ini disampaikan  melalui presentasi narasumber oleh BMKG. Kemudian praktek pemanfaatan website yang memudahkan nelayan untuk mengetahui update kondisi terkini cuaca dan kemaritiman dari berbagai titik.

 

“Tujuan dari Sekolah Lapang Cuaca Nelayan ini adalah untuk memberikan pengetahuan kepada nelayan tentang cuaca dan kemaritiman”. Tuturnya.

 

Selain kegiatan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) juga dilaksanakan kegiatan penanaman bibit mangrove secara simbolis di lokasi pembibitan mangrove Kelompok Pelestari Mangrove dan Lingkungan (KPMLB) Desa Banyuurip. Penyerahan  dilakkuan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati ke  Kepala Dinas Perikanan serta perwakilan dari Pemerintah Kabupaten Gresik.

 

Hal yang menarik perlu disampaikan terpilihnya Desa Banyuurip sebagai lokasi kegiatan yang dilaksanakan oleh BMKG Jatim yang dihadiri oleh Kepala BMKG Pusat adalah keberadaan pusat pembibitan tanaman mangrove. Selama ini pusat pembibatan menjadi pendampingan program CSR PGN SAKA di wilayah Banyuurip.

Kepala BMKG Pusat Dwikorita Karnawati, dalam kata sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan SLCN merupakan pembekalan informasi dan pengetahuan terkait cuaca kepada nelayan

Menurut Abdul Mughni, Ketua Kelompok Pelestari Mangrove dan Lingkungan Banyuurip (KPMLB) melalui pendampingan yang intens dari PGN SAKA kelompok lingkungan dari nelayan difasilitasi untuk belajar budidaya mangrove dan konservasi lingkungan pesisir. “Sehingga kami saat ini mempunyai pusat pembibitan mangrove, dapat melakukan konservasi pesisir dan edukasi tentang mangrove. Itulah kenapa Nelayan Banyuurip ditunjuk sebagai tuan rumah acara,” kata Abdul Muhgni. 

 

Dijelaskan, keberadaan pusat pembibitan mangrove Banyuurip ada sejak tahun 2014 dikarenakan adanya kesadaran akan pentingnya konservasi mangrove untuk menahan proses abrasi pantai.  “..Gagasan untuk pengembangan konservasi mangrove dimulai dari permasalahan sejak tahun 2007 adanya abrasi di pesisir Desa Banyuurip sekitar 300 meter. Selain itu, daerah ini merupakan lokasi aktivitas nelayan yang tergolong gersang dan kumuh,” jelas Ketua Kelompok Pelestari Mangrove dan Lingkungan Banyuurip (KPMLB).

 

 

Ditambahkan, dampak yang dirasakan saat ini, lingkungan nelayan yang dulunya kumuh sekarang menjadi lokasi ekowisata, abrasi semakin berkurang dan nelayan juga mendapatkan tangkapan kepiting yang lebih besar dari sebelumnya. “Kami mulai awal melakukan pembibitan sampai dengan berhasil membuat biodiversity mangrove di lokasi pembibitan tidak lepas dari pihak PGN SAKA,” pungkas Mughni.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Provinsi Jawa Timur melaksanakan kegiatan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) Operasional Jawa Timur serta Penanaman Simbolis Bibit Mangrove di lokasi ekowisata mangrove Desa Banyuurip

 

Sementara itu Endro Probo, Penanggungjawab CSR PGN SAKA, menjelaskan, secara umum mangrove merupakan salah satu tumbuhan yang mampu menyerap karbon dalam jumlah yang besar. Sehingga semakin lestari kawasan mangrove akan berpengaruh terhadap iklim di darat dan laut.

Dikatakan, dengan adanya kegiatan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan dan Penanaman Bibit Mangrove yang dilaksanakan BMKG di Banyuurip menunjukkan pengakuan dari pihak luar atas keberadaan pusat pembibitan mangrove di Banyuurip dan PGN SAKA. Untuk itu PGN Saka  senantiasa berkomitmen memberikan dampak positif kepada masyarakat sekitar melalui program lingkungan, harapannya seluruh elemen masyarakat khususnya nelayan bisa memahami pentingnya menjaga lingkungan.

 

“Harapan ke depan agar seluruh nelayan bersama-sama menjaga mangrove karena mangrove juga menjadi salah satu yang berpengaruh terhadap kondisi cuaca dan iklim,” ujar Endro. (ris)