Dari Empat Unit, Hanya Dua Sistem Alarm Tanggap Bencana yang Aktif di Tulungagung

Reporter : Iman - klikjatim.com

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Tulungagung, Dedi Eka Purnama saat melakukan pemeriksaan EWS. (Iman/klikjatim.com)

KLIKJATIM.Com | Tulungagung – Potensi gelombang tinggi dan tsunami di pesisir laut jawa yang disampaikan oleh BMKG menjadi perhatian masyarakat pesisir Pulau Jawa, termasuk juga warga Tulungagung yang tinggal di pesisir pantai berbatasan dengan laut jawa. Sebab banyak pantai yang ada di Tulungagung dan berbatasan dengan laut jawa dihuni masyarakat selama bertahun tahun.

BACA JUGA :  Dari Surabaya Hilal Juga Belum Tampak, Ramadan Digenapkan 30 Hari

Kondisi inilah yang mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah Provinsi dan Pemkab Tulungagung. Terbaru, sesuai dengan perintah Gubernur Provinsi Jawa Timur, Pemkab Tulungagung melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah diperintahkan melakukan pemeriksaan rutin sarana prasarana tanggap bencana yang dimiliki.

Salah satunya adalah memastikan Early Warning System (EWS) agar berfungsi dengan baik. Kini BPBD Tulungagung pun masih memiliki dua buah EWS yang terpasang di pantai Gemah dan Sidem dan keduanya berfungsi dengan baik.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Tulungagung, Dedi Eka Purnama mengatakan, awalnya ada empat unit EWS sistem suar yang terpasang di pantai Gemah, Sidem, Sine dan Bayeman. Namun tinggal dua yang berfungsi dengan baik.

Alat berupa sirine tersebut akan menyala ketika pihaknya menerima status potensi adanya tsunami oleh BMKG, pasca gempa yang terjadi. “Jadi pasca gempa itu BMKG kan mengeluarkan status dan ada tau tidaknya potensi tsunami. Nah, ketika ada status potensi tsunami maka kita akan menerima pemberitahuan itu dan terhubung dengan EWS di dua lokasi itu,” jelasnya.

Dedi menjelaskan, sistem EWS tersebut terhubung langsung dengan smartphone milik penanggung jawab EWS di masing-masing lokasi dan juga terhubung dengan kantor BPBD Kabupaten Tulungagung. Letak EWS yang tinggi hingga 10 meter memungkinkan suara yang dihasilkan oleh sirine tersebut bisa mencapai pantai-pantai lain di sekitar pantai Gemah dan pantai Sidem.

“Yang di Gemah itu bisa terdengar sampai pantai Klatak dan Bayeman, yang ada di pantai Sidem itu bisa terdengar sampai Popoh dan Niyama,” ucapnya.

Lebih lanjut dikatakan, tahun ini pihaknya juga tengah berupaya mengusulkan penambahan satu unit EWS yang akan dipasang di pantai Sine. “Kita pilih pantai Sine salah satunya karena pantai Sine kan banyak penduduknya,” pungkas Dedi. (nul)